
Nayra mengernyitkan kening nya saat ia melihat postingan Naura yang sedang bersama banyak anak-anak, tampak nya itu acara ulang tahun.
"Sejak kapan Naura mau menghadiri pesta ulang tahun anak-anak?" gumam Nayra. "Tapi Naura terlihat bahagia banget."
Nayra menekan tombol hati di foto-foto Naura hingga ia menyadari sesuatu. "Dia pakai sepatu nya?" Senyum Nayra langsung mengembang saat ia menyadari Naura memakai sepatu yang ia beli.
"Raka!" Nayra mengguncang tubuh Raka yang saat ini sudah tidur pulas.
Hari ini Raka memang tampak sangat sibuk, sehingga pria itu tidur lebih dulu dan Nayra tidak masalah dengan itu.
"Apa, Sayang? Lapar?" tanya Raka dengan suara yang serak, ia berusaha bangun dari tidur nya meski mata nya terasa sangat berat.
"Nggak," jawab Nayra sambil terkekeh. Melihat sang suami yang terus meladeni nya dalam segala keadaan membuat Nayra merasa bersalah karena telah mengganggu tidur nya.
"Maaf, Sayang, aku nggak bermaksud ganggu tidur kamu," kata Nayra.
"Ada apa? Kenapa bangunin aku, hem."
"Cuma mau ngasih tahu, Naura pakai sepatu nya."
Nayra menunjukan foto Naura yang memakai sepatu pemberian nya, Raka yang melihat hal itu terkekeh geli.
"Astaga, Sayang." Raka mengambil ponsel Nayra, meletakkan nya di atas meja kemudian ia menarik sang istri ke dalam pelukan nya. "Ini sudah malam dan kamu sibuk dengan ponsel mu, hem?"
"Aku nggak ngantuk," kata Nayra sembari mencari posisi paling nyaman dalam dekapan sang suami.
"Tidur, ya? Coba tutup mata, nanti pasti tertidur dengan sendiri nya." Raka mengecup kepala sang istri dengan lembut, membuat hati Nayra terasa menghangat.
"Hem." Nayra menghirup aroma sang suami, bahkan mengecup dada Raka yang memang tak tertutupi apapun.
"Jangan menggoda ku, Sayang," lirih Raka. "Nanti aku lapar lho."
Nayra hanya mengulum senyum malu sambil mencubit pinggang Raka. "Kita sudah suami istri, nggak apa-apa dong saling makan," goda Raka.
"Besok malam aja," cicit Nayra. "Kemarin malam udah, kata Dokter jangan terlalu sering juga."
__ADS_1
"Hem, baiklah. Tapi setelah melahirkan nanti aku mau setiap malam, setiap pagi, setiap sore dan__"
"Kenapa nggak setiap detik aja sekalian? Kamu mau aku mati berdiri?"
*****
"Aku nggak pernah tahu Ian tumbuh di panti asuhan," lirih Nayra sembari menikmati jus jeruk yang masih segar.
Saat ini kedua nya sedang berada di halaman belakang rumah Arsen, rumah yang cukup besar dan luas untuk di tempati oleh Arsen, Ian dan beberapa anak kecil lain nya yang Arsen bilang anak asuh mereka. Tentu juga ada beberapa pembantu yang mengurus mereka semua.
Saat Arsen mengatakan memiliki anak asuh, Naura berpikir itu sebuah panti asuhan. Namun, itu memang benar-benar anak asuh yang tinggal di rumah pribadi Arsen.
"Apa karena itu kalian membully dia? karena dia nggak punya keluarga yang akan membela nya?"
Naura terhenyak mendengar apa yang di katakan oleh Arsen, sebab ia dan beberapa teman-teman nya memang sering menjahili Ian meski sebenarnya mereka teman.
"Aku rasa itu memang salah kami," ucap Naura sambil tertunduk dalam. "Melihat Ian yang polos, tidak pernah melawan saat ada yang menjahili nya. Itu seperti ... sedikit menyenangkan untuk mengganggu nya," ujar Naura dengan jujur.
"Di antara kami semua, mungkin hanya Nayra yang tidak mengganggu Ian. Mereka bahkan teman dekat." Lanjut nya sambil mengingat masa-masa sekolah mereka dulu.
Saat Arsen hanya mendengarkan sambil manggut-manggut, sebab ia juga melakukan perundungan pada beberapa teman sekolah nya yang terlihat lemah.
Arsen tertawa kecil mendengar mendengar apa yang di katakan oleh Naura.
"Nggak lah, aku bukan psikopat," kekeh Arsen.
"Sejak kapan kamu mengasuh anak-anak itu?" tanya Naura, ia meletakkan jus nya di meja, setelah itu ia Naura melepaskan sepatu nya kemudian Naura duduk di tepi kolam, memasukan kaki nya ke dalam air kolam yang sangat dingin itu.
"Sejak aku dan Ian punya uang," jawab Arsen apa ada nya.
