Rahim Nayra Untuk Naura

Rahim Nayra Untuk Naura
Bab 84 - Tragedi


__ADS_3

Tanpa membuang waktu, Bu Irna langsung memberi tahu sang suami tentang rencana Naura yang akan ke Australia. Tentu saja hal itu membuat sang Ayah senangnya bukan main, bahkan ia langsung mengucapkan syukur berkali-kali sebab ini adalah apa yang mereka semua harapkan.


Namun, Bu Irna juga memperingatkan suaminya agar tak memberi tahu hal itu pada Raka apalagi Nayra.


"Aku nggak nyangka kamu mau menurunkan ego," kekeh Arsen yang membuat Naura berdecak.


Saat ini keduanya sedang makan malam bersama di restoran tempat biasa mereka makan, bukan restoran mewah seperti yang biasa Naura dan teman-temannya datangi, tetapi entah kenapa Naura menjadikan restoran itu sebagai salah satu tempat makan favoritnya. Apakah karena ia selalu mendatangi tempat itu bersama Arsen?


"Tipe wanita seperti kamu ini pasti nggak akan mudah menurunkan ego, kan? Jadi, siapapun yang membuat kamu mau menurunkan ego, pasti orang yang spesial."


Arsen mengedipkan mata pada Naura, menggodanya seperti biasa yang membuat Naura kembali berdecak kesal.


"Aku cuma nggak tega aja sama mama papa, mereka kaya nggak hidup tenang gitu setelah Nayra pergi," kilah Naura. Padahal, ia memang sedang berusaha menurunkan ego nya atas dasar saran Arsen.


"Oh, akhirnya kamu sadar juga dengan perasaan orang tuamu, Ra, semoga setelah ini kamu nggak jadi anak durhaka lagi," celetuk Arsen yang lagi-lagi membuat Naura kesal.


"Kamu tuh kalau ngomong nggak pernah di pikir dulu, ya? Asal celetuk aja gitu?" ketus Naura. "Memangnya kapan aku jadi anak durhaka?"


"Kalau seorang anak tidak memikirkan perasaan orang tuanya, bertindak semaunya, ya itu sudah masuk katagori durhaka," papar Arsen. "Kamu pikir durhaka itu cuma tidak mengakui ibunya seperti malin kundang?" cibirnya yang membuat Naura meringis.


Pria itu selalu menemukan kata-kata yang membuat Naura kesal, marah, bahkan tersinggung hingga menangis. Namun, entah kenapa Naura tetap tak bisa membencinya.


"Kamu salah penilaian tentang aku, Arsen, aku nggak sekeras itu," bantah Naura.


"Kamu lebih keras kepala dari yang kamu pikir, Ra, lebih keras dari batu."

__ADS_1


"Arsen!" geram Naura kesal, tetapi pria di depannya ini hanya terkekeh. "Jadi manusia kok nyebelin banget."


"Ah masa? Tapi kok kamu mau makin hari makin dekat sama aku kalau aku memang menyebalkan?"


Wajah Naura langsung memerah mendengar ocehan teman prianya ini. Tapi ... dia memang benar, semakin hari mereka semakin dekat.


Bagaimana tidak? Arsen sangat mengerti watak dan perasaan Naura yang merupakan wanita tak sempurna sedangkan Naura selalu ingin tampak sempurna.


Percayalah, menjadi perfeksionis itu sangat menyiksa!


...🦋...


Pak Desta tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat tahu kedua putrinya sebentar lagi akan berbaikan, ia merasa tak sabar menunggu hari itu tiba. Bahkan, Pak Desta ingin sekali menyampaikan kabar bahagia itu pada Nayra.


Namun, dia harus sabar dan akan menunggu semuanya indah pada waktunya.


"Papa Seperti pria yang ingin mengajak teman wanitanya ke prom night," kekeh Naura sembari mengambil bunga itu dari tangan sang ayah.


"Papa sangat bahagia dan bangga sekali denganmu, Sayang," kata Pak Desta sambil merentangkan kedua tangannya. Naura pun berhambur ke pelukan sang Ayah. "Papa bangga sekali karena kamu mau berbesar hati untuk menemui adikmu."


"Aku melakukan ini demi kalian," sahut Naura sambil mengeratkan pelukannya. "Aku kangen kita yang dulu, Ma, yang bersama dan hangat."


"Papa juga," lirih Pak Desta sembari melerai pelukannya. "Kamu tahu 'kan kalau kamu itu anak sulung Papa, kamu adalah wakil, Papa, Sayang. Kalau misalnya tidak Papa, maka kamu harus menggantikan Papa menjaga adik dan Mama kamu."


Naura mengangguk mengerti, kata-kata itu sudah sering sang Ayah ucapkan padanya sejak ia kecil.

__ADS_1


"Papa sibuk nggak?" tanya Naura kemudian sembari menggandeng tangan sang Ayah dengan manja, membawanya ke dalam.


"Nggak, habis ini mau ke kantor tapi nggak ada yang mendesak," jelas Pak Desta.


"Kalau gitu kita berangkat bareng ya, Pa, mobil aku lagi di bengkel."


Pak Desta mengangguk sambil tersenyum.


"Aku ganti baju dulu," seru Naura sambil berlari ke kamarnya. Ia meletakkan bunga dari sang ayah di ranjang.


Setelah itu, ia segera berganti pakaian dan mengambil tasnya kemudian bergegas keluar.


"Tumben cepat, nggak dandan?" tanya sang Ayah.


"Memangnya wajah ku kusam, Pa?" Pak Desta langsung tertawa mendengar pertanyaan Naura.


"Nggak kok, wajah kamu cantik, berseri Seperti wajah malaikat," puji Pak Desta yang membuat Naura tertawa


Keduanya berangkat bersama, sepanjang perjalanan Naura dan Pak Desta saling bertukar cerita. Hal itu membuat mereka merasa sangat bahagia karena sudah lama sekali mereka tidak mengobrol lepas seperti sekarang.


"Papa nggak sabar menunggu kita bersama-sama Seperti dulu, Ra," kata Pak Desta.


"Aku juga," sahut Naura sambil tersenyum lebar. Namun, sedetik kemudian ia melotot terkejut dan berteriak. "PAPA AWAS!!!"


"BRUUGGG"

__ADS_1


Sebuah truk yang melaju sangat kencang dari arah samping Pak Desta menghantam mobil dengan sangat keras, hingga mobil itu terlempar dan mendarat dalam keadaan yang terbalik.


Kejadian itu begitu cepat, hanya dalam hitungan detik dan di detik itu juga Pak Desta dan Naura langsung kehilangan kesadaran mereka.


__ADS_2