
Pertemuan Naura dengan Arsen telah membuka hati Naura untuk belajar menerima takdir yang telah digariskan Tuhan untuk nya, apalagi setelah ia mendengar cerita Arsen dan melihat sendiri bagaimana anak-anak itu hanya hidup. Tanpa tahu apa yang akan terjadi di masa depan nanti atau apa yang harus mereka kejar nanti.
Arsen benar, takdir memang kejam dan itu tidak hanya untuk Naura. Namun, untuk semua orang yang dilahirkan ke dunia. Dan Arsen juga benar, Naura masih beruntung meski Naura kehilangan hal yang sangat berharga bagi seorang perempuan. Tapi dia masih punya keluarga, masa depan dan harta.
Sejak acara ulang tahun itu, Naura dan Arsen juga lebih dekat. Bahkan, Naura juga sempat mengirimkan beberapa hadiah untuk anak-anak asuh Arsen itu.
Seperti saat ini, Naura membelikan pakaian baru untuk mereka dan juga beberapa cemilan untuk mereka, Naura bahkan mengantar barang-barang itu sendiri ke rumah Arsen.
"Kamu nggak naksir Arsen 'kan, Ra?" tanya Ian yang menemui Naura karena Arsen memang sedang tidak ada di rumah.
"Nggak lah, nggak banget," ketus Naura.
"Tapi kok kamu sering ngirim hadiah ke sini?" Ian menatap teman nya itu penuh selidik.
"Buat anak-anak, bukan buat dia." Naura masih menjawab dengan ketus.
"Aku tahu, kamu ngirim hadiah itu buat anak-anak. Tapi pasti untuk menarik perhatian Arsen, kan?" tuding Ian yang membuat Naura langsung berdecak kesal.
"Kamu pikir aku udah nggak waras apa," desis Naura.
"Ya biasa nya begitu 'kan kalau ada orang yang ingin menarik perhatian orang," seru Ian yang tampak nya masih mencurigai Naura.
"Dasar kaca mata," gumam Naura.
"Tante?"
Naura langsung menoleh saat ada suara anak yang memanggil nya. "Ada apa, Ca?" tanya Naura pada anak yang biasa di panggil Caca itu.
"Kata teman-teman, tante mau menikah sama Om Arsen. Apa itu benar?"
"Astaga, nggak benar itu," bantah Naura dengan tegas. "Dengar dari siapa?" tanya Naura.
Dengan polos nya, Caca menunjuk Ian. Sementara yang di tunjuk hanya cengengesan sambil membenarkan kaca mata nya.
"Jangan-jangan kamu yang ngarep aku naksir sama Arsen, ya?" tuding Naura.
"Nggak ngarep, cuma menduga," kata Ian memasang wajah polos nya.
"Dasar kacamata," desis Naura dengan kesal.
Bersamaan dengan itu, terdengar suara mobil Arsen dari luar. "Aku mau pulang, masih ada banyak pekerjaan," ujar Naura sembari menarik tas nya.
"Kenapa? Kamu menghindari Arsen?" tanya Ian sembari mengikuti Naura yang kini berjalan keluar.
"Nggak, aku lagi sibuk," ketus Naura.
"Ish, terima aja lah si Arsen jadi suami kamu, Ra. Biar kalian nggak sibuk terus dengan pekerjaan." Langkah Naura langsung terhenti saat mendengar ucapan si kacamata itu.
__ADS_1
"Sekali lagi kamu ngomong gitu, aku congkel mata kamu," gertak Naura bahkan sambil mendekatkan jari nya ke mata Ian, seolah ingin benar-benar mencongkel mata pria itu.
Ian meringis takut, bersamaan dengan itu Arsen datang dan sempat mendengar apa yang di katakan Naura.
"Sadis amat kamu, Ra," seru Arsen. "Rupa cantik bak malaikat, rupa sadis bak iblis."
"Dia yang salah," bantah Naura dengan keras kepala.
"Memang nya Ian ngapain? Melecehkan kamu?" tanya Arsen sembari meletakkan beberapa kresek yang di bawa nya ke lantai.
"Aku cuma tanya apa dia naksir kamu, Arsen," celetuk Ian.
"Oh ya? Terus jawaban dia apa?" tanya Arsen dengan tenang nya.
"Dia nggak tertarik sama kamu kata nya," jawab Ian yang membuat Naura menganga.
"Hei, fitnah, ya!" seru Naura kesal.
