
"Ayo kita pergi, Sayang."
Nayra menarik tangannya dengan pelan saat Bian mengajaknya pergi, hal itu membuat hati Bian mencelos bahkan ia menahan napas apalagi ketika Nayra memalingkan wajahnya. "Kenapa, Nay?" tanyanya dengan suara tercekat.
"Aku nggak mau ikut siapapun, Bi," lirih Nayra.
"Kenapa?" tanya Bian. Namun, Nayra tak bisa menjawab pertanyaan itu. "Apa karena Raka? Kamu mencintainya?" Suara Bian bergetar saat mengajukan pertanyaan itu.
Sementara Nayra semakin tak mampu menjawab, bahkan air mata kembali meluncur bebas dari sudut matanya tetapi ia segera menyekanya.
"Kamu mencintai Raka, Nayra?" tanya Bian sekali lagi meski ia sudah menduga jawaban Nayra. "Nayra!" Bian mengguncang pundak wanita itu.
"Ma-maaf ... Bian," ucap Nayra terbata-bata yang membuat Bian langsung merasa lemas.
Nayra tertunduk dalam dan air mata kembali jatuh di pipinya. Dianya wanita itu sudah menjawab semua pertanyaan Bian dengan begitu jelas. "Kenapa, Nay?" lirih Bian dengan suara yang tercekat di tenggorokannya. "Kenapa kamu mencintainya? Huh? Kamu bilang akan selalu mencintaiku, sampai mati kamu akan mencintaiku!"
Suara Bian semakin lantang, bahkan membuat Nayra sampai tersentak dan tangisnya pun semakin pecah.
"Di mana janji kamu, Nayra? Apa salahku sampai kamu membuangku seperti ini, hm? di mana kurangnya aku?" Bain tak dapat membendung air matanya lagi.
Rasanya berkali-kali lipat lebih sakit dari saat Nayra mengaku hamil anak Raka, Bian merasa seperti ada ribuan ombak yang menghujam jantungnya saat ini, seperti ada gunung besar yang menghimpit dadanya hingga ia merasa begitu sesak dan sulit bernapas.
"Kamu sempurna, Bi," cicit Nayra. Ia mengangkat wajah dan seketika hatinya seperti dicabik-cabik melihat Bian yang menangis karenanya. "Aku yang bodoh, aku memang nggak pantas buat kamu karena kamu terlalu sempurna, Bi."
Nayra mencoba menyentuh lengan pria itu tetapi Bian langsung menepisnya dengan kasar. Nayra hanya bisa menggigit bibirnya, menahan isak tangis agar tak keluar dari mulutnya.
"Kamu benar," desis Bian. Ia menyeka air mata di pipinya dengan punggung tangannya. "Kamu memang nggak pantas buat aku, Nay," ucapnya sambil tersenyum sinis. Bian beranjak dari kursinya, ia melangkah mundur kemudian kembali berkata. "Kamu memang pantas untuk Raka, sama-sama pengkhianat!" Bian kembali mendesis tajam sebelum akhirnya ia pergi dari ruang rawat Nayra, meningalkan wanita itu yang kini hanya bisa tersenyum penuh ejekan.
Mengejek takdir hidupnya dan tentu mengejek dirinya sendiri yang telah berani mencintai Raka dan mengkianati Bian.
__ADS_1
Hati Nayra sakit mendengar kata pengkhianat keluar dari mulut pria yang dulu pernah sangat ia cintai, tetapi ia tak bisa lagi menangis. Air matanya pasti sudah kering sekarang.
"AAGGGHHHh..."
Bian membukul setir mobilnya berkali-kali sambil terus berteriak seperti orang gila. Sepertinya ia memang akan gila jika terus mengingat Nayra, apalagi kini ia sudah tahu pasti bahwa Nayra mencintai Raka. Bian telah kalak telak, ia kalah sebelum berperang bahkan ia tak tahu bahwa seharusnya ia berperang.
Tiba-tiba saja dia tumbang, tiba-tiba saja tahta cintanya direbut oleh orang lain.
Bian melajukan mobilnya menuju sebuah club malam, ia butuh sesuatu untuk melampiaskan kemarahannya saat ini karena ia belum puas melampiaskannya pada Raka. Bahkan, sepertinya ia takkan puas meski membunuh pria itu.
Bian bahkan tak perduli dengan wajahnya yang sudah babak belur bahkan darah di sudut bibirnya itu sudah kering,
...🦋...
