Rahim Nayra Untuk Naura

Rahim Nayra Untuk Naura
Bab 51 - Biarkan Semuanya Terjadi


__ADS_3

"Aduh, itu Non Nayra apa Nyonya Naura, ya?" Bi Jum berdecak, ia tak bisa lagi membedakan mana Nayra dan Naura.


Namun, siapapun itu, kini dia berjalan mendekati Bi Jum dan bertanya, "Raka ada, Bi?"


"Tuan Raka belum pulang," kata Bi Jum sembari memperhatikan wanita di depannya ini dari atas sampai bawah agar bisa mengenali apakah dia Nayra atau Naura.


"Nyonya Naura?" Bi Jum kini tahu dia adalah Naura.


"Iya, Bi, kenapa?" Naura menanggapi pembantunya itu dengan cukup ketus dan sekarang Bi Jum semakin yakin dia adalah Naura. "Raka pergi ke mana, Bi? Sejak kapan?" tanyanya lagi.


"Sejak kemarin sore, Nyonya, saya tidak tahu tuan pergi ke mana," jawab Bi Jum.


Tanpa menanggapi ucapan pelayan paruh baya itu, Naura langsung masuk ke dalam rumah dan Bi Jum tentu tak bisa mencegahnya. Bagaimana pun juga, saat ini dia masih berstatus sebagai istri sah Raka yang berarti masih Nyonya di rumah itu.


Bi Siti juga tampak terkejut melihat kedatangan Naura yang sebenarnya tak bisa ia bedakan apakah Naura atau Nayra, hingga Bi Jum datang dan gerakan bibir saja dia mengucapkan. "Nyonya Naura!" dengan memonyongkan bibirnya.


Bi Siti nganggut-manggut mengerti, ia pun hanya bisa menyingikir saat Naura berjalan melewatinya.


Kedua pelayan itu memperhatikan Naura yang kini naik ke kamar Raka. "Kira-kira dia mau ngapain ya, Bi?" tanya Bi Siti setengah berbisik.


"Nggak tahu juga, Ti," sahut Bi Jum.


"Oh ya, Bi Jum kok tahu itu Nyonya Naura? Padahal tadi aku sempat bingung apakah itu Nyonya Naura atau Non Nayra," ungkap Bi Siti.


"Aku juga bingung, Ti, aku liat dari atas sampai bawah. Aku perhatikan baik-baik bahkan sampai ke jari tangan dan kakinya," papar Bi Jum yang membuat Bi Siti melongo.


"Memangnya ukuran jari mereka nggak sama, Bi? Aku belum pernah memperhatikan ukuran jari orang."


"Bukan begitu, aku cuma pengan tahu siapa tahu ada petunjuk gitu. Eh, ternyata justru petunjuknya itu di raut wajah mereka lho, Ti, cara mereka memandang orang juga terlihat berbeda."


"Ah, masa? Kok bisa?"


"Bisa lah, coba kamu ingat-ingat bagaimana Non Nayra berinteraksi sama kita bahkan sampai cara dia menatap kita. Terus kamu bandingkan dengan cara Non Nayra, beda banget. Non Nayra tuh kalau mandang kita nggak sinis, nggak julid, nggak tajam. Raut wajahnya juga terlihat lebih kalem dan tenang, beda sama Nyonya yang terlihat lebih galak."


Bi Siti kembali manggut-manggut, ia mulai membandingkan si kembar sesuai instruksi Bi Jum dan memang benar ada perbedaan antara keduanya.

__ADS_1


"Apa mereka nggak punta tanda lahir atau apa gitu ya, Bi? Biar kita gampang bedainnya?"


...🦋...


"Ini satu-satunya yang membedakanku dan Naura, tanda lahir yang hanya di miliki salah satu dari kami."


Raka hanya terkekeh saat mendengar ucapan Nayra yang menunjukan tanda lahirnya di kepala Bagian belakangnya. "Hanya aku yang punya tanda lahir, dan itu pun di tempat yang sangat tersembunyi seperti ini. Oleh sebab itu kami bisa membohongi orang dengan mudah, apalagi yang tahu tanda lahir ku cuma Mama dan papa." Lanjutnya.


"Sebenarnya itu bukan satu-satunya tanda untuk membedakan kalian," kata Raka sembari mengepang rambut Nayra. "Kalian memiliki karakter dan hobi yang sangat berbeda, sebenarnya sangat mudah untuk membedakan kalian."


"Tapi hanya orang-orang terdekat kami yang mampu menyadari itu," tambah Nayra.


