
"Ra, nggak mau makan? Semua udah kumpul tuh di meja makan," kata Nita yang hanya memunculkan sedikit kepala nya di sela-sela pintu yang sedikit terbuka.
Sementara Naura saat ini masih bergelut dengan selimut nya, ia merasa sangat malas untuk beranjak dari ranjang.
"Aku malas, Nit, duluan aja," ujar Naura.
"Yah, nggak seru dong, Ra." Nita membuka pintu Lebih lebar, ia pun masuk ke kamar yang di tempati oleh diri nya dan Naura. "Kapan lagi kita bisa bersenang-senang seperti ini, Ra? Setahun sekali juga belum tentu." Nita merengut kesal.
"Ada berapa orang yang datang?" tanya Naura kemudian.
"Ian, Vely, Gilang, Chitra, sama Arsen."
"Sama siapa?" tanya Naura dengan kening yang berkerut dalam saat mendengar nama yang terkahir Nita sebutkan, nama itu cukup asing baginya dan ia merasa tak punya teman sekolah yang bernama Arsen.
"Arsen," jawab Nita. "Sepupu nya Ian, dia memang bukan teman sekolah kita. Tapi Ian bilang dia mau ikut, mau kenal sama kita-kita kata nya," papar Nita panjang lebar. Naura hanya mengangguk mengerti, tanpa mau memberikan komentar atas kehadiran Arsen yang bagi nya sangat asing itu.
"Ayo gabung, Ra, kita ke sini kan memang buat senang-senang," seru Nita kemudian.
"Ya udah iya," akhir nya Naura mengalah, dengan malas ia menyingkap selimut nya dan merangkak turun dari ranjang.
Mereka pun bergegas menuju meja makan di mana teman-teman mereka sudah berkumpul di sana.
"Kamu nggak penasaran dengan Arsenio, Ra?" tanya Nita setengah berbisik.
"Arsenio? Siapa?" Naura balik bertanya bahkan kening wanita itu kembali berkerut dalam.
"Loh, baru beberapa detik yang lalu aku kasih tahu kalau Arsen itu sepupu Ian, Ra," seru Nita terheran-heran.
"Kamu bilang Arsen, bukan Arsenio," ucap Naura yang membuat Nita langsung menganga.
"Kan nama panjang nya Arsenio, nama panggilan nya Arsen, Ra."
"Kenapa kalian membicarakan ku?"
Naura dan Nita langsung menoleh saat mendengar suara bas seorang pria, saat Nita menyadari itu adalah Arsen, dia hanya cengengesan sementara Nuara justru memasang wajah datar nya.
"Kenapa? Apa kalian mengagumi ku?" Arsen menaik turunkan alis nya sambil tersenyum manis, membuat Naura merasa geli sendiri.
Naura pun mempercepat langkah nya menuju meja makan. "Kenapa dengan teman mu itu?" tanya Arsen. "Wajah nya datar, seperti papan."
"Nggak apa-apa, memang begitu orang nya," jawab Nita.
"Kata Ian dia kembar, apa jangan-jangan yang itu bukan Naura tapi kembaran nya?"
__ADS_1
"Ck!" Nita langsung berdecak dan menatap Arsen dengan kesal.
"Kembaran Naura sekarang lagi di Australia."
"Oh ya? Ngapain? Kerja?
"Menikah!"
"Oh, terus kenapa Naura nggak datang ke pernikahan adik nya sendiri?"
"Karena yang di nikahi mantan suami Naura, Raka!"
"Hah?"
...🦋...
Bu Irna masih merasa takjub melihat bagaimana Raka memperlakukan Nayra dan bagaimana putri nya bersikap manja pada Raka.
Dia benar-benar baru mengetahui sisi Nayra yang sangat jarang dia lihat.
"Dia bergerak di sini." Nayra membawa tangan Raka ke sisi perut nya, di mana janin dalam perut nya itu mulai bergerak dengan sangat aktif.
Saat ini Nayra sedang tiduran di ranjang dengan berbantal kan paha Raka. Nayra hanya memakai kaos tipis dan menyingkap kaos itu hingga dada nya. Nayra memamerkan perut besar nya pada sang
"Apa menendang?" bisik Raka sambil mengusap perut Nayra.
Raka mendekatkan wajah nya ke perut sang istri, ia mencium perut buncit itu kemudian berkata, "Halo, anak papa. Kenapa kamu menendang? Apa mau jadi pemain bola?"