"Raka?" gumam Nayra tak percaya.
"Aku fikir kamu lari ke ujung dunia untuk menjauh dariku," ucap Raka sambil sedikit terkekeh. Namun, kemudian ia meringis saat merasakan perih di bibirnya yang sobek.
"Raka?" panggil Nayra sekali lagi sambil beranjak duduk.
"Iya, Sayang, aku di sini," jawab Raka dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kenapa kamu ada di sini?" Nayra memasang wajah dinginnya pada pria itu, bahkan ia bertanya dengan ketus seperti biasa.
"Mau menjemput ibu dari anakku," kekeh Raka.
"Aku mohon jangan mulai lagi, Raka," seru Nayra dengan emosi yang tiba-tiba langsung memuncak apalagi setelah ia mengingat cerita sang ayah tentang Naura, bahwa kakaknya itu sangat terluka karena Raka akan menceraikannya.
"Aku nggak memulai apapun, Sayang," ucap Raka. "Aku hanya melanjutkan apa yang kamu lakukan."
__ADS_1
"Please!" Nayra mendesis tajam. "Pergi, Raka, aku mohon!" Nayra menatap pria itu dengen memelas. "Jangan khawatir, aku akan memberikan anak ini jika la-"
Kedua mata Nayra membulat sempurna saat tiba-tiba Raka membungkam mulutnya dengan mulut pria itu. Nayra membeku, ia tak bisa merespon sedikitpun. Tak bisa menolak atau menerima ciuman Raka. Bahkan, Nayra hanya diam saja ketika bibir yang tadinya hanya menempel itu kini telah bergerak, memberikan ciuman yang begitu lembut.
Entah bagaimana air mata Nayra jatuh begitu saja, bukan karena ia sakit hati. Melainkan karena ia merindukan Raka, mungkin bibirnya bisa berbohong dengan mudah tetapi sangat sulit membohongi hatinya.
Raka dapat merasakan air mata Nayra yang kini juga membasahi pipinya. Namun, itu tak membuat dia menghentikan ciumannya. Raka justru semakin memperdalam ciuamannya, seolah ia ingin Nayra merasakan bahwa ia sangat merindukan wanita itu. Raka membuainya dengan begitu lembut, dan Nayra pun masuk dalam perangkap pria itu apalagi hormon hamil nya membuat ia begitu sensitif.
Tanpa sadar Nayra meremas lengan Raka untuk melampiaskan rasa yang menggebu di hatinya saat ini, rasa takut, rasa rindu, rasa bersalah dan rasa cinta. Semuanya menyatu menjadi satu.
Hingga Nayra kembali teringat pada sebuah fakta bahwa pria yang sedang menciumnya ini adalah kaka iparnya sendiri.
Nayra segera mendorong Raka hingga ciuman mereka terlepas. "Ini nggak benar," seru Nayra sembari mengelap bibirnya.
"Sudah benar, Sayang," jawab Raka. "Aku tahu kamu mencintaiku, sekarang kita saling mencintai maka apapun sudah menjadi benar untuk kita," tukas Raka penuh penekanan.
Nayra menggeleng tegas.
"Aku sudah mengkhianati Bian, Raka, aku mohon jangan buatkan aku mengkhianati Naura. Please!" Nayra memelas pada pria itu.
"Kita nggak mengkhianati siapapun, Nayra. Ini memang takdir yang tertulis untuk kita." Raka mencoba menyentuh pundak Nayra tetapi Nayra langsung menepisnya.
"Aku mohon, Raka, sudah cukup beban yang aku tanggung sekarang." Air mata Nayra kembali meluncur bebas. "Aku nggak akan sanggup lagi kalau menanggung satu beban lagi," lirihnya.
Raka menggeleng pelan, ia menyeka air mata Nayra dengan lembut. "Kita tanggung semuanya bersama, Nayra," tukas nya. "Dan jangan bohongi hatimu sendiri, kamu dan anak kita nggak bisa jauh dari aku begitu juga sebaliknya. Aku nggak bisa jauh dari kalian."
"Tapi, Raka-"
"Shhtt...." Raka meletakkan jarinya di bibir Nayra. "Percaya sama aku, aku nggak akan membiarkan kamu menanggung semuanya sendiri. Kita pergi dari tempat ini, ke tempat di mana nggak ada yang kenal kita, okay?"
__ADS_1