Rahim Nayra Untuk Naura

Rahim Nayra Untuk Naura
Bab 82


__ADS_3

"Kamu nggak mau menerima keadaan ini, Ra?"


"Bukan nggak mau, tapi sulit."


"Akan sulit kalau kamu nggak pernah mencoba untuk memperbaiki nya."


Naura yang mendengar pernyataan Arsen itu langsung terdiam. Mencoba? Naura memang tidak pernah mencoba berdamai dengan keadaan. Bahkan, ia selalu menepis, menjauh dan mencoba menolak setiap kali Nayra atau pun orang tua nya mencoba memperbaiki hubungan mereka.


"Kamu itu beruntung punya keluarga yang utuh, Ra, tapi kenapa kamu malah memusuhi salah satu nya?" tanya Arsen dengan tatapan yang tak biasa, pria itu seolah menelisik wajah Naura.


"Apa kamu tahu berapa banyak orang di luar sana yang ingin hidup seperti kamu? Punya ayah, ibu, dan adik. Bahkan, orang lain pun sampai mereka anggap sendiri, seperti aku dan Ian contoh nya," papar Arsen.


"Aku tahu, Arsen," sahut Naura. "Cuma... Rasa nya aneh, pria yang dulu nya adalah suami ku sekarang berubah menjadi adik ipar ku. Aku seperti ...." Naura meringis, keadaan ini masih sulit ia sekali ia terima.


"Mengerikan?" tebak Arsen.


"Iya," sahut Naura.


Arsen mengangguk mengerti, rasa nya memang akan sulit bagi siapa saja berada di posisi Naura meski semua ini memang konsekuensi dari keputusan nya sendiri.


"pasti sangat mengerikan," ujar Arsen lagi. "Lalu? Apa rencana kamu?" tanya Arsen yang membuat kening Naura langsung berkerut.


"Mengurus butik, membuka beberapa cabang di luar kota," jelas Naura yang seketika membuat Arsen tertawa gemas.


"Itu rencana bisnis, Ra, aku mau tahu rencana hidup kamu," tukas Arsen. "Astaga! Hidup kamu memang sangat mengerikan, Ra, kalau aku jadi kamu, Nayra atau Raka, mungkin aku sudah gila."


"Aku juga pernah hampir gila," kekeh Naura. "Tapi seperti nya mental ku masih cukup kuat untuk bertahan tetap pada kewarasan ku."


"Yeah, seperti nya begitu. Aku bisa melihat kekuatan mu," kata Arsen. "Jadi, kamu nggak punya rencana untuk hidup mu?" tanya Arsen lagi.


Naura menggeleng pelan.

__ADS_1


"Astaga! Hidup ini terlalu singkat dan terlalu indah untuk di habiskan hanya menyimpan dendam dan amarah, Ra," tegas Arsen.


"Aku tahu," jawab Naura. "Aku cuma berharap akan datang hari di mana aku bisa melupakan semua nya, seperti sebuah mimpi buruk yang hilang saat aku terjaga."


"Ingatan di masa lalu apalagi dalam masalah yang sangat besar seperti ini nggak mungkin bisa hilang, Naura, kecuali kalau kamu hilang ingatan."


Naura kembali di buat tertawa oleh teman baru nya itu.


"Kamu aneh," kata Naura akhir nya pada Arsen.


"Aneh kenapa?" Arsen mengajukan pertanyaan itu dengan raut wajah yang tampak bingung.


"Kamu itu terlalu jujur orang nya, bahkan kejujuran mu membuat orang sakit hati," ucap Naura dengan tenang. Ia mengingat kembali bagaimana Arsen berbicara dengan nya. Bahkan, pria itu pernah mencibir Naura tentang perceraian nya, atau saat dia menangis ketika Arsen mengungkit kembali tentang kekurangan nya.


Saat pria lain mungkin akan menunujuk dengan kata-kata kamis, Arsen justru menertawakan Naura dan meminta wanita itu agar tidak menangis karena hidup tidak membutuhkan air mata nya.


