
Menerima takdir dalam hidup? Tentu itu tidaklah mudah, apalagi jika takdir yang datang itu tak adalah takdir yang tak dirindukan, takdir yang tak pernah diinginkan. Namun, siapa yang bisa bernegosiasi dengan takdir?
Tidak ada.
Meski sebenarnya takdir bisa dirubah dengan doa dan usaha, yeah, takdir akan berubah dengan sebuah tindakan entah di sengaja atau tidak. Itulah yang terjadi pada Nayra dan Naura.
Hakikatnya takdir itu memang ada di tangan Tuhan. Namun, dia memberikan kesempatan pada setiap manusia untuk memilih jalan hidup nya.
Ketika Naura memutuskan untuk menarik Nayra ke dalam hidup nya demi sebuah ambisi yang tak pasti, ia telah menentukan jalan takdir nya. Bahwa di tengah jalan bisa saja dia kehilangan suami nya.
Dan ketika Nayra menerima takdir yang ingin dilukis oleh sang kakak dengan melibatkan diri nya, maka Nayra juga telah memilih jalan hidup nya bahwa ia telah menjadi pengkhianat untuk tunangan nya yang selama ini mencintai nya dengan tulus.
Begitu juga dengan Raka yang memilih mengikuti takdir yang di ukir oleh istri nya dan orang yang ia cintai dalam diam selama ini. Lalu bagaimana dengan Bian?
Yeah, terkadang takdir memang tak bisa diajak kompromi. Terkadang takdir memang datang bagaimana anak panah yang langsung melukai hati dan jiwa seseorang.
Adil kah?
Tidak, itu sangat tidak adil untuk saat ini. Itu terlihat tidak adil saat seseorang baru menerima takdir itu. Namun, orang-orang percaya semua akan indah pada waktu nya atau semua akan hancur pada waktu nya.
Seperti Naura yang kini telah menatap kehancuran yang terpampang nyata di depan nya, ketika sidang perceraian nya kembali di gelar dan kali ini hakim telah memutuskan bahwa kedua anak adam itu telah resmi bercerai.
Naura hanya bisa tertunduk lesu tetapi ia enggan menangis, air mata nya sudah habis, sudah mengering. Tenaga nya pun sudah menipis untuk terus memikul kemarahan, kesedihan dan penyesalan yang menjadi satu dalam jiwa nya.
Saat hakim mengetuk palu sebagai batas terakhir status mereka, Raka hanya pun hanya bisa tertunduk.
Dia tahu, mungkin Naura akan menganggap nya sangat jahat karena ia lebih Nayra. Namun, bukankah dia akan lebih jahat jika ia membuang Nayra setelah wanita itu melahirkan nanti? Bukankah dia akan lebih jahat jika memisahkan seorang ibu dari anak nya kemudian anak tersebut akan memanggil ibu kandung nya dengan sebutan tante? Sementara dia akan memanggil tante nya dengan sebutan ibu.
Raka teringat kembali saat pertama kali dia bertemu Naura, berkenalan menghabiskan waktu bersama kemudian jatuh cinta dan mereka pun menikah. Namun, Raka justru kembali merasa jatuh cinta saat mulai mengenal Nayra. Tanpa sadar, cinta nya pada Naura mulai terkikis. Namun, Raka tetap mempertahankan sang istri dan tak mencoba mengejar Nayra apalagi wanita itu sudah punya tunangan.
Akan tetapi permainan takdir sungguh tak bisa ditebak, ketika Naura sendiri yang menarik Nayra ke dalam hidup nya.
"Aku minta maaf," ucap Raka dengan lirih pada wanita yang kini telah resmi menjadi mantan.
__ADS_1
"Aku nggak bermaksud mengkhianati kamu, Naura," tambah nya.
"Tapi kamu melakukan nya," sahut Naura sambil tersenyum miring. "Kenapa harus adikku, Raka?" Dia mengangkat wajah nya, menatap Raka dengan mata yang memerah.
"Aku yang seharusnya bertanya, Ra," balas Raka. "Kenapa harus adik kamu? Kenapa harus Nayra yang kamu kirim untuk menyempurnakan hidup kamu?"