"Iya sih," gumam Raka. "Sudah, Sayang, bagus loh, rapi." Nayra langsung menyentuh rambutnya yang di kepang Raka dan seketika ia tertawa.


"Ini benar-benar berantakan, Raka, astaga. Katanya kamu bisa ngepang." Nayra memegang rambutnya yang memang sangat tidak rapi.


"Ini pertama kalinya aku mengepang rambut, Nay, jadi ya udah maklum aja." Raka membantu Nayra turun dari ranjangnya, tak lupa ia memakaikan jasnya ke wanita itu karena suhu tubuh Nayra sedikit dingin.


"Kita mau ke mana?" tanya Nayra kemudian.


Raka mencintainya, dia pun mencintai Raka sepenuh hati. Apakah cinta itu salah atau benar, itu hanya sebuah penilaian. Sementara cinta ada tidak untuk dinilai, cinta ada untuk dirasakan dan dijalankan.


"Tentu saja pulang, Sayang," kata Raka.


"Tapi ...." Nayra tertunduk murung yang membuat Raka kembali cemas.


"Tolong jangan berfikir yang tidak-tidak lagi, Nay, kamu sudah mengambil keputusan untuk ikut denganku, kan?" Raka menangkup pipi wanita itu dengan lembut. "Jangan ubah keputusanmu lagi."


"Kamu ngomong apa sih," ketus Nayra sembari menepis tangan Raka. "Aku lapar banget, Raka, bisa kita pergi makan sebelum pulang?" rengek nya yang membuat Raka melongo dan seketika ia langsung menghela napas lega.


"Kamu mau pulang ke rumah aku, kan? Mau pergi sama aku, kan?" tanyanya sekali lagi untuk memastikan kali ini Nayra akan dengan suka rela ikut dirinya.


"Iya, Memangnya aku pergi ke mana lagi?" lirih Nayra.


"Okay, kita cari makan sekarang. Kamu mau makan apa? Apa mau sate atau bakso?" tanya Raka.

__ADS_1


"Apa aja, yang penting kenyang, makanan rumah sakit nggak enak dan nggak bikin kenyang."


Raka tertawa mendengar keluhan Nayra, keluhan yang pasti sering dikeluhkan oleh pasien rumah sakit. "Baiklah, Sayang. Sekarang ayo pergi!"


...🦋...


Jika Raka sudah membuat keputusannya sendiri, maka Nayra pun begitu. Kini ia memutuskan akan menerima apapun keputusan Raka, bercerai, berpisah, atau apapun itu.


Oleh sebab itu Naura kembali ke rumah Raka hanya untuk mengambil beberapa barang pribadinya.


Berat?


Tentu saja ini adalah keputusan yang sangat berat untuknya, apalagi jika membayangkan bagaimana jika nanti Raka justru menikah dengan Nayra seperti yang pria itu selalu katakan. Namun, Naura sudah tidak tahu lagi bagaimana mempertahankan rumah tangganya. Apalagi Bian tak membantu sedikit pun seperti yang ia harapkan.


Naura membuka laci dan ia tersenyum melihat beberapa perhiasan yang ia dapatkan dari Raka atau pun orang tuanya. Betapa sempurnanya hidup dia dulu, lalu sekarang semuanya akan berubah menjadi kenangan saja.


Naura mengambil salah satu kalung dan hendak menempelkannya di leher hingga tiba-tiba....


"Kamu ngapain di sini?"


Naura terlonjak kaget bahkan sampai menjatuhkan kalung nya. "Kamu ngapain di sini, Naura?"


"Mama?" Naura tampak salah tingkah melihat kedatangan ibu mertuanya yang secara tiba-tiba. "Aku... Aku cuma mau mengambil beberapa barangku," cicit Naura dengan mata yang berkaca-kaca.


"Oh ya?" Bu Mita mendekatinya kemudian dia mengambil kalung yang jatuh. "Neh, ambil aja semuanya." Bu Mita mengambil semua perhiasan dan meletakkannya di tangan Naura. "Asalkan setelah ini kamu menjauh dari hidup Raka.


Hati Naura tercabik-cabik mendengar ucapan pedas ibu mertuanya itu, bahkan air mata tak lagi dapat ia bendung dan mungkin inilah yang dimaksud dipinang bagai ratu dihempaskan bagai debu.


...🦋...


Mampir, gaeesss. Ramaikan, ya. Nanti aku adakan GA kalau rame.



__ADS_1


__ADS_2