Rahim Nayra Untuk Naura

Rahim Nayra Untuk Naura
Bab 88 -


__ADS_3

"Ibu menyusui memang boleh saja mendonorkan darah tapi hanya jika anaknya berusia di atas 6 bulan, Bu Nayra. Sedangkan anakmu bahkan belum genap satu bulan!"


"Tapi aku sehat!" Nayra berkata dengan tegas saat mendengar penjelasan Dokter. "Tekanan darahku normal, bukan? Aku merasa sangat sehat dan aku bersedia mengambil apapun resikonya untuk menyelamatkan kakakku."


"Apa kau yakin?"


"Sangat!"


"Bagaiamana dengan suamimu? Kami juga membutuhkan izin dari orang yang menjadi walimu."


Nayra tampak kesal mendengar kata-kata Dokter itu. "Dia mengizinkannya," lirih Nayra kemudian.


"Okay kalau begitu."


...🦋...


"Jika terjadi sesuatu dengan istriku, aku akan membunuhmu." Raka mendesis tajam pada Arsen yang saat ini duduk bersama Bu Irna, kedua orang itu sedang sibuk menggoda Baby Al yang sedang meminum ASI yang sudah di siapkan oleh Nayra.

__ADS_1


"Kenapa jadi aku? Memangnya aku yang memaksa istrimu mendonorkan darah?" balas Arsen.


"Tapi kamu yang bilang kalau Naura membutuhkan darah," pungkas Raka.


"Bukan aku yang bilang, tapi Dokter," sanggah Arsen yang membuat Raka tampak semakin kesal.


"Sudah, sudah ... jangan berdebat," seru Bu Irna menengahi. "Sebaiknya kita berdoa untuk si kembar," imbuhnya.


Bersamaan dengan itu, kedua orang tua Raka datang dan mereka langsung mencecar Raka karena sudah mengizinkan Nayra mendonorkan darahnya untuk Naura. "Belum satu bulan dia melahirkan dan sekarang dia harus mengambil darahnya?"


Bu Mita tak bisa menyembunyikan kecemasan yang ia rasakan, apalagi ia juga pernah melahirkan dan di bulan pertama itu adalah masa-masa di mana dia harus sangat memperhatikan kesehatannya.


"Lalu apa kata Dokter? Apa mereka memperbolehkan?" tanya Pak Aditya.


"Menurut mereka Nayra bisa melakukannya tapi tentu dengan beberapa kemungkinan buruk," ujar Raka sambil menatap Arsen dengan tajam.


"Ya Tuhan," gumam Bu Mita sambil mengusap wajahnya dengan kasar.

__ADS_1


Suasana terasa menjadi tegang, apalagi Raka yang menyalahkan Arsen sedangkan kedua orang tua Raka justru memojokan Raka.


"Mbak Mit, cucu kita!" seru Bu Irna kemudian yang seketika membuat ketegangan itu mencair tanpa terasa.


Bu Mita langsung menggendong cucunya kemudian menciumnya penuh cinta dan kerinduan. "Lihat, Pa! Dia sangat tampan," puji Bu Mita.


"Benar, Ma, dia lucu sekali," sahut Pak Aditya sambil menyentuh pipi lembut Baby Al.


Saat para orang tua sibuk dengan Baby Al, Raka dan Arsen justru mengadu tatapan tajam. Padahal mereka tidak pernah saling mengenal sebelumnya, tetapi di pertemuan mereka yang pertama ini mereka sudah seperti musuh.


...🦋...


Nayra menatap Naura yang kini terbaring lemas dan wajahnya sangat pucat, kepala kakaknya itu di perban dan alat medis menempel di tubuhnya. Itu mengingatkan Nayra pada kecelakaan yang mereka alami tahun lalu.


Sangat mengerikan.


Saat ini Nayra sedang melakukan transfusi darah dengan di jaga oleh suster dan Dokter dan Dokter.

__ADS_1


"Kamu harus bangun, Ra," lirih Nayra dengan berderai air mata. "Asal kamu tahu, kamu yang salah kenapa kecelakaan kita bisa terjadi. Kamu nggak mau gantiin aku nyetir padahal aku sudah bilang aku ngantuk." Air mata Nayra semakin deras mengalir di sudut matanya hingga membasahi bantal.


"Jadi kamu harus bangun, kamu harus minta maaf sama aku. Kamu harus mengakui itu juga salah kamu yang keras kepala. Kalau kamu nggak bangun...." Suara Nayra tercekat di tenggorokannya. "Aku nggak akan mau memaafkan kamu, Naura!"


__ADS_2