"Itu jauh lebih baik, dari pada manis dan penuh keindahan tapi ternyata juga penuh kepalsuan," tegas Arsen sambil tersenyum mencibir. "Aku sangat mencintai hidup ku, Ra, jadi aku selalu berusaha menjaga diri ku, membuat diri ku tetap bahagia dan menghindari apapun yang membuat ku sedih apalagi tertekan."


"Nggak ada hal yang mudah di dunia ini, Ra,," ucap Arsen. "Tapi sebenarnya nggak ada yang benar-benar sulit juga, inti nya semua pasti bisa di lakukan jika kita memang mau melakukan nya. Coba aja dulu."


"Lalu, bagaimana menurut mu dengan hubungan ku dan Nayra?" cicit Nayra.


"Kalau Nayra mau baikan sama kamu, coba saja kamu terima."


"Kalau aku sakit hati saat melihat dia bersama Raka?"


"Di tahan dong, kamu pasti bisa ketika terbiasa."


"Terbiasa melihat mereka sebagai pasangan suami istri?"


"Yaps."

__ADS_1


Naura terdiam, ia kembali memikirkan petuah Arsen yang sudah di keluarkan panjang lebar untuk nya. Naura juga teringat bagaimana Nayra berbicara dengan nya di telfon, adik nya itu memang terlihat sangat jelas ingin memperbaiki semua nya.


"Kenapa? Mau coba?" tanya Arsen.


"Entahlah," sahut Naura yang masih tampak bingung dengan perasaan nya sendiri apalagi tujuan hidup nya. Terutama jika itu berkaitan dengan keluarga nya, Naura sungguh tak bisa memutuskan. "


"Coba aja kamu temui mereka sekali, Ra, kalau kamu mampu menekan semua perasaan kamu di pertemuan pertama, coba temui mereka lagi dan coba tekan lagi perasaan kamu. Aku yakin, kalau kamu sudah terbiasa maka perasaan itu akan hambar dengan sendiri nya."


...🦋🦋...


Keesokan harinya....


Nayra memberikan ASI secara eksklusif untuk putra nya itu, wajah Nayra tampak berbinar saat baby Alvaro meminum ASI nya dengan semangat. Pagi ini Nayra memang baru bisa memberikan ASI nya karena sejak semalam ASI nya tak mau keluar, sehingga putra nya itu terpaksa di berikan susu formula.


"Dia pasti haus banget," ucap Raka yang sejak tadi menatap putra nya itu lekat-lekat.


"Iya," sahut Nayra. "Lucu banget sih." Nayra mengusap kening Baby Alvaro dengan jari nya, tampak nya itu membuat putra nya nyaman dan perlahan ia memejamkan mata.


"Baru bangun, eh mau tidur lagi," kekeh Raka, Putra nya itu memang baru saja bangun, dia menangis dengan sangat nyaring hingga membangunkan Nayra yang juga tidur. Baru beberapa saat di susui, sekarang si pangeran kecil itu tampak ingin tidur lagi.


"Nama nya juga bayi," kekeh Nayra. "Oh ya, aku haus banget, Sayang," rengek Nayra dengan manja.


Dengan sigap Raka langsung mengambilkan air untuk Nayra, bahkan membantu nya minum. "Minum yang banyak, Sayang, soal nya Baby kita sekarang makan minum nya dari kamu," tukas Raka.


Nayra hanya mengangguk mengerti, sebab ia sudah sering di ingatkan dengan hal seperti itu baik oleh ibu nya sendiri atau ibu mertua nya.


Kata nya, orang menysui itu harus banyak makan dan minum karena energi nya di ambil oleh bayi mereka.


"Baby Alvaro...." Raka memasukan jari kelingking nya ke sela-sela tangan putra nya itu dan seketika Raka tersenyum sumringah saat sang putra menggenggam jari nya itu. "Baby Al," gumam nya. "Genggaman tangan nya lembut banget, Sayang."


"Baby Al?" tanya Nayra.

__ADS_1


"Iya, kita panggil dia baby Al."


__ADS_2