
Naura langsung terdiam saat tiba-tiba dari cermin dia melihat Nayra berdiri di belakangnya.
Nayra pun tampak terkejut bahkan ia hanya bisa mematung saat menyadari wanita yang berdiri di depan nya adalah Naura.
Naura langsung berbalik badan, sorot mata wanita itu tampak begitu tajam membuat Nayra merasa takut. Entah kenapa dia merasa terancam saat Naura mendekati nya, hingga secara spontan Nayra melangkah mundur.
"Bagaiamana kabar kamu, Dek?" tanya Naura sambil tersenyum miring, senyum yang tampak begitu menyeramkan di mata Nayra. "Sudah bahagia bersama Raka?"
Nayra hanya bisa menelan ludah, lidah nya terasa kelu. Ia tidak tahu harus mengatakan apa pada kakak nya itu. "Kalian akan menikah? Aku turut bahagia," oceh Naura.
Bibir nya mengatakan dia turut bahagia, tetapi tatapan mata wanita itu jelas menunjukan yang sebalik nya. "Bagaiamana bisa kamu melakukan semua ini sama aku, Nay? Apa kamu bisa hidup bersama pria yang aku cintai? Apa kamu nyaman tidur dalam pelukan pria yang aku cintai?"
Mata Naura sudah berkaca-kaca, amarah, cemburu, penyesalan bahkan rasa bersalah menjadi satu dalam jiwanya. Apalagi ketika dia melihat perut Nayra yang kini mulai terlihat buncit, dada Naura bergemuruh.
"Aku juga nggak mau kaya gini, Ra," ucap Nayra akhir nya dengan suara yang gemetar.
"Munafik banget kamu, Nay," cibir Naura. "Kamu pasti sangat menikmati ada di pelukan Raka, kan?" sinis nya.
"Kamu sendiri bagaimana?" balas Nayra sembari menyeka air mata yang kembali tumpah. "Menikmati pelukan Bian, hem? Jangan lupa kalau kamu sendiri yang mengkhianati Raka, Ra, kaku sengaja tidur sama Bian tanpa kepentingan apapun."
Naura terhenyak mendengar apa yang di katakan oleh adik nya itu, ia kembali teringat dengan malam yang ia habiskan bersama Bian. "Bisa kamu menikmati pelukan Bian sedangkan saat itu Bian tidak tahu bahwa kamu itu bukan aku? Bisa kamu mendessah di bawah Bian sedangkan kamu masih istri Raka saat itu? Kamu melakukan nya dengan sengaja, Ra, untuk melampiaskan rasa cemburu kamu sama aku, kamu menjebak Bian sampai dia mau bercinta sama kamu."
Nuara seperti di hantam ribuan batu saat Nayra kembali mengingatkan apa yang telah dia lakukan dahulu, bahkan wanita itu hanya bisa membisu dengan hati yang kembali bergemuruh.
__ADS_1
Sedangkan Nayra kini kembali menitikkan air matanya, ia tak bermaksud mengungkit kembali apa yang Naura lakukan tetapi ia tak bisa menahan diri saat kakak nya itu terus mendesak, memojokkan bahkan mencibir nya tanpa henti seolah dia lah yang salah.
"Apa benar yang kamu katakan itu, Nayra?"
Si kembar langsung menoleh saat mendengar suara itu, suara Raka yang entah sejak kapan sudah berdiri di ambang pintu masuk.
"Raka?" gumam Naura.
Raka melangkah pelan mendekati si kembar yang tampak sangat terkejut melihat kedatangan Raka. "Apa benar kamu pernah tidur dengan Bian saat kamu masih menjadi istri ku, Ra?" tanya Raka sekali lagi.
Naura tak berani menjawab, ia hanya bisa menggigit bibir nya bahkan air mata kini telah membanjiri pipi nya.
Raka tersenyum miring, bahkan ia mulai tertawa getir kemudian berkata, "Terima kasih, Ra, setidaknya kamu memberikan satu alasan lagi supaya aku tidak perlu merasa bersalah karena telah menceraikan mu."
