
"Jika dia terus seperti ini aku khawatir janin dalam kandungannya tak bisa lagi diselamatkan."
"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang, Dokter?"
"Jaga dan rawat dia, jangan sampai tertekan, jangan membuat dia shock."
Samar-samar Nayra mendengar perbincangan seorang wanita dan seorang pria di sampingnya, ia berusaha membuka mata walau terasa sangat berat.
"Sangat penting menjaga kondisi fisik dan psikis wanita yang sedang hamil apalagi ini kehamilan pertamanya dan usia kandungannya baru 3 bulan."
Kedua alis Nayra bertaut saat ia merasakan dentuman yang cukup keras di kepalanya, seolah ada seseorang yang memukul kepalanya dengan keras.
Perlahan, ia berhasil membuka mata dan cahaya terang langsung menyerangnya. "Nayra, Oh Tuhan. Syukurlah kamu sudah sadar."
Nayra menoleh dan samar-samar ia melihat Bian. "Bian?" panggilnya dengan suara yang bahkan hampir tidak terdengar di telinga nya sendiri.
"Iya, Nay," sahut Bian.
"Papa?" Nayra memegang kepalanya yang terasa pusing, ia teringat dengan sang ayah yang seharusnya sekarang membawanya ke luar kota.
__ADS_1
"Om Desta lagi keluar sebentar, Nay."
Bian menggenggam tangan Nayra yang terasa begitu dingin. "Bagaiamana perasaan kamu sekarang? Apa kamu ingin sesuatu?"
Air mata Nayra menetes begitu saja mendengar pertanyaan Bian itu, ia sungguh tak mengerti kenapa bisa ada pria sebaik Bian di dunia ini.
"Aku... Aku..." Nayra menyeka air mata dengan punggung tangannya. "Aku lelah, Bi, lelah banget rasanya," lirih Nayra dengan suara tercekat.
Bian menatap wanita itu dengan sayu, hatinya seperti dicabik-cabik melihat Nayra dalam keadaan seperti ini. "Aku mau udahan aja semuanya, Bi, ambil saja bayi dalam kandunganku ini. Aku nggak mau lagi membawanya dalam hidupku, aku benar-benar sudah sangat lelah."
Mata Bian berkaca-kaca mendengar pengakuan Nayra yang memang tampak sangat tertekan itu. "Jangan bicara begitu, Nay," ucap Bian sembari mengeratkan genggaman tangannya. "Kamu ingat nggak dulu kamu pernah bilang, ayam aja nggak akan rela kehilangan telurnya, di mana calon anaknya tumbuh di sana. Lalu bagaimana bisa manusia seorang manusia menyingkirkan bayi dalam kandungannya?"
"Kamu pasti kuat," ujar Bian. "Kamu mengorbankan banyak hal untuk janin ini, Nay, bahkan kamu mengorbankan aku." Bian berkata dengan begitu lirih dan nada bicaranya menurun di akhir kalimat, ia juga menunduk dalam seolah ia sedang menahan beban dan rasa sakit yang teramat berat.
Isak tangis Nayra semakin menjadi mendengar ungkapan Bian, rasa bersalah kembali menghantamnya. Bian menarik napas panjang kemudian mendongak dan berkata, "Kamu mengorbankan segalanya, Nayra. Kamu sudah melangkah terlalu jauh, kenapa kamu tidak selesaikan saja sampai akhir, hm?"
Pak Desta menitikan air matanya mendengar ungkapan Nayra, sejak beberapa saat yang lalu ia sudah berdiri di depan ruang rawat putrinya itu. Tadinya ia senang mengetahui Nayra sudah sadar tetapi saat ia mendengar ungkapan hati Nayra, hatinya tiba-tiba terasa begitu sakit, dadanya terasa sesak bahkan tubuhnya terasa lemas seperti tak bertenaga.
"Aku udah nggak sanggup, Bian, aku sudah nggak sanggup menahan tekanan dan paksaan mereka, hiksss...." Nayra menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, hingga telapak tangannya itu basah karena air mata yang semakin deras. "Aku bodoh, aku lemah, aku nggak bisa apa-apa selain menurut pada mereka. Bahkan, setelah melahirkan nanti aku juga harus berpisah dengan anakku sesuai permintaan mereka. Haruskah aku meminta persetujuan mereka jika aku ingin mati?"
__ADS_1
Deg
Pak Desta terhenyak mendengar kata-kata Nayra, detak jantungnya seolah berhenti, lututnya terasa begitu lemas bahkan ia sampai tak sanggup lagi berdiri.
Semenderita itu kah putrinya selama ini? Dan sebagai seorang ayah yang seharusnya menjaganya, kini ia justru menambah tekanan yang luar biasa?
"Nayra, jangan bilang begitu," tegur Bian, ia mengusap pundak Nayra yang bergetar. "Kamu kamu nggak lemah, kamu nggak bodoh. Kamu hanya terjebak dalam situasi mengerikan dari orang-orang yang kamu cintai. Jika aku menjadi kamu, aku pasti melakukan hal yang sama."
"Kenapa mereka begitu, Bian? Katanya mereka keluargaku, Sayang sama aku, tapi kenapa mereka menempatkanku seperti di neraka?"
...🦋...
Raka memeriksa cctv di rumahnya dan ia mengernyit saat menyadari Bian datang ke rumahnya, bahkan pria itu sempat mengobrol dengan Nayra. "Apa mereka pergi bersama?" gumam Raka kesal bahkan ia sampai melempar laptopnya hingga hancur.
"Jadi kamu nggak dibawa pergi, Nay? Tapi kamu memang pergi, sialan!"
...🦋...
__ADS_1