
Sudah 6 jam berlalu sejak Naura sadar dari komanya, dan wanita itu tak sabar untuk mengetahui keadaan adiknya.
Meskipun semua orang mengatakan Nayra baik-baik saja, bahkan termasuk kedua orang tua Raka, tetap saja Naura tak bisa tenang sampai dia melihat sendiri bagaimana keadaan Nayra.
"Kenapa, Sayang?" tanya Bu Irna yang melihat Naura tampak memikirkan sesuatu.
"Mama sudah melihat putra Nayra?" tanya Naura.
"Sudah, dia sangat tampan," ujar sang Ibu dengan mata yang berbinar. "Kamu mau melihatnya? Biar nanti Mama bawa dia ke sini."
"Apa Raka akan mengizinkan?" cicit Naura.
"Pasti dong, dia 'kan keponakan kamu sendiri. Kalau pun Raka tidak mengiznkan, pasti Nayra tetap akan mempertemukanmu dengan Baby Al."
"Namanya Baby Al?"
"Aditya Alvaro, bagus' kan?"
Naura hanya mengangguk pelan.
"Ma, bisa tolong panggil Dokter atau Suster?" pinta Naura yang membuat sang Ibu langsung cemas.
"Kenapa, Sayang? Ada yang sakit?" tanyanya.
"Nggak, aku cuma mau minta kursi roda, aku mau menemui Nayra."
"Astaga, Ra!" geram Sang Ibu. "Benar kata Arsen, nggak usah terlalu buru-buru karena kiamat masih jauh. Kalian punya banyak kesempatan untuk bertemu."
Naura meringis mendengar kata-kata sang Ibu yang kini telah ketularan absurdnya Arsen.
Sementara di sisi lain, Nayra pun sangat ingin menemui Nayra dan ingin tahu keadaannya secara langsung. Namun, Raka tak mengizinkan karena pria itu masih tetap pada prinsip utamanya sejak dulu. Takkan mendatangi Naura kecuali wanita itu yang datang lebih dulu.
"Raka?" panggil Nayra pada Raka yang sejak tadi sibuk dengan laptopnya.
__ADS_1
"Hem," sahut Raka tanpa melihat istrinya itu.
"Aku mau ke toilet."
Raka langsung meletakkan laptopnya, kemudian ia mengambil Baby Al yang tidur di pangkuan Nayra dan meletakkanya di Box bayi yang disediakan oleh rumah sakit.
Bersamaan dengan itu, kedua orang tua Raka datang dengan membawa dua keranjang buah.
"Banyak amat buahnya, Ma," kata Raka sembari membantu Nayra turun dari ranjang.
"Buat Naura satu," kata Bu Mita sembari meletakkan satu keranjang di atas meja. "Mama mau ke sana dulu, nanti baru ke sini lagi." Nayra hanya mengangguk sambil tersenyum.
Sementara Pak Aditya langsung menghampiri Box bayi, ia terlihat sangat gemas pada cucunya yang tertidur itu. Bahkan, Pak Aditya tak bisa menahan diri untuk tidak mencubit pipinya yang semakin hari semakin tembem.
"Jangan disentuh, Pa! Dia baru tidur," tegas Raka yang membuat ayahnya itu mendelik kesal.
"Raka, ayo ke toilet. Nanti aku ngompol di sini lho," seru Nayra yang memang tak berani pergi ke toilet sendiri. Sebab ia masih sering merasa pusing bahkan terkadang pandangannya juga tiba-tiba buram.
Pak Aditya yang dilarang menyentuh cucunya sendiri akhirnya pasrah dan duduk di sofa, ia mengernyit saat melihat apa yang tertera di layar laptop Raka.
Tak berselang lama, putra dan menantunya itu keluar dari toilet. "Raka, kamu mau beli jet pribadi?" tanya Pak Aditya tanpa basa-basi yang membuat Nayra melongo.
"Iya, Pa," jawab Raka santai.
"Hem, ide bagus," ucap Pak Aditya. "Ini akan memudahkan perjalanan bisnis kita."
"Sebenarnya aku beli itu buat Baby Al."
"HAH?"
...🦋...
"Terima kasih," ucap Naura yang tampak salah tingkah saat ibu Raka mendatanginya bahkam membawa sekeranjang buah untuknya.
__ADS_1
"Sama-sama, Sayang, bagaimana kondisi kamu?" tanya Bu Mita yang berusaha bersikap biasa saja, seolah tak pernah ada masalah fatal di masa lalu.
"Jauh lebih baik," jawab Naura.
"Syukurlah, keadaan Nayra juga lebih baik. Tapi dia masih sering merasa pusing karena itulah dia belum bisa menjenguk kamu," pungkas Bu Mita padahal sebenarnya ia hanya ingin Naura segera menghampirinya, sebab jika tidak seperti itu, maka Raka yang juga keras kepala akan terus melarang Nayra menghampiri Naura.
"Aku mengerti," lirih Naura.
"Oh ya, Baby Al sudah tidur, Mbak?" tanya Bu Irna
"Tadi aku lihat sih sudah ada di Box bayi," kata Bu Mita tetapi tatapanya tertuju pada Naura. "Kamu mau melihat keponakanmu, Ra?"
"Hah?" sahut Naura. "Kalau kamu mau, Mama akan ambil kursi roda."
"Naura masih butuh istirahat juga, Mbak," kata Bu Irna.
"Hem, okay. Kalau begitu besok saja."
"Sekarang saja," seru Naura kemudian.
...🦋...
"Kamu mau beli jet pribadi buat bayi yang cuma bisa kentut, pipis dan nangis itu?" pekik Pak Aditya yang merasa tak masuk akal Raka akan membeli jet pribadi untuk bayinya.
Sementara Nayra tak bisa menahan tawanya mendengar ucapan sang Ayah mertua m
"Bukan begitu, Pa," sanggah Raka. "Aku cuma keingat perjuangan kita yang mau pulang dari Australia ke sini, mendesak banget dan harus sampai tepat waktu. Susah tahu, Pa. Jadi pasti lebih enak punya jet pribadi," pungkas Raka panjang lebar.
"Ya iya sih," gumam sang Ayah kemudian.
Tak berselang lama, Bu Mita datang dan Pak Aditya langsung menceritakan tentang keinginan Raka untuk membeli jet pribadi.
"Dia beli jet buat bayinya yang cuma bisa nangis, Ma," ungkap Pak Aditya.
__ADS_1
Namun, bukannya menanggapi ucapan sang suami, Bu Mita justru membuka pintu lebih lebar. "Silakan masuk!" seru nya dan seketika suasana sedikit tegang saat Bu Irna mendorong kursi roda Naura masuk ke ruang rawat Nayra.