
Sesuai janji Raka, ia tak masuk ke kamar Nayra tanpa izin wanita itu. Bahkan, Raka berdiri di luar pintu ketika dia pamit akan ke kantor pada Nayra. Sedangkan wanita itu saat ini sedang membersihkan kamarnya.
"Kamu nggak boleh ke mana pun sendirian, okay? Ajak Bibi dan pakai sopir kalau mau pergi," tukas Raka dengan sangat serius.
"Iya," jawab Nayra sambil berdecak kesal.
"Terus kalau kamu butuh sesuatu, telfon aku, okay?" Nayra sedikit kesal dengan sikap Raka yang ia nilai terlalu berlebihan. Namun, Nayra juga merasakan kehangatan di hatinya saat ia mendapatkan perhatian yang sangat istimewa yang dari Raka.
"Iya, Raka, nggak usah khawatir," jawab Nayra dengan ketus, seolah ia benar-benar kesal akan ocehan Raka meskipun sebenarnya tidak.
"Okay, aku pergi dulu," seru Raka. Bahkan, pria itu melambaikan tangannya sambil tersenyum manis, membuat Nayra hampir saja tergelak. Setahu Nayra, Raka adalah pria berwibawa dan dewasa, tapi semakin hari ia melihat ada saja tingkah konyolnya.
"Hati-hati," ujar Nayra memperingatkan dengan tulus.
"Terima kasih, Sayang," ucap Raka dengan senyum lebar di bibirnya.
Setelah Raka pergi, Nayra langsung pergi ke dapur. Tiba-tiba saja ia ingin membuat kue hari ini apalagi ia tak punya aktifitas apapun. "Mau masak, Non?" tanya Bi Siti.
"Iya, Bi, kayaknya aku mau bikin pisang keju. Ada pisang nggak, Bi?" tanya Nayra sembari membuka kulkas.
"Ada, Non, sekarang semua jenis buah dan makanan di sini lengkap. Kata Tuan Raka semuanya harus lengkap biar Non Nayra bisa makan apapun yang Non Nayra mau. Bahkan pagi ini kami juga disuruh beli pete banyak-banyak, padahal tuan Raka tidak pernah makan Pete," tukas Bi Siti panjang lebar yang membuat Nayra terenyuh, kini ia semakin merasakan keperdulian Raka padanya. Apalagi pria itu menepati janji yang kemarin ia ucapkan.
"Raka bilang apa saja, Bi?" tanya Nayra sembari mengupas pisang.
"Katanya semua bahan makanan harus lengkap di rumah, bahkan kami juga disuruh beli es krim semua varian. Terus apapun yang Non Nayra minta, harus segera dilakukan, nggak boleh tanya nggak boleh bantah."
Wajah Nayra bersemu mendengar pengaduan Bi Siti, apakah sebegitu besar keperdulian Raka padanya? Apakah pria itu benar-benar mencintainya seperti yang selalu ia bilang.
__ADS_1
"Bi, bantu aku buat pisang keju, ya," pinta Nayra.
"Baik, Non Nayra," jawab Bi siti patuh.
Namun, perhatian Nayra teralihkan saat ponselnya berdering. Nayra sedikit terkejut saat ia melihat nama mantan tunangannya tertera di layar smartphone-nya itu.
Nayra bingung, haruskah ia menjawab panggilan pria itu ataukah lebih baik ia abaikan saja? Namun, hati kecil Nayra merasa tak tega jika harus mengabaikan Bian.
Alhasil, ia pun menjawab panggilan pria itu. "Halo?" sapa Bian dari seberang telfon.
"Ada apa?" tanya Nayra.
"Aku di luar." Pupil mata Nayra seketika melebar saat mendengar apa yang dikatakan oleh Bian.
"Di luar? Maksudnya?" pekik Nayra.
"Di luar rumah Raka, Nay, aku ingin ketemu kamu."
Sesuai dugaan Naura, hakim akan meminta mereka bermediasi terlebih dahulu. Apalagi selama ini Naura dan Raka tak pernah memiliki masalah yang serius yang bisa mengantar mereka pada titik perceraian. Namun, saat di ruang mediasi, Raka justru membeberkan apa yang membuat keputusan keputusannya begitu bulat untuk bercerai.
