Rahim Nayra Untuk Naura

Rahim Nayra Untuk Naura
Bab 72 - Antara Trauma dan Asmara


__ADS_3

Perasaan Naura jauh lebih baik setelah ia bertemu dengan teman-teman nya, bersenang-senang dengan mereka meski sebenarnya dia lebih banyak menghabiskan waktu di kamar selama di Villa.


Namun, semua itu sudah cukup untuk membuat nya melupakan Nayra dan Raka sejenak. Sesuai jadwal, mereka hanya tinggal di Villa selama 24 jam karena semua teman-teman Naura memiliki kesibukan masing-masing.


"Mau pulang sama aku, Beb?"


Naura yang hendak masuk ke mobil Nita di kejutkan dengan Arsen yang entah bagaimana tiba-tiba ada di belakang nya. "Kita bareng, yuk? Kaya nya kita searah," ujar Arsen lagi. Namun, Naura langsung masuk ke mobil Nita tanpa menanggapi Arsen sedikit pun.


Sepupu Ian itu hanya bisa menganga lebar, tak pernah sekalipun sebelum nya ia di abaikan begitu saja oleh seorang wanita.


"Apa dia anti laki-laki setelah bercerai?" gumam Arsen sambil berdecak heran.


Sementara di dalam mobil, Naura justru asyik memutar musik dan bersender dengan nyaman sambil menunggu kedatangan Nita.


Tak berselang lama, yang di tunggu pun akhir nya datang. "Kamu kenapa sih, Ra? Kaya anti banget sama Arsen," ujar Nita yang memang merasa heran dengan perubahan sikap Naura. Padahal, dulu Naura tidak seperti itu. Dia akan menanggapi siapa pun yang berbicara dengan nya, entah dengan tanggapan ketus, lembut atau bahkan marah-marah. Tergantung dari siapa lawan bicara nya, tetapi dengan Arsen? Naura seolah tak melihat pria itu.


"Entahlah, Nit, aku kaya muak aja liat muka dia," jawab Naura dengan jujur yang membuat Nita langsung melongo.


"Emang dia punya salah apa sama kamu, Ra? Dia belum melecehkan kamu lho," kekeh Nita.


"Aku juga nggak tahu," lirih Naura yang memang tidak mengerti ada apa dengan diri nya sendiri, ia seolah enggan jika ada pria yang terlihat tertarik dengan nya. Seperti ada trauma tersembunyi dalam hati nya.


"Mungkin aku cuma nggak suka dengan pria yang baru kenal tapi sok dekat," tambah nya. Nita mengangguk mengerti, ia pun melajukan mobil nya dengan pelan, mengikuti mobil teman yang lain yang sudah melaju lebih dulu.


"Atau kami nggak suka dengan pria yang terlihat ingin menjalin hubungan dengan mu?" sindir Nita sambil melirik Naura sekilas, sementara teman nya itu hanya tersenyum sinis.


Kenapa dia harus tidak suka dengan pria yang ingin menjalin hubungan dengan nya? Tidak ada alasan untuk Naura trauma pada sebuah hubungan dan laki-laki karena pada dasar nya Raka dan hubungan mereka selama ini baik-baik saja.


"Mungkin aku nggak percaya diri aja, Nit, aku nggak akan bisa jadi pasangan yang baik untuk siapa pun."

__ADS_1


...🦋...


Nayra terus terngiang-ngiang dengan apa yang di katakan oleh sang ibu, tentu ia mengerti perasaan ibu nya karena situasi sekarang. Tak ada yang bisa tenang melihat kedua anak nya, apalagi anak kembar justru saling menjauh karena sebuah masalah yang sangat serius.


Naura yang saat ini sedang ada di kamar nya langsung bergegas ke ruang kerja Raka, ia berfikir harus membicarakan masalah ini dengan suami nya itu.


"Ada apa, Sayang?" tanya Raka yang melihat sang istri memasuki ruang kerja nya.


"Kamu sibuk?" Nayra bertanya sambil mendaratkan bokong nya di sofa yang ada di dekat jendela.


"Sedikit," jawab Raka


Nayra hanya mengangguk, ia memperhatikan Raka yang tampak sangat serius dengan laptop nya.


