
Seorang wanita akan merasa istimewa saat memiliki pasangan yang memperlakukan nya dengan sangat layak, memperlakukan nya seolah pria itu sangat membutuhkan kehadiran nya.
Sementara kesempurnaan wanita akan terasa saat ia telah menjadi ibu, sebab perjalanan untuk menjemput status mulia itu sangatlah tidak mudah.
Penuh perjuangan, bukan hanya dengan keringat dan air mata. Namun, juga dengan darah bahkan taruhan nyawa.
Sebelum nya, Nayra hanya mendengar hal itu dari sang ibu, mendiang Nenek atau berapa orang yang telah melahirkan. Namun, sekarang ia merasakan perjuangan itu. Perjuangan yang seolah akan mencabut nyawa nya di detik tertentu.
Namun, perjuangan yang penuh air mata itu akan terbayar dengan sangat setimpal dengan kehadiran sang buah hati.
"Sekarang kamu bisa menebus dosamu itu, Nay."
"Jadi istri Raka sampai kamu hamil dan melahirkan!"
"Selamat atas kehamilan mu, Naura."
"Terima kasih, Sayang, terima kasih banyak. Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu."
"Sayang ...."
"Nayra?"
"She will be fine, Sir. Don't worry, she's just tired."
Napas Nayra terasa berat, dada nya pun terasa begitu sesak. Ia berusaha membuka mata nya saat mendengar suara Raka yang terdengar sangat jauh.
"Sayang?"
Kening Nayra berkerut, ia meringis dan air mata mengalir begitu saja dari sudut mata nya.
"Tidak apa-apa, kamu memenangkan pertarungan nya."
Perlahan, Nayra membuka mata. Hal pertama yang ia lihat hanya lah ruangan yang serba putih.
Apakah diri nya sudah mati setelah berjuang melahirkan anak nya tadi?
__ADS_1
"Sayang?" Nayra merasakan ada yang menyentuh tangan nya, ia pun menoleh dan air mata kembali tumpah saat ia menatap sang suami.
"Raka?" lirih nya dengan suara yang hampir tak terdengar oleh diri nya sendiri.
"Aku di sini, Sayang." Raka tersenyum, ia menggenggam tangan Nayra, mengecup nya dengan lembut.
"Raka, anak kita?" Nayra menunduk, menatap perut nya yang kini sudah rata.
"Dia sedang tidur," jawab Raka sembari menyeka air mata Nayra.
"Apa yang terjadi?" tanya Nayra, suara nya bergetar. Ia sungguh tidak tahu apa yang terjadi. Yang Nayra ingat adalah saat dia mengejang sekuat tenaga, ia merasakan segala rasa sakit yang seolah mencabut tulang-tulang nya dari tubuh nya. Namun, Nayra sempat mendengar suara tangisan bayi sebelum ia kehilangan kesadaran nya.
"Kamu pingsan," kata Raka dengan lembut yang membuat Nayra shock.
"Anak ku?" Nayra langsung beranjak duduk tetapi Raka kembali membaringkan istri nya itu dengan pelan.
"Sudah aku bilang, dia sedang tidur, Sayang," kata Raka dengan lembut. "Kamu kelelahan, akhirnya kamu pingsan dan ini sudah tiga jam." Suara Raka bergetar, bahkan ia tak sanggup lagi membendung air mata yang sejak tadi ia tahan.
Sementara Nayra tampak bingung melihat sang suami yang kini menangis. "Ada apa, Sayang?" tanya Nayra sembari mengusap pipi Raka dengan lembut.
"Kamu ... hiks, kamu pingsan lama banget, aku takut," lirih Raka dan kini air mata pria itu semakin deras. "Aku pikir kamu nggak bangun, tiga jam lebih kamu pingsan, Nayra!"
Nayra yang sudah tak sanggup menahan segala rasa sakit saat melahirkan, serta rasa lelah setelah beberapa jam ia berjuang untuk melahirkan akhirnya jatuh pingsan bersamaan dengan keluar nya anak mereka.
