Rahim Nayra Untuk Naura

Rahim Nayra Untuk Naura
Bab 47 -


__ADS_3

"Kapan aku bisa pulang?" tanya Nayra pada suster yang datang untuk memeriksa keadaannya.


"Setelah keadaan Ibu benar-benar pulih," jawab Suster itu sambil tersenyum lembut.


Nayra hanya mendengar napas lesu sambil menatap pintu, ia sedang menunggu sang ayah yang tak kunjung kembali setelah tadi siang dia pamit untuk pulang sebentar.


Nayra tersenyum kecut, ia merasa ayahnya tak lagi perduli padanya karena itulah dia tidak kembali. Padahal Nayra sakit dan sangat membutuhkan sang ayah untuk menjaganya saat ini, tetapi seperti biasa takkan ada yang perduli padanya.


"Saya permisi dulu, Bu," ujar Suster dan Nayra hanya menanggapinya dengan anggukan kecil.


Setelah suster itu menutup pintu, Nayra langsung berbicara pada janin dalam rahimnya itu. "Kamu harus kuat, ya. Jangan lemah, apalagi mati," ucapnya sambil tersenyum getir. "Bian benar, aku mengorbankan segalanya untuk mendapatkan kamu. Jadi jangan pernah berani membuat pengorbananku sia-sia." Nayra mengelus perutnya dengan lembut.


"Semoga kamu nggak punya kembaran juga karena itu nggak menyenangkan seperti yang orang lihat, kata orang, lucu kalau punya anak kembar. Tapi nyatanya? Sakit tahu kalau nanti kami dimanfaatkan." Nayra terkekeh meski air mata kembali menetes dari sudut matanya, ia pun segera menyeka air mata itu kemudian menghela napas panjang.


"Oh ya, setelah kamu lahir nanti ...." Napas Nayra mulai terasa memberat, hidungnya sudah kembang kempis bahkan bibirnya sudah bergetar. "Semoga kita nggak ketemu lagi, ya."


Nayra menarik napas panjang kemudian menghembuskannya secara perlahan, beberapa kali ia mengulangi hal itu kemudian dia memejamkan mata. "Sekarang kita tidur, okay? Istirahat, biar besok kita punya tenaga untuk lari dari kenyataan." Nayra mencibir dirinya sendiri, bahkan ia menertawakan nasibnya hingga tiba-tiba ia dikejutkan dengan pintu dibuka dengan kasar.

__ADS_1


"Ada ap—"


Nayra tak sanggup melanjutkan kata-katanya melihat siapa yang datang.


"Raka?"


...🦋...


"Please, Pa, kasih tahu di mana Nayra. Apa dia baik-baik aja?" Untuk ke sekian kalinya Bu Irna merengek pada sang suami, ia tak bisa lagi menahan kecemasan yang ia rasakan apalagi sekarang hari sudah malam. Di luar sana sudah gelap dan dia tidak tahu di mana anaknya berada.


"Udah lah, Ma, nggak usah cari Nayra untuk sementara waktu," seru Paj Desta dengan tegas. "Dia juga waktu sendiri untuk menenangkan perasaannya, dia butuh ruang untuk menjauh dari orang yang membuat tertekan." Lanjutnya.


Pak Desta menatap mata sang istri lekat-lekat, memang benar, kecemasan terlihat dengan jelas di mata ibu si kembar itu. Namun, Pak Desta tetap tak bisa memberi tahu apapun pada istrinya karena nanti dia pasti akan memberi tahu Naura. Dan anak sulungnya itu pasti kembali melukai Nayra.


"Kita tunggu dia pulang dengan sendirinya," ujar Pak Desta kemudian yang membuat Bu Irna tampak sangat kesal.


"Kapan? Kapan dia akan pulang?" teriaknya.

__ADS_1


"Mungkin kalau kita sudah tahu dan sadar, bahwa kita membutuhkannya dan dia membutuhkan kita."


Sementara di sisi lain, Naura hanya duduk merenung di jendela kamarnya yang terbuka lebar. Ia mengingat kembali kebersamaannya dengan Nayra sejak kecil hingga mereka dewasa. Selama ini tak pernah ada yang salah dengan hubungan mereka, semuanya baik-baik saja dan bertukar peran sudah sering mereka lakukan dalam beberapa situasi.


Bukan hanya Naura yang memanfaatkan Nayra, tetapi juga sebaliknya.


Nayra tidak pandai dalam beberapa pelajaran dan Naura pandai dalam pelajaran tersebut, maka Naura akan menggantikannya saat ujian. Begitu juga sebaliknya, di pelajaran yang tak Naura kuasai, maka Nayra akan menggantikan posisinya saat ujian.


Bahkan, pernah sekali Nayra dihukum berdiri di lapangan selama setengah jam karena dia lupa melupakan pekerjaan tugas. Maka mereka bergantian berdiri di lapangan, Nayra akan izin ke toilet dan saat itulah Naura yang akan kembali ke lapangan.


Namun, Naura lupa bahwa pertukaran peran yang mereka lakukan bukan menipu guru atau orang tua dalam waktu beberapa jam saja. Namun, ini membutuhkan waktu yang cukup lama, melibatkan dan mempertaruhkan banyak hal. keluarga, dan perasaan.


"Haruskah aku merelakan semuanya terjadi?


...🦋...


Yang belum mampir ke sini, mampir yuk, teman-teman. Masih sepi dan hangat.

__ADS_1



__ADS_2