"Mungkin Mama benar, Raka, kita bisa pulang dan mencoba memperbaiki hubungan kita dengan Naura."


Raka yang mendengar ucapan sang istri hanya bisa menghela napas berat, dan dengan terpaksa ia harus menghentikan aktivitas nya itu.


"Tapi semua ini terjadi memang karena Naura, Raka," rengek Nayra. "Aku juga masih sulit dengan keadaan ini, tapi terkadang memang harus di paksa, kan? Nggak ada pilihan lain."


"Aku tahu," jawab Raka dengan cepat. "Semua ini terjadi karena dia tapi dia bukan kamu, Sayang. Naura kehilangan segala nya dan itu yang membuat dia pasti sulit menerima keadaan yang ada meskipun ini memang salah dia," ujar Raka penuh penekanan.


"Sementara kamu? Aku tahu kamu nggak salah, kamu terpaksa tapi itu justru membuat kamu memiliki segala nya, suami dan anak, rumah tangga yang utuh," papar Raka yang seketika membuat Nayra terhenyak. "Posisi Naura jauh lebih sulit sebenarnya, Sayang."


Raka beranjak dari kursinya, ia mendekati Nayra dan duduk di sisi sang istri. "Aku tahu kamu sangat ingin baikan dengan Naura, tapi kamu harus sabar, okay?" Dengan mesra Raka merapikan rambut sang istri yang memang sedikit berantakan itu.


"Kalau kamu memaksakan diri, yang ada nanti Naura makin benci sama kita dan dia nggak ada bisa move on. Dia akan sulit memulai hidup yang baru," ujar Raka yang terdengar bijak.


Nayra terdiam sejenak, berusaha mencerna apa yang di katakan oleh sang suami.

__ADS_1


"Sayang, ini demi kita kebaikan semua, termasuk Naura."


Nayra menatap sang suami kemudian mengangguk mengerti. "Terima kasih," ucap Nayra. "Kamu selalu ada untuk aku, selalu memberikan solusi dan pendapat yang baik. Tapi ...." Kening Nayra sedikit berkerut.


"Tapi apa?" tanya Raka karena istri nya itu sengaja menggantungkan kata-kata nya.


"Kalau seandainya kamu nggak mencintai aku, apa kamu masih akan menceraikan Naura?" cicit Nayra.


Tanpa ragu dan tanpa berfikir dua kali, Raka langsung mengangguk. "Kenapa?" tanya Nayra.


"Bagi ku, pernikahan itu bukan tentang kesempurnaan, Sayang, tapi tentang saling melengkapi dan saling jujur. Sementara Naura? Dia nggak mau jujur, dia juga nggak mau saling melengkapi, dia mau yang sempurna dan itu hal yang nggak mungkin," tukas Raka penuh penekanan.


"Aku akan tetap menceraikan Naura meskipun jika seandainya aku nggak mencintai kamu," tambah nya.


"Jadi kamu menikahi ku karena memang mencintai ku?" cicit Nayra, tatapan wanita itu mulai tampak berbeda pada Raka, seperti malu-malu.


"Yaps," jawab Raka sambil mengulum senyum saat melihat raut wajah Nayra yang berubah.


"Bukan karena aku hamil dan ... em karena kamu sudah ... Ehem ehem." Entah kenapa tiba-tiba Nayra merasa malu saat mengingat malam pertama mereka dulu.


"Karena aku yang mengambil kesucian kamu?" tanya Raka yang seketika membuat wajah Nayra merah padam. Sementara Raka kini terkekeh, merasa gemas sendiri dengan reaksi Nayra.


"Bukan, Sayang," tegas Raka. "Aku bukan menikahi kamu karena kamu hamil, tapi aku sengaja buat kamu hamil supaya aku bisa menikahi kami."


"Ish, Raka." Nayra langsung mencubit lengan suami nya itu, sementara Raka hanya tertawa kecil.


"Ngomong-ngomong soal malam pertama, kita baru melakukan nya sekali. Aku masih mau lagi, boleh kan?"


"Nanti malam?"

__ADS_1


"Sekarang."


"Raka!"


__ADS_2