Rahim Nayra Untuk Naura

Rahim Nayra Untuk Naura
Bab 50 - Pilihan Terakhir?


__ADS_3

Nayra tidak tahu apa yang harus ia putuskan sekarang, ikut Raka atau pergi sendiri? Hanya itu pilihan yang ia punya.


Nayra mencoba menegarkan hatinya untuk memilih pilihan yang kedua. Namun, entah kenapa rasanya begitu berat.


Saat ini ia hanya bisa merenungi nasibnya sembari menatap langit-langit kamar rawatnya, sementara Raka tidur di sisinya dengan menyenderkan kepala ke lengan Nayra.


Nayra sudah menyuruh pria itu pulang, atau setidaknya tidur di sofa. Akan tetapi Raka menolak, ia duduk di sisi Nayra dan menggenggam tangannya dengan sangat erat. Seolah Raka takut Nayra pergi lagi.


"Apa yang harus aku lakukan, Tuhan? Aku mohon berikan petunjukmu," gumam Nayra.


Ia juga merasa heran kenapa sampai sekarang ayahnya tak juga kembali ke rumah sakit, apakah dia ingin membuang Nayra?


Nayra menghela napas berat, ia tampak sangat gusar dan sepertinya itu dapat dirasakan oleh Raka.


Pria terjaga dan langsung bertanya. "Ada apa, Nay?"


Kening Nayra berkerut, ia menatap Raka dengan bingung kemudian menggeleng. "Terus kenapa kamu nggak tidur? Ini sudah malam, Sayang, kamu harus beristirahat," ujar Raka sembari menarik selimkut Nayra, membenarkannya.


"Kenapa kamu nggak pulang aja sih, Raka? Setidaknya biar kamu bisa tidur dengan nyaman," ketus Nayra.


"Tadi malam aku ada di kamarku yang mewah, ber AC dan ranjangnya sangat empuk. Tapi aku nggak bisa tidur karena terus memikirkan kamu.. Lalu sekarang aku sudah bersama kamu, dalam ruangan segini, sambil duduk tapi itu sudah cukup membuat aku tidur nyenyak," papar Raka panjang lebar yang membuat Nayra tersipu.


Bodoh sekali, di saat seperti ini ia masih sempat tersipu dengan kata-kata manis Raka.

__ADS_1


Sementara Raka sungguh berkata jujur, tadi malam dia tidak tidur sedikitpun dan saat bersama Nayra seperti sekarang, tiba-tiba ia merasa sangat mengantuk dan akhirnya tertidur.


"Terus kenapa kamu belum tidur, hm? Apa ranjangnya terlalu kecil? Kita pindah ke ruangan yang lebih besar, ya." Nayra menggeleng pelan. Ruang rawatnya ini sudah VIP, ranjangnya sudah besar dan kamarnya juga sangat nyaman. "Lalu kenapa kamu nggak tidur, Sayang? Kamu lapar? Ngidam? Mau sesuatu? Mau bakso pedas di pinggir jalan itu? Aku belikan, ya."


Nayra tak bisa menahan tawa kecilnya mendengar celotehan panjang lebar Raka, dia seperti seorang ayah yang sedang menghibur putri kecilnya.


"Aku memikirkan masa depanku, Raka," ucap Nayra akhirnya.


"Apalagi yang perlu kamu fikirkan, hm? Masa depanmu sudah jelas, bersamaku dan anak kita. Kita akan pergi besok, kalau Dokter sudah menyatakan kamu boleh keluar dari rumah sakit." Raka berkata dengan tegas dan penuh penekanan, seolah itu sudah menjadi keputusan terkahirnya yang mutlak.


" Lalu bagaimana dengan yang lain, Raka?" cicit Nayra.


"Apa yang lain pernah mau tahu perasaan kita, Nay?" Raka justru balik bertanya yang seketika membuat Nayra bungkam. "Aku tahu mungkin orang akan melihat cinta kita adalah cinta terlarang, tapi aku tidak perlu. Cinta itu hanya perlu dijalankan, bukan dinilai."


Raka teringat dengan apa yang dikatakan oleh Bian di rumahnya, saat itu ia begitu terkejut bahkan otaknya sempat blank. Namun, akhirnya ia menyadari apa yang sebenarnya dimaksud Bian.


"Aku juga," sahut Raka dengan jujur, apalagi saat ia melihat luka di mata pria itu. "Tapi kita bisa apa? Kita nggak bisa mengendalikan perasaan kita, kan? Kalau kamu memaksakan diri kembali ke Bian juga akhirnya nggak akan lagi sama. Kita sudah melangkah terlalu jauh, Nay, udah nggak ada jalan untuk kembali."


"Kamu benar," ucap Nayra kemudian.


Kini keduanya sama-sama terdiam, mencoba menyelami perasaan masing-masing dan bertanya-tanya kenapa bisa ada cinta seperti itu dalam hidup mereka. Cinta yang begitu rumit dan penuh misteri. Cinta yang diwarnai dengan luka dan air mata.


"Sebaiknya sekarang kamu tidur, biar cepat pulih dan kita bisa cepat keluar dari sini," seru kemudian.

__ADS_1


Nayra mengangguk, ia memejamkan mata dan Raka langsung mencuri ciuman di kening wanita itu yang membuat Nayra kembali membuka matanya.


"Raka!" tegur nya.


"I love you," ucap Raka tanpa memperdulikan kekesalan Nayra. Sekarang dia tahu Nayra mencintainya maka Raka takkan lagi ragu untuk memperlakukan wanita itu layaknya kekasih.


"Ck," Nayra berdecak kesal meski sebenarnya jantungnya berdebar kencang.


"Mimpi indah, Sayang."


...🦋...


Keesokan harinya


"Kira-kira Non Nayra dibawa ke mana ya sama tuan Desta? Kok bisa anak sendiri diculik begitu," kata Bi Siti sembari menyapu sementara Bi Jum yang mengepel lantai.


"Sebenarnya itu bukan diculik sih, Ti, tapi dijemput," sahut Bi Jum. "Tuan Raka itu bukan suaminya Non Nayra, jadi wajar kalau ayahnya menjemput dia." Lanjutnya.


"Lah, sekarang baru dijemput. Dari dulu ke mana? Non Nayra bahkan sampai pulang hujan-hujanan sendirian, nggak ada bapak ibunya cariin dia. Kayaknya yang perduli sama Non Nayra cuma Tuan Raka," ceoleteh Bi Siti.


"Ya karena dia hamil, Ti, anaknya Tuan Raka."


Obrolan kedua pelayan Raka itu terhenti saat mendengar suara klakson dari luar, Bi Jum langsung bergegas membuka dan ia tercengang melihat siapa yang datang.

__ADS_1


"Aduh, itu Non Nayra apa Nyonya Naura, ya?" Bi Jum berdecak, ia tak bisa lagi membedakan mana Nayra dan Naura.


Namun, siapapun itu, kini dia berjalan mendekati Bi Jum dan bertanya, "Raka ada, Bi?"


__ADS_2