"Hem, kenapa kamu mau merawat mereka? Kenapa kamu nggak memasukan mereka ke panti asuhan?" tanya Naura lagi .
Kini Arsen mengikuti Naura, ia duduk di samping Naura dan juga memasukan kaki nya ke dalam air kolam.
"Aku sedang berusaha membuat panti asuhan ku sendiri, di rumah ini. Surat pengajuan nya sudah hampir selesai," tukas Arsen yang membuat Naura tampak terkejut.
__ADS_1
"Serius?" tanya Naura tak percaya. Arsen hanya mengangguk sambil tersenyum. "Apa ini peluang bisnis yang bagus?" tanya Naura yang seketika membuat Arsen tertawa.
"Astaga, Naura!" Arsen geleng-geleng kepala sambil menatap Naura. "Apa hanya bisnis dan bisnis yang ada dalam otak orang yang memiliki kehidupan sempurna seperti kamu ini, hem?"
"Bukan begitu Maksud ku," bantah Naura saat menyadari kemungkinan ia salah berbicara. "Aku cuma nggak nyangka aja, kamu masih single tapi mau mengurus anak-anak yatim, biasa nya orang seperti kamu hanya akan fokus pada bisnis, mengejar karir dan kesuksesan mati-matian."
"Bagaimana dan di mana seorang anak dilahirkan dan tumbuh akan menentukan tujuan hidup dia," ucap Arsen ambigu. "Aku dan Ian terlahir entah dari siapa, Ra. Kami juga tumbuh di panti asuhan, hubungan kekerabatan sebagai sepupu sebenarnya nggak nyata. Aku hanya mengklaim Ian sebagai sepupu ku agar kami merasa memiliki keluarga."
Naura mendengarkan cerita Arsen dengan seksama, apalagi ia baru tahu ternyata Ian memang sebatang kara. Hal itu membuat Naura semakin merasa bersalah karena sering menjahili anak itu dulu.
"Tumbuh tanpa keluarga rasa nya menyakitkan, Ra, aku berusaha membantu anak lain agar tidak merasakan apa yang aku dan Ian rasa kan. Oleh sebab itu aku mengadopsi mereka yang dari jalanan."
Naura terenyuh, ia terharu. Tak menyangka pria yang selalu tampak menyebalkan ternyata memiliki hati yang sangat tulus.
"Dan apa kamu tahu apa alasan ku mendekati kamu?"
"Apa?" lirih Naura.
"Karena aku tahu, kamu seorang ibu yang kehilangan anak nya dan mungkin nggak akan bisa melahirkan seorang anak lagi."
Air mata Naura langsung tumpah tanpa bisa di cegah, dada nya kembali terasa sesak saat Arsen dengan tega nya kembali mengingatkan akan kutukan itu.
"Nggak usah nangis, Ra," tegas Arsen sambil tersenyum miring. "Itu percuma."
"Kamu nggak ngerti apa yang kamu rasakan," desis Naura marah. Baru beberapa detik yang lalu Arsen membuat nya tersentuh, sekarang pria itu seperti menyiram bubuk cabe ke luka hati nya yang masih menganga. Panas, perih dan sakit.
"Kita semua di sini sama, Ra," ujar Arsen. "Kamu kehilangan anak, itu memang pasti sangat menyakitkan. Kami juga merasakan hal yang sama meskipun dalam konteks yang berbeda, kami di buang oleh ibu yang melahirkan kami. Kamu pikir itu nggak sakit?"
Mata Arsen yang biasa nya tampak berbinar kini berubah mendung, bahkan sudah berkaca-kaca. "Kami selalu bertanya-tanya, apa yang membuat kami di buang? Kenapa kami harus dilahirkan jika tidak ada yang menginginkan kami? Memikirkan semua itu membuat kami hidup tanpa jiwa."
Naura terhenyak, ia bungkam dan hanya bisa menatap Arsen yang kini mengucek mata nya.
"Kamu pasti berpikir, kamu adalah orang yang paling menderita di dunia ini." Arsen kembali tersenyum miring kemudian melanjutkan. "Lihatlah anak-anak itu!" Arsen menunjuk anak-anak asuh nya yang kini bermain dengan balon, ada yang makan kue dengan lahap, ada yang bermain kejar-kejaran dan sebagai nya.
"Kamu masih beruntung, Ra, kamu punya keluarga. Kamu punya Ayah dan Ibu, kamu punya harta. Sedangkan mereka? Jangankan keluarga dan harta, harapan saja mereka seolah tidak punya."
__ADS_1
Arsen menarik napas dalam-dalam kemudian kembali berkata, "Kamu memang nggak punya anak, tapi kamu bisa mencari seseorang untuk di jadikan anak. Sementara kami? Bagaimana cara nya orang seperti kami mencari orang lain untuk di jadikan ibu dan ayah?"
Air mata Naura kembali tumpah, kata-kata Arsen seolah menghantam hati nya dengan keras. "Hidup itu kejam, bukan? Bukan cuma kejam ke kamu, tapi ke kami semua."