Raka sangat bahagia saat melihat anak pertama nya, seorang putra yang sangat tampan. Namun, melihat Nayra yang tak sadarkan diri membuat Raka langsung diliputi rasa cemas dan takut yang berlebihan.
Raka selalu ingat dengan apa yang sering Nayra katakan, dia akan pergi setelah melahirkan anak Raka. Kata-kata itu terus menghantui Raka setiap detik nya selama menunggu sang istri sadar dari pingsan nya.
"Aku di sini sekarang, aku baik-baik saja," ucap Nayra.
"Aku hampir menangis tadi, Nay," ujar Raka sambil mengusap air mata nya yang masih mengalir.
"Dan sekarang kamu sudah menangis," kekeh Nayra yang kini justru juga menangis.
Ia terharu, tak menyangka akan berada di posisi ini. Di cintai dengan begitu luar biasa dan di karuniai seorang anak.
__ADS_1
"A-anak kita ... apakah Alvaro atau Aletha?" tanya Nayra sambil tertawa kecil di sela tangis nya. "Aku bahkan nggak tahu apakah anak ku laki-laki atau perempuan."
Raka ikut tertawa kecil. "Pangeran, Sayang, kita di karuniai putra mahkota."
"Aku ingin melihat nya sekarang," seru Nayra dengan semangat. "Ya Tuhan, dia pasti sangat tampan," gumam nya.
"Setampan ayah nya," sahut Raka dan Nayra mengangguk setuju.
Raka memanggil suster agar mengantar mereka ke ruangan putra mereka yang memang di tempatkan di ruangan yang berbeda, sebab tadi Nayra masih tak bisa menjaga nya sementara Raka juga tampak tak bisa melakukan itu.
Nayra tak bisa membendung air mata haru nya saat ia melihat sosok malaikat kecil yang tampak begitu mungil dan tampan.
"Astaga, dia seperti malaikat," gumam Nayra.
"Dia sangat tampan, kan? Sudah aku bilang," kata Raka kemudian ia mengecup kening Nayra beberapa kali. "Dia seperti bercahaya, Sayang."
"Benar," sahut Nayra. "Cahaya nya sangat terang dan hangat." Nayra tertawa bahagia sekaligus juga menangis haru, perasaan nya sungguh bercampur menjadi satu satu sekarang.
Namun, tiba-tiba wajah Nayra tampak tegang saat ia mengingat mimpi nya tadi.
"Raka?" panggil nya. "Tadi aku bermimpi." Nayra mendongak guna menatap mata sang suami.
"Mimpi apa?" Raka bertanya dengan sangat lembut, apalagi sorot mata Nayra yang berubah.
Nayra terdiam sejenak, mengingat kembali mimpi nya saat ia pingsan tadi. "Mimpi apa, Sayang?" tanya Raka mendesak.
"Apakah aku melahirkan hanya untuk menebus dosa ku pada Naura?" pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Nayra.
Kilas masa lalu kembali hadir dalam ingatan Nayra, perjanjian nya dengan Naura dan bagaimana orang mengucapkan selamat atas kehamilan Naura.
"Hey ...." Raka langsung berlutut di depan istri nya yang masih duduk di kursi roda. Ia menangkup pipi Nayra, memaksa sang istri menatap mata nya. "Kamu melahirkan karena memang Tuhan yang memilih mu menjadi ibu dari anak ku, Sayang, bukan untuk menebus dosa," tegas Raka penuh penekanan.
"Ini bukan lagi tentang perjanjian mu dan Naura, sekarang ini tentang kamu, suami kamu dan anak kamu."
Nayra terdiam sejenak, ia menatap mata Raka yang juga menatap nya dengan dalam. Setelah itu ia juga menatap bayi yang sedang tertidur itu.
__ADS_1
Ingatan Nayra berputar pada kecelakaan di malam itu, kecelakaan yang merenggut hidup Naura.
"Aku ingin menghubungi Naura."