
Arsen berlari di lorong sakit menuju ruang operasi, keringat dingin sudah membanjiri tubuh pria itu. Napasnya terengah-engah, bahkan tangannya gemetar sejak saat ia mendapatkan kabar kecelakaan Naura.
"Tante?" panggil Arsen pada Bu Irna yang kini duduk merenung dengan tatapan kosong, wajah wanita paruh baya itu tampak sanga pucat.
"Tante?" Sekali lagi Arsen memanggilnya dengan lembut, bahkan ia bersimpuh di depan ibu si kembar yang tampak terpukul ini. "Semuanya akan baik-baik saja," ujar Arsen yang seketika membuat tangis Bu Irna pecah.
"Na-Naura, Arsen, dia ...."
Arsen langsung memeluk Bu Irna, berharap itu bisa memberikannya sedikit ketenangan. "Papa dan Naura," lirih Bu Irna.
"Mereka akan baik-baik saja," ucap Arsen meski sebenarnya ia tidak tahu bagaimana keadaan mereka berdua yang saat ini sama-sama sedang berada di ruang operasi.
Kecelakaan yang dialami oleh Pak Desta dan Naura memang cukup parah, bahkan orang-orang yang membantu mengevakuasi mereka merasa tak yakin kedua korban itu akan selamat.
Arsen membiarkan Bu Irna menangis di pelukannya hingga akhirnya kedua orang tua Raka juga datang ke sana.
"Bagaimana keadaan mereka?" tanya Bu Mita dengan raut wajah yang tampak sangat cemas.
"Aku nggak tahu, Tante," jawab Arsen. "Tapi ini sudah lebih dari empat jam, mereka belum juga keluar," paparnya.
__ADS_1
"Ya Tuhan." Bu Mita mengusap pundak besannya itu dengan lembut. "Kita akan melewati ini bersama, Ir," bisiknya, "Naura dan ayahnya akan baik-baik saja, mereka orang yang kuat."
Bu Irna hanya mengangguk sembari mengusap air matanya. "Apa Nayra tahu?" tanya Bu Irna kemudian. "Aku mohon jangan memberi tahunya, dia pasti__"
"Aku sudah memberi tahu Raka," sela Pak Aditya yang membuat Bu Irna langsung menghela napas berat.
"Maafin aku, Mbak, tadi kebetulan Raka telfon sesaat setelah kami mendapatkan kabar ini. Jadi__"
"Aku cuma nggak mau mereka khawatir," lirih Bu Irna. "Nayra sangat sayang sama ayahnya, dia pasti sangat cemas sekarang."
...🦋...
Ia sangat takut, sehingga ia memohon pada Raka agar mereka kembali ke Indonesia.
"Sayang, kita nggak bisa pulang begitu saja," kata Raka sembari menyeka air mata Nayra yang sejak tadi terus mengalir.
Saat ini dia menyusui Baby Al tetapi ia juga tak bisa berhenti menangis karena terus memikirkan sang Ayah.
"Udah dong nangisnya, Nay, kasian Baby Al." Air mata Nayra bahkan jatuh membasahi wajah putranya itu.
__ADS_1
"Aku mau pulang, Raka, aku takut," lirih Nayra untuk yang kesekian kalinya. "Aku mohon." Ia mengiba pada sang suami.
"Okay," jawab Raka akhirnya yang sudah merasa tak tega dengan keadaan Nayra. "Kita akan pulang, tapi aku mohon jangan menangis lagi, Sayang," bujuk Raka dengan lembut. "Baby Al pasti bisa merasakan kesedihan kamu dan nanti dia akan ikut sedih."
Nayra mengangguk sembari menyeka air matanya. "Mereka akan baik-baik saja, hem?" lagi-lagi Nayra hanya bisa mengangguk.
Raka pun segera mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang yang bisa membantunya pulang hari ini juga.
Sementara Nayra kini memegang kedua tangan putranya itu kemudian menyatukannya. "Kita berdoa untuk tante dan kakek ya, Nak." Nayra kini memejamkan mata dan memanjatkan doa dengan begitu lirih.
"Kami telah terpisah karena keegoisan kami masing-masing, Tuhan. Aku mohon jangan biarkan kami terus berpisah seperti ini, kami ingin berkumpul lagi dan tertawa bersama."
...🦋...
Buat yang punya akun ini, aku minta maaf ya karena aku nggak sengaja tolak saat mau masuk GC, hehe. Mau aku klik terima, eh jariku keseleo malah klik yang di bawahnya.
Jadi, silakan masuk ajukan permintaan masuk lagi, okay?
Sekali lagi maafkan aku.
__ADS_1