Rahim Nayra Untuk Naura

Rahim Nayra Untuk Naura
Bab 43 - Masih Misteri


__ADS_3

Sepanjang malam Raka hanya duduk merenung di dapur sambil memperhatikan anak kucing yang makan dengan sangat lahap, tatapan pria itu tampak kosong dan tubuhnya mulai lemas sebab ia tak makan atau pun minum sejak kemarin sore.


Bahkan, sepanjang malam posisi duduknya juga tak berubah. Seolah Raka sudah mati rasa setelah Kepergian Nayra.


"Astaga Tuan Raka!" pekik Bi Jum yang baru saja masuk ke dapur, ia sangat terkejut karena untuk pertama kalinya Raka sudah ada di dapur pagi-pagi buta seperti sekarang. "Taun Raka lapar?" tanya Bibi Jum sembari melangkah pelan mendekati Raka yang masih melamun.


"Tuan ...."


Raka tersentak saat Bi Jum menepuk pundaknya, pria itu menoleh dan tampak baru menyadari bahwa pagi sudah datang. "Tuan sejak kapan ada di sini? Tuan Raka tidak tidur?" tanya Bi Jum lagi apalagi ia melihat pakaian Raka masih sama dengan yang kemarin, bahkan mata pria itu terlihat begitu sayu dan lingkaran hitam sedikit terlihat di bawah matanya.


"Siapkan sarapan secepatnya!" seru Raka tanpa memperdulikan pertanyaan-pertanyaan Bi Jum yang mengkhawatirkannya. "Dan mandikan kucing itu sampai bersih," tambahnya yang membuat Bi Jika melotot.


Tatapannya kini langsung tertuju pada kucing yang masih makan di lantai, ia meringis karena baru menyadari di dapurnya ternyata ada kucing.


"Tuan Raka mau kopi?" tawar Bi Jum lagi


Namun, lagi-lagi Raka mengabaikannya dan ia langsung pergi begitu saja.

__ADS_1


Raka menarik napas kemudian menghembuskannya secara perlahan, ia melakukan itu beberapa kali untuk menenangkan hatinya yang gundah. Raka masuk ke kamar mandi, ia melepas seluruh pakaiannya kemudian ia berdiri di bawah guyuran air shower.


"Ya Tuhan, bagaimana caraku mencari Nayra?"


...🦋...


"Sayang?"


Nayra yang saat ini hanya mengaduk-ngaduk makanannya dibuat tersentak saat tiba-tiba sang ayah menepuk pundaknya.


"Kenapa, Pa?" tanya Nayra sambil berusaha tersenyum walau rasanya terasa begitu sulit.


Nayra hanya mengangguk, ia pun menyantap menu sarapan di restaurant hotel itu meski sebenarnya terasa sulit untuk ditelan. "Papa janji akan sering mengunjungi kamu nanti, Papa cuma minta kamu jangan hubungi siapapun, okay? Termasuk Mama."


Lagi-lagi Nayra hanya bisa mengangguk lemah, saat ini ia memang tidak berdaya. Dan entah kenapa ia selalu tak berdaya, dulu karena kakaknya, sekarang karena ayahnya. Memikirkan semua itu membuat Nayra tersenyum sinis.


"Pa, aku ke toilet dulu," kata Nayra.

__ADS_1


"Perlu Papa antar, Sayang?" tanya Pak Desta.


"Nggak, Pa, aku bisa sendiri."


Tanpa ada yang menyadari, Bian berdiri tak jauh dari meja Pak Desta sejak beberapa menit yang lalu. Bian terkejut melihat Nayra ada di hotel, apalagi raut wajah wanita itu yang tampak begitu pucat dan lemas seperti orang sakit.


Bian sudah akan menghampiri Nayra sejak tadi tetapi pria itu mengurungkan niatnya karena ada pak Desta. Dan saat Nayra pergi ke toilet, Bian pun mengikutinya diam-diam.


Bian menunggu Nayra dengan sabar, bahkan ada beberapa wanita yang menatapnya dengan sinis tetapi Bian tak perduli. Yang ia fikirkan saat ini hanya Nayra, ada apa dengannya dan kenapa bisa ada di hotel.


Tak lama kemudian yang ditunggu pun muncul, Nayra yang melihat kedatangan Bian tampak sangat terkejut. "Bian?" gumamnya.


"Nay, kamu sakit?" tanya Bian sambil meletakkan punggung tangannya di kening Nayra, secara spontan Nayra menepis tangan Bian.


"Aku baik-baik aja," jawab Nayra lirih kemudian ia segera pergi meninggalkan Bian. Namun, pria itu mengejarnya.


"Nay, badan kamu panas, kamu juga pucat banget," seru Bian tetapi Nayra enggan menanggapi, ia terus berjalan menuju ke mejanya. "Nayra!" teriak Bian yang seketika membuat wanita itu menoleh. "Kamu kenapa sih, huh?" desis Bian sembari mendekati Nayra. Namun, tiba-tiba Nayra jatuh pingsan yang membuat Bian langsung panik.

__ADS_1


"Nayra!"


__ADS_2