
Raka tak henti-hentinya memberikan kecupan lembut di tangan sang istri yang saat ini sedang terbaring dalam dekapan nya.
Sementara Nayra merasa kelelahan setelah memberikan layanan eksklusif untuk sang suami, ia pun jatuh tertidur apalagi sejam kehamilan nya sudah semakin besar ia memang mudah lelah dan mengantuk.
Nayra mengerang lirih dan terbangun dari tidur nya yang baru beberapa saat itu. "Raka?" lirih Nayra dengan suara yang sangat parau.
"Kenapa, Sayang? Lapar?"
Nayra langsung tertawa, setiap kali ia terbangun di tengah malam seperti ini maka yang akan Raka tanyakan adalah apakah dia lapar.
"Aku sangat kenyang," jawab Nayra dengan wajah yang kembali bersemu. Apalagi saat menyadari ia tak memakai apapun di balik selimut yang menutupi tubuh mereka. "Kenapa kamu nggak tidur?" tanya Nayra kemudian, ia menatap mata sang suami yang kini juga menatap nya dengan intens.
"Aku nggak bisa tidur," jawab Raka sambil merapikan rambut Nayra yang berantakan di sekitar wajah nya. "Aku nggak bisa tidur karena terlalu bahagia, Sayang, aku masih nggak nyangka sekarang kamu benar-benar sudah sah menjadi istri ku."
Nayra tersenyum, ia semakin mendesakkan tubuh nya ke tubuh Raka. Mencari kehangatan yang selalu ia dapatkan setiap malam nya. "Aku justru tidur nyenyak saat terlalu bahagia, seperti malam ini."
"Aku tahu." Raka menyahut, ia menyingkap selimut kemudian mengusap perut buncit Nayra dengan lembut. "Apakah anak Papa juga tidur nyenyak, hm?"
"Seperti nya dia juga tidur." Nayra juga menyentuh perut nya. "Aku udah nggak sabar menanti kelahiran dia, Raka."
__ADS_1
"Aku juga," sahut Raka sambil tersenyum simpul.
"Kamu punya nama untuk anak kita?" Nayra kembali mendongak, menatap wajah sang suami yang semakin terlihat tampan di saat seperti ini.
"Punya, Sayang." Raka menjawab dengan semangat, bahkan ia kedua mata pria itu langsung berbinar terang.
"Siapa?" Nayra jauh lebih bersemangat saat ingin tahu jawaban suami nya itu.
"Kalau cewek, aku ingin kasih nama Aletha Aditya, terus kalau cowok aku mau kasih nama Aditya Alvaro. Bagus nggak?"
Nayra mengetuk-ngetukan jari di dagu nya, ia melirik ke atas seolah sedang berpikir dengan sangat serius. "Gimana, Sayang? Apa kamu punya nama yang lain?" tanya Raka.
"Ya jelas nggak punya," jawab Nayra tanpa berpikir lagi. "Aku tuh nggak ada niatan hamil secepat ini, aku tuh masih pengen jadi Dokter hewan dan pengen memelihara hewan. Maka nya nama yang aku punya cuma bobo."
"Sakit," rengek Nayra sambil mengusap kening nya.
"Maaf, Sayang," kata Raka, ia mengusap kening Nayra kemudian mencium nya dengan lembut. Nayra tersenyum senang mendapatkan perlakuan seperti itu. "Aku juga sakit ini lho." Raka menunjukan lengan nya yang di cubit oleh Nayra. "Obati dong."
"Ishh, kamu neh." Nayra menolak, tetapi wajah Raka langsung merengut yang membuat Nayra merasa tak tega. Ia pun melakukan hal yang sama, membuat wajah suami nya itu kembali berbinar.
__ADS_1
"Alvaro atau Aletha, hm...." Nayra menggumam. "Bagus juga."
...🦋...
"Wajah kamu kenapa, Ra?" pekik Nita saat Naura membuka pintu apartement nya.
"Baru bangun," jawab Naura sambil menguap. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan sudah pukul 9 pagi.
Pagi ini Nita datang ke rumah nya sebab mereka memang ada janji untuk jalan bersama. "Kamu nangis?" tanya Nita sembari mendekatkan wajah nya ke wajah Naura, jelas wanita itu menangis karena mata nya sembab.
"Nggak lah, aku cuma begadang tadi malam. Maka nya aku jadi kesiangan," elek Naura.
Nita memcingkan mata pada teman nya itu. "Kamu sakit? Atau ini masalah...."
Yeah, tentu Nita tahu apa yang sedang terjadi saat ini dan ia yakin itu pasti pukulan yang sangat besar untuk Naura. "Nggak ada apa-apa, nggak ada masalah." Naura berkata dengan lirih.
Semalaman ia memang menangis, tetapi pagi ini ia memang merasa jauh lebih baik. "Aku mandi sebentar, Nit, setelah itu kita pergi." Nita hanya mengangguk sambil menggumam tidak jelas.
Sebelum mandi, Naura menyempatkan diri membuka ponselnya dan ia mengernyit saat mendapati pesan dari nomor yang tak ia kenal. Naura membuka pesan itu dan seketika ia tersenyum saat membaca isinya.
__ADS_1
" Terima kasih untuk gaun nya, Ra, cantik banget dan aku suka banget. Maaf ya aku terlambat mengucapkan terima kasih."
Membaca pesan dari sang adik itu membuka Naura seperti merasakan sesuatu yang tak biasa, seperti ada es membeku yang kini mulai mencair di hatinya.