Pengakuan Raka itu membuat pengacara Nayra terhenyak, ia tak percaya ada seorang wanita yang merelakan adiknya tidur dengan suaminya sendiri. Bahkan, ia hanya terdiam membisu saat Raka terus berbicara sementara Naura hanya bisa tertunduk dalam.
Wanita itu bahkan sudah terisak lirih, seolah menyesali apa yang telah ia lakukan. Namun, kekecewaan yang Raka rasakan begitu besar hingga ia tak lagi punya rasa apapun pada istrinya itu. Tidak rasa kasihan apalagi cinta.
Mama Raka dan kedua orang tua Naura juga ada di ruang mediasi itu. Mereka semua juga tak berani menyahut saat Raka mengutarakan isi hatinya.
"Bagaimana kalau kita balik posisi, Ra. Aku yang menipu kamu dengan cara yang sama. Bagaimana perasaan kamu?" desis Raka tajam. "Dan bagaimana perasaan orang tua kamu?" kini tatapan Raka tertuju pada orang tua Naura.
__ADS_1
"Nayra itu adik kamu, Ra! Tapi kamu paksa dia berpura-pura jadi kamu, kemudian hamil anakku, dan setelah itu kamu mau Nayra menyerahkan bayinya pada kamu seolah kamu yang melahirkan, iya? Kamu mau memisahkan ibu dari anaknya?" Raka menggeram tertahan, emosinya sungguh memuncak saat ini. Apalagi ini kali pertama dia bertemu Naura kembali dalam situasi yang sedikit lebih tenang.
"Aku melakukan itu demi rumah tangga kita, Raka," cicit Naura yang membuat Raka justru tampak emosi.
Sementara Bu Mita justru tersenyum miring kemudian berkata, "Demi rumah tanggamu yang sempurna sampai kamu mengorbankan adikmu sendiri ya, Ra, kok bisa sih ada seorang kakak seperti kamu?"
"Ma, aku nggak bermaksud mengorbankan Nayra, kita sama-sama sepakat kok," bantah Naura membela diri yang membuat Raka merasa begitu muak dengan istrinya itu.
"Sepakat kamu bilang?" Raka kembali mendesis tajam. "Kamu mengancam akan bunuh diri jika Nayra tidak mengikuti kemauan kamu, itu yang kamu bilang sepakat?" teriak Raka dengan dada yang bergemuruh.
"Raka, aku-"
"Mau mengelak bagaimana lagi, Naura?" geram Raka dengan kesabaran yang sudah hampir habis. "Hari ini kamu mengorbankan adik kamu demi kepentingan kamu sendiri, lalu bagaimana besok? Besok lusa? Minggu depan? Bulan depan? Kamu akan mengorbankan anakku? Atau bahkan aku sendiri?"
"Dan buat Mama..." kini Nayra menatap ibu mertuanya itu. "Mama mendukung Naura padahal sudah jelas dia yang salah, dia bahkan mengorbankan hidup Nayra lho, Ma, anak kandung Mama juga, darah daging Mama. Apa Mama nggak sedih melihat hidup Nayra yang hancur?"
" Raka, Nayra hanya mau membantu kakaknya," seru Bu Irna yang membuat Raka langsung tertawa sinis.
"Itu bukan membantu, Ma, tapi dia bunuh diri demi kakak yang bahkan tidak pantas disebut kakak." tatapan Raka semakin tajam, bahkan napasnya terasa berat dan matanya pun memerah. Sementara pak Desta benar-benar tak tahu harus menjawab apa. Seperti yang pernah ia bilang, Naura adalah putrinya begitu juga dengan Nayra. Ia tak bisa mendukung salah satunya karena pasti akan menyakiti yang lain.
"Dan mumpung kalian semua di sini, aku mau bilang kalau aku akan bertanggung jawab dengan apa yang sudah aku lakukan," seru Raka kemudian. "Aku sudah menghamili Nayra jadi aku akan menikahinya dengan atau tanpa restu kalian."
Hati Naura terasa semakin remuk mendengar apa yang diucapkan oleh semuanya itu, air mata merembes keluar dari pelupuk matanya tanpa bisa ia tahan lagi.
"Lalu bagaimana denganku, Raka?" lirih Naura pilu.
"Kamu bisa jadi Tante yang baik untuk anak kami, kan?"
__ADS_1
🦋