Rahim Nayra Untuk Naura

Rahim Nayra Untuk Naura
Bab 83 - Mendekat


__ADS_3

Berusaha berdamai dengan keadaan?


Naura tahu itu sangat tidak mudah, tetapi ia melihat Arsen dan Ian yang kini sangat mampu berdamai dengan keadaan yang sangat tidak adil untuk mereka.


Oleh sebab itu, Naura memutuskan untuk mencoba melakukan apa yang disarankan oleh Arsen. Mencoba menemui Nayra sekali saja, menyapanya sebagaimana layaknya seorang kakak terhadap anaknya.


Bahkan, Naura sudah mengurus VISA agar ia bisa menjenguk keponakan pertamanya itu.


Kedua orang tua Naura pun sudah bersiap kembali ke Australia sesuai janji mereka pada Nayra.


Sementara di sisi lain, Nayra kini sudah pulang ke rumahnya setelah tiga hari ia dirawat di rumah sakit untuk memastikan kondisinya dan kondisi sang buah hati sangat sehat.


"Aku jadi nggak sabar pengen liat dia besar, Sayang, bisa jalan dan berlari. Pasti seru," ujar Raka sambil mencubit pipi tembem Al yang sangat tembem dan lembut itu.


"Usianya baru tiga hari, Sayang," kata Nayra sambil terkekeh. "Semoga saja tahun depan dia sudah berlari," imbuhnya sembari merangkak naik ke atas ranjang.


"Aamiin," sahut Raka dengan semangat.


Tatapan Raka pada putranya itu tidak pernah berubah sejak saat pertama kali dia melihat Baby Al, masih penuh cinta dan kekaguman.


"Sayang, bayi itu ternyata sangat indah. Lebih indah dari yang aku bayangkan, aku seperti jatuh cinta lagi," tukas Raka yang membuat hati Nayra terenyuh.


Melahirkan seorang anak dan membuat Raka memiliki tatapan cinta seperti rupanya menjadi kebahagiaan tersendiri untuk dia.


"Mungkin karena itu anak dinamakan buah hati, Sayang," kata Nayra.

__ADS_1


Putranya yang sejak tadi tidur itu kini kembali terbangun, dia merengek dan tangannya bergerak seperti mencari sesuatu.


Raka langsung menangkap kecil sang putra. "Cari apa, Nak? Hem?" Raka mencium tangan lembut itu dengan gemas sementara kini bersiap menyusui Baby Al, mulut bayinya itu sudah terlihat mencari sumber kehidupannya.


"Aku bingung dengan apa dengan bayi kita ini, Sayang," ujar Raka kemudian.


"Ada apa bagaimana? Dia baik-baik aja," kata Nayra.


"Soalnya dia nangis terus, bangun tidur, nangis. Mau tidur, nangis. Bahkan, mau menyusu saja dia juga menangis."


Nayra langsung tertawa mendengar kata-kata suaminya itu.


"Memangnya bayi bisa apa lagi selain menangis, Sayang?" kekeh Nayra.


"Benar juga," gumam Raka. "Tapi nggak apa-apa, aku suka suara tangisnya. Bikin kangen," kata Raka sambil memperhatikan wajah putranya yang kini serius menyusu. "Apa dia kenyang hanya dengan minum ASI?"


Raka langsung tergelak mendengar jawaban sang istri.


Sementara Nayra hanya mengulum senyum, tiga hari ini ia lewati penuh canda tawa dan penuh suka cita. Hari-hari menjadi Ibu yang sangat indah, lebih indah dari yang ia bayangkan.


...🦋...


"Naura?" panggil Bu Irna saat melihat Naura yang baru pulang ke rumah.


"Kenapa, Ma?" tanya Naura sambil melepas sepatunya.

__ADS_1


"Mama dengar kamu membuat VISA ke Australia? Benar?" tanya Bu Irna yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Naura.


"Ada urusan pekerjaan?" tanya Sang Ibu lagi yang membuat Naura terkekeh.


"Mau menjenguk keponakan," jawab Naura yang seketika membuat ibunya tercengang.


"Maksudnya?"


"Mau bertemu Nayra, Ma, tapi tolong jangan bilang ke dia, Aku akan langsung berangkat saat VISA nya sudah siap."


Bu Irna tentu hanya bisa menganga mendengar penjelasan putri sulungnya itu, ia sungguh tak percaya Naura benar-benar akan menemui Nayra.


"Kamu serius?" tanya Bu Irna lagi


"Nggak, bercanda aja," kekeh Naura. "Serius, Ma," imbuhnya.


Sang Ibu yang sejak tadi hanya berdiri kini langsung duduk di sisi Naura, menatap putrinya itu dengan sendu. "Kamu ... kamu mau menemui Nayra dan Raka?"


Naura mengangguk pelan setelah itu ia beranjak dari sofa. "Aku ke sini cuma mau mengambil beberapa barang, tadi malam aku dan Arsen ada janji?"


"Kamu pacaran sama dia?" pekik Bu irna.


"Astaga, nggak akan. Dia bukan tipeku."


Namun, jawaban Naura sepertinya tidak sinkron dengan hati wanita itu. Sebab, hanya Arsen lah yang membuat ia merasa nyaman dan membuat ia mencoba memahami arti hidup, menerima takdir dan berdamai dengan masa lalu.

__ADS_1


Jika boleh jujur, Naura merasa Arsen adalah pria yang mendekati sempurna meskipun terkadang cukup menyebalkan.


__ADS_2