Rahim Nayra Untuk Naura

Rahim Nayra Untuk Naura
Bab #46 - Dua Pria Di Cinta Yang Sama


__ADS_3

Sejak kecil, Nayra selalu terlihat lebih kuat dari Naura, ia juga lebih pendiam bahkan saat sakit atau ada masalah. Nayra menyimpan dan menghadapinya sendiri.


Sedangkan Naura selalu merengek manja pada orang tuanya, bahkan jika ada yang mengganggunya sedikit saja saat di sekolah atau di tempat bermain, dia akan selalu mengadu dan berkeluh kesah sehingga Naura selalu mendapatkan perhatian dari orang tuanya sejak kecil.


Saat Naura sakit, dia juga selalu mengeluh sehingga orang tuanya pun tahu bahwa anak itu membutuhkan perhatian mereka. Sangat berbeda dengan Nayra yang terbiasa menyimpan semuanya sendiri, sehinga mereka tak tahu bahkan lupa bahwa terkadang Nayra juga butuh perhatian dan pembelaan dari kedua orang tuanya.


Dan kini mereka semua berada di puncak, Nayra di puncak rasa sakitnya yang tak bisa ia tahan sendiri. Dan kedua orang tuanya berada di puncak penyesalan, berada di situasi di mana mereka baru melihat kembali ke belakang.


Bu Irna pun baru menyadari, bahwa kasih sayang yang ia berikan pada si kembar terlalu jauh perbedaannya. Ia selalu merasa Naura jauh lebih butuh dukungan, perhatian dan pembelaannya dari pada Nayra. Sebab Naura memperlihatkan lukanya, berbanding terbalik dengan Nayra yang menyimpan lukanya.


...******...


"Tuan Raka?" Raka yang saat ini sedang sibuk membaca email yang masuk harus terganggu saat mendengar suara Bi Siti .


"Masuk!" teriak Raka dari dalam ruang kerjanya.


Pintu terbuka menampilkan Bi Siti yang tersenyum tipis. "Ada apa, Bi?" tanya Raka tanpa mendongak.


"Di luar ada tamu, Tuan," jawab Bi Siti sambil memperhatikan wajah Raka yang benar-benar pucat.


Hari sudah sore, bahkan sebentar lagi gelap dan sampai detik ini Raka masih tak memakan apapun.


"Bilang aja aku lagi sibuk, Bi, suruh dia menemuiku besok," ujar Raka tanpa mau tahu siapa yang datang.


Sibuk?


Sebagai pimpinan perusahaan tentu saja Raka selalu sibuk, tetapi untuk saat ini sebenarnya dia tidak fokus melakukan apapun. Oleh karena itu ia hanya membuka ribuan email yang masuk.


Raka juga tak lagi ingin mencari Nayra, dia ingin menyerah setelah ia menemukat note yang dari Bian yang disimpan oleh Nayra.


Raka akan belajar ikhlas meski rasanya begitu sulit, ia sudah berjanji takkan mengganggu Nayra lagi meski rasanya begitu sakit jauh darinya.


"Tapi katanya penting, Tuan," ujar Bi Siti.

__ADS_1


Raka langsung menatapnya dengan tajam. "Aku nggak perduli kecuali ada nyawa yang perlu aku selamatkan," desis Raka.


Nyaliku Bi Siti jadi menciut. "Ba-baik, Tuan," ucapnya kemudian.


Ia pun segera turun untuk mengabarkan pada tamu yang sedang menunggu di bawah, bahwa Raka tak bisa ditemui.


Raka membuang napas kasar, ia menekan pangkal hidungnya dengan keras.


Tak berselang lama, ponselnya berdering. Raka ingin mengabaikan telfon itu tapi saat ia tahu itu dari sang ibu, ia pun segera menjawabnya.


"Ada apa, Ma?" tanya Raka.


"Mama di kantor, Raka, kamu di mana?" tanya sang ibu dari seberang telfon.


"Aku lagi di rumah, hari ini aku nggak ke kantor."


"Kenapa? Kamu sakit? Apa Nayra yang sakit? Mama ke rumah sekarang."


"Nggak usah, Ma, besok aja," tolak Raka. Saat ini ia benar-benar tak ingin menemui siapapun.


"Pokoknya Mama mau ke rumah sekarang. Dan tolong tanyakan ke Nayra apa dia mau Mama belikan sesuatu?"


"Dia__" Ucapan Raka terhenti saat pintu ruang kerjanya di buka paksa dari luar.


Ia melotot terkejut melihat siapa yang berani menganggunya. "Bian?" desis Raka.


"Bian? Maksudnya?" tanya Bu Mita yang terdengar bingung.


"Nanti aku telfon, Ma," ujar Raka setelah itu ia memutuskan sambungan telfonnya tanpa mau mendengar apa kata sang ibu.


Sementara Bian tampak tegang dan sorot matanya terlihat begitu tajam pada pria itu. "Jadi kamu yang datang, berani sekali!" geram Raka.


Amarah dan cemburu kini kembali meluap dalam jiwanya, tetapi Raka mencoba menahan diri mengingat posisinya memang salah di sini, mengingat bahwa Nayra memang milik Bian.

__ADS_1


"Pengecut!" seru Bian bahkan dia langsung menyerang Raka hingga pria itu terjatuh.


"Apa-apaan ini?" Raka berteriak kesal dan mencoba melawan Bian.


Namun, pria itu seperti singa yang lapar dan ingin menerkam mangsanya.


BUGGGHHH


Satu pukulan keras mendarat di tulang pipi Raka hingga membuat pria itu mengerang kesakitan, kepalanya langsung berdenyut dan pandangannya langsung buram.


Kali ini Raka tak mau tinggal diam, dia memberikan tonjokan keras di bawah dagu Bian hingga wanita itu terjungkal.


"Kamu mau mati, huh!" teriak Raka penuh emosi. Dia sudah melangkah hendak menyerang Bian lagi tetapi mantan tunangan Nayra itu menendang perut Raka dengan keras hingga Raka terpukul mundur.


Tak menyia-nyiakan kesempatan itu, Bian kembali melayangkan tinjunya ke rahang Raka. Dan tentu Raka membalasnya, ia memukul rahang Bian dengan sikunya cukup keras.


Pergelutan itu sungguh terjadi, keduanya saling menyerang tanpa ada yang mau mengalah.


Yeah, Raka tak lagi ingin mengalah seperti dulu karena kini ia merasa telah merelakan Nayra pergi untuk Bian.


Suara perkelahian dua pria itu menarik perhatian Bi Jum dan Bi Siti, kedua wanita paruh baya itu langsung naik ke atas dengan membawa panci dan wajan.


"HENTIKAN!!!"


Kedua pelayan Raka berteriak dengan kompak sambil mengangkat senjata mereka masing-masing.


Raka dan Bian menghentikan aksi mereka, Bi Siti menarik Bian dan Bi Jum menarik Raka menjauh.


"Ya Tuhan, Tuan Raka...." Bi Jum dan Bi Siti meringis melihat Raka dan Bian sudah babak belur bahkan mulut mereka sampai berdarah.


"Panggil polisi dan jebloskan pria gila ini ke penjara!" desis Raka penuh amarah.


"Aku bahkan ingin menjeblokanmu ke dasar neraka, sialan!" geram Bian. "Beraninya kamu merebut cinta Nayra dariku! Beraninya kamu membuat dia jatuh cinta padamu!"

__ADS_1


__ADS_2