"Aku tidak selingkuh, Raka!" Naura mendesis tajam.
"Kamu juga tidur dengan Nayra," balas Naura dengan lantang.
"Bukannya itu yang kamu mau?" sinis Raka.
Naura sudah membuka mulut hendak membantah, tetapi ia kembali menutup mulutnya rapat-rapat saat ia tak bisa menemukan jawaban atas tudingan Raka. Sebab, memang itu fakta nya.
Sementara Nayra hanya bisa terdiam menyaksikan adu mulut dua orang di depan nya ini, hingga tiba-tiba Raka menarik tangan nya. "Ayo kita pergi, Nay."
__ADS_1
Namun, Nayra justru melepaskan tangan Raka yang membuat pria itu langsung menatap nya dengan bingung sekaligus cemas. "Nay, please!" Raka memohon, ia sangat takut Nayra kembali terpengaruh oleh Naura dan pada akhir nya dia akan kembali ditinggalkan.
"Tunggu sebentar," lirih Nayra.
Ia mendekati Naura, menarik tangan nya dan Naura hanya diam saja. "Kita sama-sama salah, Ra," ucap Nayra. "Kamu salah karena bermain api, aku salah karena mengikuti permainanmu. Tapi ...." Nayra mengangkat tangan nya dan tanpa di sangka ia menyeka air mata sang kakak dengan lembut. "Hidup adalah permainan, selama ini kamu yang mendominasi dan jika kali ini saja kamu kalah, seharusnya itu tidak masalah karena kamu sendiri yang menentukan resikonya."
"Jangan berdalih, Nayra!" Naura menggeram dan menepis tangan Naura. "Kamu merebut suamiku dan kamu bilang seharusnya tidak masalah?"
"Kamu yang memberiku peluang itu," jawab Nayra. "Aku akan meninggalkan Raka asal—"
"NAYRA!" tegur Raka, kecemasan semakin meningkat dalam diri nya, tetapi Nayra tak menghiraukan pria itu.
"Aku akan meninggalkan Raka asal kamu bisa membuat Mama menerima aku dan anakku," desis Nayra penuh penekanan. "Asal kamu berhenti menyalahkan dan memojokkan ku dan kita kembali menjadi suadara seperti dulu, bisa?"
Naura terhenyak, tatapan nya tiba-tiba menjadi tidak fokus dan ia kehilangan kata-kata untuk menjawab tantangan Nayra. "Kamu nggak bisa, ya? Sampai mati pun di mata kamu tetap aku yang salah, kan?" Air mata Nayra kembali tumpah. "Kamu ingat bagaimana kamu dan Mama begitu kompak mengusir aku dari rumah? Menghina ku habis-habisan? Dan kamu tahu? Justru kalian yang membuat aku kembali pada Raka, kalian membuat aku putus asa dan aku merasa nggak punya tempat berpulang selain pada Raka."
"Lalu bagaimana dengan Bian?" sahut Naura kemudian. "Dia mencintai kamu, Nayra, dia menunggu kamu kembali."
"Setelah aku hamil anak orang lain, apakah menurut mu aku mampu kembali pada Bian?" sanggah Nayra. "Iya sih, Bian mau menerima ku. Tapi dulu aku menolak karena aku merasa nggak pantas untuk dia, tapi setelah itu Bian kembali meminta ku kembali. Namun, sekarang aku baru menyadari aku mencintai Raka. Aku udah nggak mungkin lagi kembali pada Bian."
"Nayra!" geram Naura.
"Ini yang terkahir, Naura. Ini yang terakhir aku menjelaskan semua nya sama kamu, ini yang terakhir aku membela diri dan mengaku bersalah. Setelah ini aku nggak mau lagi membahas semua itu, aku hanya ingin fokus pada yang telah aku fokuskan. Maaf, Ra, aku nggak bermaksud mengkhianati kamu tapi semua sudah terjadi. "
__ADS_1
...🦋...