"Sudah cukup!" seru Pak Desta sembari merangkul pundak Naura. "Tidak ada lagi yang perlu di permasalahkan karena masalah ini sudah selesai."
"Semoga kalian bahagia!" desis Naura, ucapan itu tak seperti doa, melainkan seperti sebuah kutukan tetapi Raka tak mau perduli.
"Semoga kamu bisa menemukan hidup yang jauh lebih baik," balas Raka dengan tenang.
"Jangan pernah kalian muncul lagi di depanku atau akau akan membunuh Nayra dan anak kalian!"
Raka tersentak mendengar ancaman Naura, apalagi raut wajah wanita itu tampak serius dengan sorot mata yang begitu tajam.
"Aku bersumpah akan membunuhnya jika dia muncul di depanku!"
"Naura!" bentak Bu Irna yang sejak tadi hanya diam saja. "Nayra adik kamu, adik kandung kamu, Nak," tegasnya.
Bu Irna pun segera menyusul Naura sementara Pak Desta masih diam di tempat, ia menatap Raka yang kini hanya tertunduk.
"Raka?" panggil nya.
Yang di panggil pun mendongak. "Kamu sudah menghancurkan hati satu anak perempuanku," lirih Pak Desta dengan suara yang gemetar.
"Dan sekarang kamu menggenggam hati anak perempuanku yang lain, jadi tolong jaga dia. Jangan kamu sakiti hatinya, Papa mohon, Nak!" Pak Desta melipat kedua tangannya di depan dada, ia memelas pada Raka.
"Aku janji akan menjaganya, Pa," jawab Raka dengan tegas sembari menarik tangan Pak Desta. "Tolong jangan memohon seperti ini sama aku, Pa, itu nggak pantas." Raka memeluk ayah dari si kembar itu.
"Aku janji akan menjaga Nayra dengan segenap jiwaku, aku akan selalu bersamanya sampai maut yang memisahkan kami."
"Dulu kamu juga berjanji seperti itu pada Naura," ujar Pak Desta.
__ADS_1
"Aku tahu," sahut Raka dengan cepat. "Maafkan aku, Pa."
"Bawa Nayra pergi dari sini, bawa dia ke tempat di mana tidak akan ada orang yang membicarakan nya." Pak Desta melerai pelukannya, ia memegang pundak Raka dan menepuk nya.
"Tapi Papa tetap akan mengawasi kalian, Papa nggak mau kecolongan lagi."
Raka hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.
Pergi?
Sebenarnya Raka tak ingin pergi ke mana pun, apalagi ia merasa tak ada yang salah dengan hubungannya dan Nayra. Semua berjalan sesuai garis takdir. Namun, Raka harus memikirkan perasaan Nayra. Wanita itu tidak akan nyaman dengan statusnya nanti, dulu adik ipar Raka kemudian berubah menjadi istrinya.
Belum lagi omongan orang yang pasti bertanya-tanya apa yang terjadi, kenapa bisa terjadi apalagi mereka saudara kembar. Orang-orang juga pasti akan menyalahkan Nayra begitu saja tanpa mau tahu apa yang terjadi.
Jadi, Raka memutuskan akan pindah ke luar negeri. Dia akan membawa Nayra jauh dari orang-orang yang berpotensi menyakitinya.
Pengecut?
Bersembunyi dari kenyataan memanglah tindakan pengecut. Namun, Raka tak perduli dengan penilaian orang lain karena yang paling penting adalah kesehatan mental Nayra.
"Ingat pesan Papa, Raka!" tegas Pak Desta sekali lagi.
"Akan selalu aku ingat, Pa," jawab Raka penuh keyakinan. "Lagi pula, aku tidak akan mengingkari janjiku pada Naura jika saja Naura tidak melakukan kegilaan ini."
"Berhenti saling menyalahkan!"
Raka hanya tersenyum miring dan mengangguk.
Bukankah takdir itu sebenarnya ada di tangan manusia juga?
...🦋...
Gaeessss, yang belum mampir ke kisah Lou dan Ethan, mampir dulu deh. Biar nggak tegang, hehe.
__ADS_1