Rahim Nayra Untuk Naura

Rahim Nayra Untuk Naura
Bab 65 - Kesempatan Kedua


__ADS_3

"Papa?"


Nayra menahan napas saat melihat pria yang selama ini sangat ia rindukan kini berdiri tak jauh dari nya, menatap Nayra dengan kerinduan yang sama.


Tak hanya sang Ayah, ibu nya juga ada di sana. Tersenyum lebar pada nya, bahkan menatap Nayra seolah terkesima dengan penampilan putri nya itu.


Nayra tak bisa percaya ini adalah nyata, ia merasa sedang bermimpi hingga suara sang Ayah mengkonfirmasi itu.


"Kamu cantik, Nak."


Seketika air mata Nayra tumpah dengan begitu deras, tangis nya pecah saat itu juga.


Ibu dan ayah nya itu langsung mendekati Nayra dan memeluk nya dengan erat.


"Kalian ... kalian datang," lirih Nayra dengan suara yang tercekat.


"Jangan nangis dong, Nay, nanti make up kamu luntur lho," seru Bu Irna sambil tertawa meski sebenarnya ia juga menangis.


"Kalian datang," gumam Nayra seolah ia tak percaya dengan hal itu.


"Iya, Nak, kami datang." Sang Ayah berbisik dengan lirih, ia juga tak bisa menyembunyikan kebahagiaan nya atas pertemuan ini setelah sekian lama.


Pak Aditya dan sang istri juga tak bisa menyembunyikan rasa haru mereka melihat Nayra dan orang tua nya yang melepas rindu.


Bahkan, calon ibu mertua Nayra itu tak bisa membendung air mata haru nya.


"Nayra ...." Bu Irna berusaha melerai pelukan nya, tetapi Nayra justru memeluk ibu nya itu semakin erat. Tangis nya pun masih terus berlanjut sampai punggung nya bergetar.


"Sudah, Nak, nanti make up kamu rusak." Sang Ibu mengingatkan sambil tertawa kecil. Namun, tangis Nayra justru semakin pecah dan air mata semakin deras mengalir hingga membasahi pundak Bu Irna.


"Sayang ...." Kini Pak Desta membelai kepala Nayra dengan lembut. "Raka menunggu mu di pelaminan."


"Aku masih kangen," lirih Nayra dengan pilu, membuat kedua orang tua nya itu terenyuh.


"Biarkan saja sebentar," sambung Bu Mita sambil menahan senyum. "Dia sangat merindukan kalian selama ini," imbuh nya yang membuat Bu Irna merasa tersentuh.


Ia pun membiarkan putri bungsu nya menangis sampai puas, bahkan ia tak perduli lagi dengan make up Nayra atau pun gaun nya yang mungkin akan terkena air mata nya.


Bu Irna mengelus punggung Nayra dengan lembut hingga perlahan tangis putri nya itu reda.

__ADS_1


Bahagia?


Nayra merasakan sesuatu yang lebih besar dari pada kata bahagia. Ibu yang dulu mengusir nya, bahkan melontarkan kata yang begitu menyakitkan untuk nya, kini memeluk nya dengan sangat lembut.


Nayra seperti berada di taman surga.


"Sudah?" kekeh Bu Irna saat Nayra melepaskan pelukan nya.


"Aku masih nggak percaya kalian datang," lirih Nayra.


"Ini pernikahan mu, Sayang, mana mungkin kami tidak datang," kata sang Ayah sembari menghapus air mata Nayra. "Kami sengaja tidak memberi tahu mu, biar jadi kejutan."


"Seharusnya kami sampai kemarin, tapi karena ada sedikit masalah di kantor, kami terpaksa mengundur jadwal keberangkatan," tambah Bu Irna sambil tersenyum.


"Maafin aku, Ma, Pa," lirih Nayra, ia menggenggam tangan sang ibu dan ayah nya itu. "Maaf karena aku sudah berburuk sangka sama kalian, aku pikir kalian nggak akan datang."


"Kami yang minta maaf karena tidak pernah menghubungi, Nak," ucap Bu Irna. "Maafin keegoisan Mama, ya?"


"Mama ...." Nayra merengek. "Jangan minta maaf, aku jadi malu karena ini salah ku."


