Rahim Nayra Untuk Naura

Rahim Nayra Untuk Naura
Bab 45 - Masih Pahit


__ADS_3

Hari sudah siang, tetapi Raka enggan berangkat ke kantor meski pria itu sudah berpakaian sangat rapi karena ia memang berniat bekerja. Namun. Raka tahu hari ini takkan bisa fokus pada pekerjaannya sehingga Raka memilih berdiam diri di rumah, lebih tepatnya di kamar tamu yang selama ini ditempati oleh Nayra.


Raka duduk di tepi ranjang, ia menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Kenangan bersama Nayra terekam jelas dalam benak Raka, bagaimana pertama kalinya mereka bertemu, berkenalan, menjalin hubungan sebagai ipar hingga akhirnya Raka jatuh cinta padanya.


Kini, saat ada harapan dan peluang besar ia bisa memilikinya, ternyata takdir justru berkata lain. Mungkin benar, cinta yang Raka miliki untuk adik iparnya itu cinta Terlarang, cinta yang tak pantas ia rasakan.


"Haruskah aku merelakan kamu pergi, Nayra?"


Raka juga teringat bagaimana hubungan Bian dan Nayra selama ini, kedua insan itu terlihat saling mencintai dengan tulus. Bahkan, hal itu sempat membuat Raka iri pada Bian.


"Haruskah aku merelakanmu kembali pada yang berhak atas dirimu?"


Raka kembali teringat bagaimana ia merenggut kesucian wanita itu, meski awalnya Raka tidak tahu bahwa itu adalah Nayra, pada akhirnya ia menyadari itu. Namun, bukannya marah pada Nayra atau merasa bersalah, Raka justru mengambil kesempatan itu dengan sangat baik dengan memastikan Nayra akan hamil.


"Apakah aku begitu egois untuk memilikimu, Nayra? Aku sangat mencintaimu, Nay."


...🦋...


"Pa?" pekik Bu Irna saat melihat sang suami kini sudah pulang dengan raut wajah yang tampak begitu lesu. "Nayra di mana? Papa dari mana? Raka bilang Papa bawa dia pergi, Papa bawa dari ke mana?"

__ADS_1


Pak Desta hanya menatap istrinya dengan nanar, tatapannya tampak kosong hingga Bu Irna mengguncang pundak suaminya itu. "Pa? Kenapa sih?" tanyanya.


"Nayra..."


"Iya, Nayra di mana? Papa bawa dia ke mana?"


Pak Desta menatap mata sang istri, kecemasan terlihat jelas di mata ibu si kembar itu. "Mama khawatir sama dia?" Justru pertanyaan itu yang keluar dari mulut sang suami yang membuat Bu Irna tampak kesal.


"Aku ibunya, aku yang mengandung dan melahirkan dia. Kamu bawa ke mana anakku?" teriak Bu Irna. "Dari tadi malam aku coba telfon kamu, Pa, aku juga sampai nggak bisa tidur karena terus memikirkan kalian berdua," lirih Bu Irna dengan mata yang berkaca-kaca.


Pak Desta menelisik wajah sang istri, matanya begitu sayu. "Aku tahu kamu ibunya, Pa, dan aku ayahnya," ucap pak Desta sambil tersenyum miring. "Tapi aku baru tahu ternyata kita bukan orang tua yang baik."


"Selama ini kita lupa mengawasi anak-anak, kita juga lupa memperhatikan apakah mereka sedang bahagia atau menderita." Air mata Pak Desta kembali menetes begitu saja tetapi ia segera menyeka nya, sementara Bu Irna hanya diam mendengarkan ucapan kita.


"Kita fikir anak-anak sudah bahagia dengan hidup mereka, ternyata kita salah. Mereka menderita, terutama Nayra. Dia benar-benar menderita selama ini, Ma." Nada bicara Pak Desta tiba-tiba meninggi, penuh emosi. "Naura menekan dia, Raka memanfaatkan dia dan kita? Mama tahu apa peran kita?" Pria paruh baya itu mendesis tajam tepat di depan wajah istri yang masih setia bungkam. "Kita lebih buruk dari Naura dan Raka, karena kita justru semakin menekan Nayra. Kita seperti garam yang membuat lukanya semakin perih. Apa kita ini benar-benar seorang ibu dan ayah?"


Bu Irna terhenyak mendengar kata-kata sang suami, bahkan tanpa sadar dia menitikan air matanya.


"Dia kehilangan Bian, dia kehilangan kebebasannya, dia juga kehilangan masa depannya. Ya Tuhan, kenapa kita bisa melahirkan anak dengan takdir yang begitu menyedihkan?" Pak Desta berkeluh lesu. "Nayra-ku yang malang."


Naura hanya bisa membisu mendengar kata-kata sang ayah yang memang benar adanya.

__ADS_1


Naura melangkah pelan mendekati orang tuanya, tetapi ia berhenti saat tatapan tajam sang ayah kini tertuju padanya. "Kamu senang sekarang, Sayang?" cibir Pak Desta. "Raihlah kesempurnaan cari itu, kalau dengan mengorbankan Nayra saja tidak cukup, silakan korbankan Papa juga."


Air mata langsung tumpah dari kelopak mata Naura, rasanya begitu menyakitkan mendengar kata-kata ayahnya itu apalagi dengan tatapannya yang sangat tak biasa.


"Pa...." Naura berkata dengan lirih.


"Papa lelah, Ra, Papa nggak bisa mendengarkan pembelaanmu sekarang. Papa ingin istirahat."


Pak Desta bergegas ke kamar tetapi Bu Irna segera mengejarnya. "Nayra di mana, Pa? Kamu bawa dia ke mana?" Untuk ke sekian kalinya pertanyaan itu kembali terulang.


"Aku ... aku membuat dia pergi jauh, sampai dia nggak akan bisa menemukan jalan pulang," jawab Pak Desta yang membuat sang istri mengernyit bingung.


"Apa? Bagaimana bisa?" tanya Bu Irna bingung. Namun, Pak Desta enggan menjawab pertanyaan itu. Ia masuk ke kamar dan mengunci pintunya dari dalam.


"Pa?"


"Papa, buka pintunya!" Bu Irna berteriak kencang, air mata sudah banjir di pipinya memikirkan keadaan putrinya yang saat ini entah ada di mana.


"Di mana Nayra, Pa?"


...🦋...

__ADS_1


__ADS_2