"Maksud nya?" tanya Arsen. "Bi!" pria itu kemudian berteriak memanggil pembantu nya. "Maksud nya apa?" tanya Arsen lagi sambil menatap Naura dan Ian. "Jadi Naura naksir aku gitu?"
"Nggak lah," jawab Naura dengan tegas.
"Iya, Tuan?" Bibi langsung datang tergopoh-gopoh menghampiri Arsen.
"Bawa belanjaan ke dapur, Bi," titah Arsen yang langsung di patuhi oleh Bibi nya itu.
"Kamu belanja apa?" tanya Naura tanpa menghiraukan pertanyaan Arsen sebelum nya.
"Sayur, buah, ikan dan beberapa bahan makanan lain nya," papar Arsen.
"Kaya nya Naura mau masak tuh," sela Ian.
"Nggak, aku mau pulang," bantah Naura.
"Dari setengah jam yang lalu kamu bilang mau pulang, tapi sampai sekarang kamu belum juga pulang," celetuk Ian sekali lagi yang berhasil membuat Naura tampak kesal.
Sementara Arsen kini justru menatap Naura dengan tatapan yang berbeda, membuat Naura salah tingkah karena pria itu pasti berfikir yang tidak-tidak.
"Mulut mu itu, kacamata!"
...🦋...
"Agghh!"
Nayra yang saat ini sedang makan harus terhenti saat tiba-tiba ia merasakan sakit di perut nya.
Naura langsung menghubungi Raka dan meminta pria itu pulang secepat nya karena ia merasa akan segera melahirkan.
__ADS_1
"Aku beneran mau melahirkan, Raka," lirih Nayra tampak cemas.
"Tu-tunggu sebentar, Sayang, aku sudah di dekat rumah," ujar Raka dengan suara gemetar.
"Okay, cepat, ya!" seru Nayra sekali lagi.
Saat terakhir kali check kehamilan nya, Dokter memang mengatakan Nayra akan melahirkan di waktu dekat. Sebenarnya itu membuat Raka cemas apalagi kedua orang tua nya juga sudah pulang, oleh sebab itu Raka sangat jarang bekerja ke kantor. Ia selalu membawa pekerjaan nya ke rumah agar bisa menjaga Nayra.
Namun, hari ini Raka terpaksa pergi untuk menemui rekan bisnis nya.
Nayra merasa mules, sesekali ia mendesis karena rasa itu.
Nayra meninggalkan meja makan, ia berjalan pelan-pelan menuju sofa dan Naura langsung duduk di sana.
Tak berselang lama, terdengar suara mobil Raka yang membuat Nayra bisa sedikit bernapas lega.
Sementara Raka kini langsung melompat turun dari mobil kemudian dia berlari masuk ke dalam rumah.
"Sayang."
Raka merasa deg degan melihat Nayra yang kini duduk lemas di sofa. "Kita ke rumah sakit sekarang!"
Raka langsung membopong Nayra menuju mobil nya. "Sabar sedikit ya, Sayang," ujar Raka. Nayra hanya menggumam sambil mengangguk pelan.
"Raka, sakit," rengek Nayra yang memang mulai merasakan sakit.
"Iya, tahan sedikit."
Raka melajukan mobil nya dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit, tak lupa ia juga menghubungi Dokter Nayra agar ruang persalinan nya segera di siapkan.
Selama dalam perjalanan, Raka terus menenangkan Nayra yang sering merintih sambil memegang perut nya.
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit, kini mereka sampai di rumah sakit.
Dokter dan Suster langsung menyambut Nayra dan Raka. Dengan cepat mereka membawa Nayra ke ruang persalinan. Raka pun ikut ke dalam untuk menemani sang istri.
"Raka," lirih Nayra yang mulai tampak lemah.
"Iya, Sayang, aku di sini." Raka menggenggam tangan Nayra dengan erat. "kamu pasti bisa melakukan nya, Sayang."
Nayra hanya mengangguk dengan lemah, ia memejamkan mata dan mengingat kembali bersamaan nya dengan Naura.
Hamil, menikah dan memiliki anak di usia yang sekarang sama sekali tak ada dalam rencana hidup Nayra. Namun, Naura membuat semua itu terjadi pada Naura.
Nayra juga mengingat kembali perjanjian nya denga Naura.
"Hanya satu anak, Nay."
__ADS_1
"Aku akan pergi setelah melahirkan anak ini, Ra, aku akan pergi jauh dari kalian semua. Aku janji."