Nayra tertawa mendengar pertanyaan sang suami. "Bagaimana kalau dia perempuan?"
"Bukan nya ada juga pemain bola perempuan?" Raka menatap sang istri dengan sendu. "Apapun jenis kelamin nya dan apapun yang menjadi hobi nya nanti, aku mau kita mendukung nya. Okay?"
Nayra langsung mengangguk dengan semangat.
"Aku mau ke kamar mandi dulu sebentar, Sayang, mau pipis," kata Nayra sambil cengengesan yang membuat Raka juga tertawa.
"Perlu aku antar?" goda nya.
"Boleh, sekalian temenin sampai selesai." Nayra membalas samil mencolek pipi Raka dengan gemas.
Sambil memegang pinggang nya yang mulai terasa sakit, Nayra pun bergegas ke kamar mandi. Sementara Raka kini turun untuk menemui orang tua nya yang sedang berkumpul di bawah.
"Nayra di mana, Raka?" tanya Bu Irna.
__ADS_1
"Lagi di kamar, Ma," jawab Raka, ia mendaratkan bokong nya di sofa bulat yang hanya muat untuk satu orang.
"Oh ya, Mama mau tanya," kata Bu Irna sambil melirik ke atas tangga, sementara Raka hanya menaikan ujung alis nya. "Apa Nayra manja begini karena hamil atau memang dia manja?"
Pupil mata Raka melebar mendengar pertanyaan itu, tentu saja dia bingung harus menjawab karena Raka sendiri hanya mengenal Nayra dengan sangat dekat saat wanita itu hamil. Bahkan, Raka merasa seharusnya dia yang bertanya seperti itu pada mertua nya itu karena dia adalah Ibu Nayra. Dia yang tahu Nayra luar dalam.
"Kenapa Mama tanya gitu?" Raka balik bertanya.
"Soal nya dulu Nayra nggak pernah bersikap manja, dia juga nggak pernah merengek meminta apapun pada kami," papar Bu Irna.
Raka terdiam sejenak, mencoba mengingat-ingat sikap Nayra dulu. "Sedangkan sekarang, Mama lihat dia manja bahkan bisa merengek seperti anak kecil."
"Yang Mama lihat itu nggak seberapa," seru Raka kemudian sambil terkekeh. "Nayra itu bukan cuma manja, tapi dia itu sebenarnya juga pemarah, mudah merajuk, mudah tersinggung tapi juga mudah banget luluh."
Bu Irna tersenyum tipis, entah kenapa sekarang dia merasa tak mengenali Nayra lagi. Atau mungkin ... sebenarnya memang seperti itulah Nayra, hanya saja dia yang tak tahu itu?
"Dan hal itu yang justru membuat aku cinta mati sama dia," tambah Raka yang membuat Bu Irna juga tersentuh.
"Itu benar," sambung Bi Mita. "Dulu aku nggak begitu mengenal Nayra, yang aku lihat dia itu pendiam, kalem dan manis. Tapi setelah kenal dekat, ternyata dia begitu." Wanita paruh baya itu tertawa sendiri karena ekspektasi tentang Nayra melesat jauh.
Bu Irna pun ikut tertawa meski tawa itu tampak hambar, entah kenapa dia merasa ada suatu lubang dalam hati nya setelah mengetahui ternyata orang lain jauh lebih mengerti putri nya dari pada dia, ibu yang mengandung dan melahirkan nya.
Bersamaan dengan itu, terdengar suara teriakan Nayra yang saat ini berdiri di ujung tangga.
"Raka?"
"Ada apa, Sayang?" sahut Raka.
"Pegangin aku mau turun, nanti aku jatuh karena tiba-tiba aja kaki ku sedikit kram," seru Nayra bahkan dengan nada yang sangat manja.
Tanpa membantah sedikit pun, Raka pun menghampiri sang istri dan ia memapah Nayra dengan sangat pelan-pelan.
"Kamu baik banget deh, pengertian,'' ujar Nayra.
"Mau gimana lagi, dari pada kamu ngambek," goda Raka memasang wajah seolah ia terpaksa menuruti kemauan Nayra.
"Raka!" rengek Nayra kesal.
"Iya, Sayang, aku di sini."
...🦋...
Kalian suka cerita mafia dan balas dendam tapi romantis nggak?
__ADS_1
Coba mampir di sini