Rahim Nayra Untuk Naura

Rahim Nayra Untuk Naura
Bab 69 - Kebersamaan


__ADS_3

"Papa sama Mama akan lama tinggal di sini, kan?" Nayra menatap kedua orang tua nya itu dengan penuh harap.


"Iya, kami di sini seminggu," kata Bu Irna sambil tersenyum lembut. Namun, tampaknya jawaban sang Ibu tak membuat Nayra senang.


Saat ini kedua keluarga yang sedang berbahagia itu sedang makan siang bersama di rumah Raka, kali ini yang memasak Bu Irna dan ia membuat makanan kesukaan Nayra.


"Apa nggak bisa satu bulan, Ma?" rengek Nayra yang langsung membuat ibu nya tersedak makanan nya sendiri. Sementara Pak Desta hanya bisa melongo, beda hal nya dengan Raka yang justru terkekeh.


"Bukan nya nggak mau, Nay," kata Bu Irna. "Tapi kamu 'kan tahu sendiri Mama harus bantuin Papa mengurus kantor, Sayang."


"Satu bulan aja, Ma, nggak akan bangkrut kok kantor nya Papa," rengek Nayra lagi.


"Bisa 'kan, Pa?" bujuk Nayra pada sang Ayah. "Aku masih kangen sama kalian, masih ingin sama-sama. Sebentar lagi aku juga melahirkan, apa kalian nggak mau melihat cucu kalian nanti?"


Bu Irna melirik sang suami yang saat ini hanya terdiam, tentu kedua orang tua Nayra itu bingung karena baru kali ini Nayra merengek manja pada mereka.


"Mama akan tetap di sini, Sayang," kata Pak Desta akhir nya. "Tapi kalau Papa nggak bisa kelamaan, Papa punya tanggung jawab yang besar di perusahaan."


Nayra mengangguk mengerti meski ia masih terlihat tidak suka dengan keputusan sang Ayah. "Papa janji kalau nanti ada waktu luang, Papa akan mengunjungi kalian."


"Iya, Pa," jawab Nayra sambil merengut.


"Jangan merengut gitu, Sayang." Raka mencubit pipi tembem Nayra. "Mereka juga pasti sibuk, hem?"


Nayra mengulum senyum dan kembali mengangguk. "Oh ya, apa Naura tahu kalian ke sini?" cicit Nayra kemudian.


Raka yang mendengar nama mantan istri nya di sebut langsung oleh Nayra langsung menatap wanita itu. "Aku cuma ingin tahu," ucap Nayra seolah tahu apa yang ada dalam benak Raka.


"Dia tahu," jawab Bu Irna. "Bahkan dia yang membelikan kami tiket karena tiket yang kami beli sebelum nya sudah hangus." Lanjutnya.


Nayra semakin berbunga-bunga mendengar penjelasan sang Ibu, Naura bukan hanya memberikan gaun untuk nya tetapi juga mengantarkan orang tua nya hingga sampai di Australia. Kini, harapan untuk berbaikan dengan kakak nya itu semakin besar.


"Oh ya, apa jenis kelamin cucu kami?" tanya Pak Desta kemudian.

__ADS_1


"Mereka nggak mau tahu itu," sambung Bu Mita sambil terkekeh. "Kata nya biar jadi kejutan nanti."


"Yeah, itu ide bagus," kata Bu Irna.


Makan siang berjalan layak nya dua keluarga yang normal, ada beberapa hal yang mereka perbincangkan. Dan mereka selalu berusaha menghindari membicarakan masa lalu anak-anak mereka, atau sesuatu yang menjurus pada Naura.


Sebab, satu nama itu bisa membuat suasana menjadi canggung satu sama lain.


Setelah makan siang, Bu Mita mengeluarkan puding sebagai makanan penutup.


"Wow, puding labu!" pekik Nayra girang.


"Kesukaan mu, hem." Raka terkekeh melihat raut wajah Nayra yang tampak sangat antusias.


Nayra hanya mengangguk cepat, setelah itu ia memakan puding itu dengan semangat. "Pelan-pelan, Sayang." Raka menyingkap rambut yang berjatuhan di sisi wajah Nayra.


"Nayra agak beda ya, Pa," bisik Bu Irna pada sang suami sambil melirik Nayra. "Dia kaya manja gitu."


"Iya, Papa baru sadar, Ma," sahut Pak Desta. "Mungkin karena lagi hamil, maka nya dia bisa begitu."


Mungkin, hati dan jiwa Raka memang sudah menyatu dengan Nayra begitu juga sebaliknya sehingga kedua insan itu tampak saling melengkapi.


...🦋...


Naura meluangkan sedikit waktu nya untuk bersenang-senang, melupakan sejenak masalah dan pekerjaan yang membuat kepala nya pening.


Saat ini, Naura sedang dalam perjalanan menuju Villa bersama Nita. Kata teman nya itu, di sana ada beberapa teman sekolah mereka dulu. Anggap saja ini adalah sebuah reunian.


"Kaya nya nanti malam akan hujan, langit nya gelap banget," kata Nita.


Naura pun mendongak, menatap langit yang memang gelap."Seperti nya begitu," ujar Naura.


Tak berselang lama, mereka sampai di Villa dan di sana sudah ada beberapa teman Nita juga Naura.

__ADS_1


"Hey, Naura!" teriak salah satu pria berkaca mata yang tampak sangat semangat saat melihat kedatangan Naura.


"Itu si freak Ian," kata Nita yang membuat Naura terkekeh.


"Siapa yang akan melupakan si kaca mata ini," sahut Naura.


Pria yang bernama Ian itu menghampiri Naura, bahkan teman sekolah nya yang dulu sering bully ini kini menatap tubuh Naura dari atas sampai bawah.


"Aku dengar kamu pernah keguguran, bercerai dan sekarang sibuk bekerja," celoteh Ian yang membuat Naura tampak kesal. "Tapi setelah semua beban hidup mu itu, kamu masih terlihat cantik dan seksi, ya?"


"Sialan!" geram Naura kesal.


"Di sini kita ingin bersenang-senang, kacamata," seru Nita. "Tidak ada bully, tidak ada pembahasan tentang masa lalu atau aku akan memotong senjata laras pendek mu itu."


Secara spontan Ian langsung memegang senjata yang masih terbungkus dalam sarung nya itu, ia bergidik ngeri.


"Aku capek banget, Nit, aku juga ngantuk," ujar Naura.


"Ya udah, ke kamar yuk!"


Nita berjalan melewati Ian bahkan dengan sengaja ia menabrak si kaca mata itu itu.


"Ra, kamu ke kamar duluan, ya. Aku masih ada perlu," kata Nita saat ia melihat mantan kekasih nya dulu ternyata juga hadir dalam acara reuni ini.


Naura hanya mengangguk, ia pun masuk ke kamar yang tak jauh dari sana. Namun ....


"Hey! Dasar mesum!"


Rupa nya di kamar itu ada seorang pria yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Naura sedikit terkejut setelah itu ia keluar dari kamar tersebut tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Namun, ia mengernyit bingung saat mengingat wajah asing pria itu.


"Kata nya yang datang cuma teman sekolah, seperti nya dia bukan bagian dari sekolah ku."

__ADS_1


...🦋...



__ADS_2