
"Baik-baik ya, Sayang, jaga cucu kami," kata Bu Irna yang kini sudah bersiap pulang bersama suami nya.
"Mama juga, jaga kesehatan," kata Nayra sembari memeluk sang Ibu dengan sangat erat.
"Kami akan ke sini jika ada waktu luang, Sayang." Pak Desta membelai rambut Nayra, bisa ia lihat sorot mata putri nya itu tampak sedih karena sang Ibu tak jadi tinggal di sana.
"Iya, nggak apa-apa kok," sahut Nayra pasrah sambil melirik ibu mertua nya. "Masih ada Mama Mita di sini, ya meskipun sebentar lagi Mama Mita juga mau pulang."
Bibir nya memang berkata tidak apa-apa, tetapi sorot mata dan raut wajah nya jelas memperlihatkan kesedihan nya.
Bu Irna menjadi tidak tega saat melihat Nayra, ia kembali memeluk anak nya itu dengan sangat erat. "Maafin Mama," bisik nya dengan lirih. "Mama sayang banget sama kamu, Sayang, kamu sama Naura adalah belahan jiwa Mama."
Nayra tersenyum tipis, kedua mata nya berkaca-kaca mendengar ungkapan cinta sang Ibu. "Mama pikir kamu nggak pernah ingin di manja karena kamu nggak pernah memperlihatkan keinginan itu, bukan maksud Mama nggak mau memanjakan kamu."
Bu Irna mengingat kembali kebersamaan nya dengan Nayra selama seminggu ini. 24 jam dia selalu bersama putri nya itu, tidak seperti di Indonesia di mana mereka sama-sama punya kesibukan.
Hal ini membuat Bu Irna bisa melihat sikap yang sesungguh nya dari Nayra, putri nya tidak manja hanya karena hamil. Namun, Nayra manja karena ia di manjakan oleh orang yang tepat.
Nayra yang mendengar kata-kata sang ibu merasa terenyuh, baru kali ini ibu nya itu meminta maaf untuk hal yang sebenarnya tidak perlu.
"Mama jangan bicara begitu," lirih Nayra sembari melerai pelukan nya. "Mama adalah Ibu terbaik buat aku dan aku merasa sangat beruntung karena lahir dari rahim Mama."
Bu Irna mengangguk sambil mengulum senyum lembut.
Raka yang melihat itu ikut tersentuh, ini adalah kemajuan yang luar biasa untuk hubungan mereka.
"Raka, tolong jaga Nayra ya, Nak," pinta Bu Irna.
"Pasti, Ma," jawab Raka sambil merangkul sang istri.
"Sudah saat nya pergi," ajak Pak Desta.
"Sopir sudah di depan, Pa," ujar Raka. "Maaf kami nggak bisa mengantar kalian ke Bandara."
Pak Desta mengangguk mengerti, begitu juga dengan Bu Irna.
Sekali lagi Bu Irna memeluk Nayra, mencium kening dan pipi nya dengan lembut.
"Kami menunggu mu pulang, Nayra."
...🦋...
__ADS_1
Setelah kepulangan kedua orang tua nya, Nayra merasa seperti ada sesuatu yang hilang dari nya. Namun, untung lah masih ada mertua nya yang menggantikan posisi mereka.
Sementara itu, Naura yang tahu orang tua nya akan pulang tentu saja sangat senang dan ia sudah memberi tahu mereka Naura sendiri yang akan menjemput mereka.
Setelah pertemuan terakhir nya dengan Arsen di cafe, pria itu tak pernah lagi muncul di depan Naura. Membuat Naura merasa tenang, ia berpikir mungkin pria itu sibuk dengan baby nya.
"Mia!" panggil Naura pada asisten nya yang sedang sibuk itu.
Wanita yang di panggil Mia itu pun langsung menghampiri Nuara. "Iya, Bu?" sahut nya.
"Aku mau ke Bandara, kaya nya nanti aku ngga akan ke sini lagi. Tolong handle semua nya, ya!"
"Baik, Bu," jawab Mia dengan patuh.