"Sayang, Raka dan yang lain nya pasti sudah menunggu," kata Bu Mita kemudian. "Kita perbaiki make up mu setelah itu kita pergi, sudah nggak ada waktu lagi."


"Oh ya, Pa, terima kasih gaun nya. Aku suka banget, aku langsung jatuh cinta," kata Nayra yang membuat sang ayah mengernyit bingung.


"Gaun apa?" tanya Pak Desta.


"Gaun ini? Aku suka banget, untung saja gaun nya sampai sebelum pernikahan ku di mulai," papar Nayra sambil tersenyum lebar yang membuat sang Ayah semakin bingung sebab ia tak merasa memberikan gaun untuk Nayra.


"Bukan Papa yang mengirim gaun itu, Sayang," ujar Pak Desta sejujur nya. Kini Nayra yang terlihat bingung.


"Tapi di kotak paket nya tertera nama Papa," kata Nayra.


"Kamu yang ngirim, Ma?" Pak Desta menatap sang istri.


"Bukan," jawab Bu Irna sambil memperhatikan gaun itu dengan seksama. "Tapi gaun ini nggak asing, kayanya Mama pernah lihat."


Bu Irna mencoba mengingat-ingat di mana ia pernah melihat gaun ini. "Ah, kayanya Mama pernah lihat ini di butik yang paling besar di mall itu lho, yang memang menyediakan gaun-gaun pesta dan gaun pernikahan," papar Bu Irna dan ia juga teringat saat itu Naura pergi ke butik tersebut.


"Mama rasa ini dari Naura, Nay." Bu Irna berkata dengan ragu, sebab ia tak percaya Naura akan mengirimkan gaun pengantin untuk Nayra sementara yang ia tahu Naura sangat membenci Nayra.

__ADS_1


"Hah? Nggak mungkin, Ma," bantah Nayra.


Meski bibir nya berkata tak mungkin, tetapi hati nya justru berharap itu memang dari Naura.


"Mama yakin itu dari Naura," ujar Bu Irna dengan sangat yakin. "Waktu Mama dengar dia berbicara dengan orang, mereka membicarakan paket yang di kirim ke luar negeri."


Nayra terdiam sambil meremas gaun nya itu, benarkah Naura yang melakukan nya? Tapi kenapa?


"Tapi kenapa Naura melakukan ini?" gumam Nayra.


"Sayang, jangan pikirkan itu," seru Pak Desta. "Jika ini memang dari Naura, berarti dia hanya melakukan tugas nya sebagai kakak. Dia memberikan hadiah pernikahan terbaik untuk adik nya."


Mata Nayra kembali berkaca-kaca, ia sungguh terharu dengan apa yang di lakukan oleh Naura meski kakak nya itu tak mau mengakui nya.


"Sekarang cepat siap-siap, Nay, kehidupan baru mu sudah menunggu."


...🦋...


Nayra yang tak kunjung datang membuat Raka begitu cemas, berbagai pikiran buruk menguasai pikiran bahkan membuat ia sampai berkeringat dingin.


Bagaimana jika Nayra berubah pikiran?


Bagaimana jika Nayra tak ingin menikah dengan nya?


Memikirkan semua itu membuat dada Raka terasa sesak, ia pun hendak menjemput sang pengantin tetapi langkahnya terhenti saat ia melihat kedatangan Nayra bersama kedua orang tua nya.


Raka menganga lebar, rasa nya ia tak percaya melihat Pak Desta dan Bu Irna yang kini menggandeng Nayra.


"Astaga!" gumam Raka antara terharu, terkejut dan merasa tak percaya.


"Sayang?" panggil Raka saat kini sang pengantin wanita sudah ada di depan nya. "Ya Tuhan, aku hampir mati menunggu kamu di sini," ungkap Raka yang langsung membuat semua orang tertawa.


Sementara Nayra hanya bisa mengulum senyum. "Pa, Ma. Kalian ...."


"Untuk kedua kalinya Papa akan menyerahkan putri Papa ke kamu, Raka," kata Pak Desta. Sorot mata pria paruh baya itu tampak sangat tajam, menunjukan betapa serius nya ia akan apa yang diucapkannya.


"Dan jika kamu melukai dia, aku bersumpah akan membunuhmu dan kedua orang tuamu," gertaknya tanpa ragu.


"Pa," tegus Nayra.

__ADS_1


"Itu janjiku," tegas Pak Desta.


__ADS_2