Naura berjalan keluar dari butik sambil bermain ponsel nya, ia tersenyum saat melihat foto-foto kedua orang tua nya bersama Nayra selama di Australia. Melihat senyum mereka bertiga membuat Naura ikut merasa bahagia.
Namun, masih ada sedikit rasa perih di hati nya karena ia tak ada di sana.
"Lagi jatuh cinta, Bu?"
"Astaga!"
Naura memekik terkejut saat tiba-tiba Arsen ada di hadapan nya, menghadang jalan Naura.
"Kamu?" desis Naura kesal.
"Lagi sibuk, Ra?" tanya Arsen basa-basi.
"Ada apa lagi?"
Lagi-lagi Arsen terkekeh saat pertanyaan nya di jawab dengan pertanyaan oleh Naura.
"Aku mau ngajak kamu dinner nanti malam," ujar Arsen tanpa basa basi lagi.
"Aku sibuk," ketus Naura. Ia berjalan melewati Arsen tetapi pria itu langsung menarik pergelangan tangan Naura.
Naura mulai tampak kesal, sorot mata nya kembali tajam. Namun, itu justru membuat Arsen terkekeh.
"Aku tahu kamu mau ke Bandara, kan? Ayo aku antar."
"Hah?" pekik Naura. Tentu saja dia terkejut, tak menyangka Arsen akan tahu dia akan ke mana. "Kata siapa?"
__ADS_1
"Kata Nita," jawab Arsen dengan tenang.
"Aku bisa sendiri," ketus Naura.
Dia pun langsung berjalan cepat menuju parkiran.
Naura hanya menganga melihat ban mobil nya yang entah bagaimana bisa kempes secara tiba-tiba. Hal pertama yang ada dalam benak nya tentu saja Arsen. Naura sangat yakin pria itu sengaja membuat ban mobil nya kempes.
"Ada apa, Bu?" tanya Arsen yang menyusul Naura.
"Cara kamu itu udah kuno banget tahu nggak," seru Naura kesal.
"Maksud nya?" tanya Arsen bingung.
"Pura-pura bodoh lagi." Naura menggeram kesal sambil melirik ban mobil nya. "Udah bodoh, masih pura-pura bodoh, makin terlihat bodoh."
Arsen menganga lebar, ia sungguh tak menyangka Naura akan menghina nya sedemikian rupa.
"Apa kau sehat, Naura?" Arsen menyentuh kening Naura dan secara spontan Naura memukul tangan pria itu.
"Kamu yang buat ban mobil ku kempes, kan?" tuding Naura.
Arsen terlihat semakin bingung, ia pun melihat ban mobil Naura dan sekarang ia mengerti apa yang membuat wanita cantik itu marah.
"Kamu fikir aku yang membuat ban mobil kamu kempes?" tanya Arsen.
"Siapa lagi?" ketus Naura.
"Astaga, kenapa aku harus melakukan itu?" Arsen hanya bisa geleng-geleng kepala, ia menghela napas berat dan bersamaan dengan itu penjaga parkir datang menemui Naura.
"Bu Naura mau pulang?" tanya pria paruh baya itu.
"Iya lah," jawab Naura ketus seperti biasa.
"Ban mobil Ibu kempes karena tadi ada paku di sana," ujar pria itu yang membuat Naura menganga. "Tadi saya mau kasih tahu Ibu, tapi Bu Naura kaya nya buru-buru."
Wajah Naura memerah, menahan malu karena ia sudah menuduh Arsen yang melakukan nya.
"Kenapa, Ra? Kok diem?" ejek Arsen. "Apa kamu pikir aku membuat ban mobil kamu kempes, terus setelah itu aku bisa mengajak kamu pergi bersama, hm?"
Naura semakin salah tingkah, ini kali pertama dalam hidup nya ia mengalami kejadian seperti ini. Sangat memalukan.
__ADS_1
Tak ingin harga diri nya terluka, Naura mengabaikan Arsen dan ia memanggil taksi. Namun, bersamaan dengan itu Mama nya mengirim pesan, menanyakan keberadaan Naura karena mereka sudah menunggu.
"Astaga!"