
"Sayang, bangun."
"Nayra."
Raka membelai kepala Nayra dengan sangat lembut, merapikan rambut nya yang berantakan dan membingkai wajah nya.
"Sayang, ayo dong bangun."
Yang di bangunkan hanya menggeliat malas dan menggumam tidak jelas. "Bangun, Sayang." Raka masih betah membangun Nayra dengan sangat lembut hingga perlahan wanita itu membuka mata nya.
"Ada apa?" Nayra tampak kesal, hingga akhirnya ia membuka mata lebar-lebar saat mencium aroma masakan yang sangat wangi.
Hidung wanita itu mengendus aroma tersebut. "Kok bau rendang," kata Nayra yang membuat Raka tergelak.
"Kalau soal makanan aja kamu tuh gerak cepat," ujar Raka.
"Kamu masak rendang?" tanya Nayra tanpa memperdulikan ucapan ayah dari bayi nya itu.
"Ayo turun." Raka manarik tangan Nayra hingga wanita itu beranjak dari ranjang nya.
"Kamu beli rendang?" Nayra tampak penasaran dari mana asal aroma masakan Indonesia itu.
Tentu Nayra tak bisa berfikir calon suami nya itu yang memasak, sebab Raka memang tak bisa memasak rendang. Kata nya dia kesulitan membuat bumbu nya, berbeda dengan steak yang menurut nya lebih gampang.
"Aku masak, Sayang," kata Raka sembari menuntun Nayra menuju meja makan.
"Astaga!" teriak Nayra terkejut saat melihat di meja bukan hanya ada rendang, tetapi juga ada Bi Jum dan kedua orang tua Raka.
Bu Mita dan Bi Jum langsung tertawa melihat reaksi Nayra saat melihat mereka.
"Hai, Sayang," sapa Bu Mita yang langsung merentangkan tangan nya dan seketika Nayra langsung berhambur ke pelukan wanita paruh baya itu.
__ADS_1
"Kok aku nggak tahu kalian mau datang hari ini?" tanya Nayra sembari mengucek mata nya yang berkaca-kaca. Ia sudah merindukan kebersamaan dalam sebuah keluarga dan kini hanya keluarga Raka yang bisa memberikan itu.
"Kami sengaja nggak bilang-bilang, mau bikin kejutan," jawab Bu Mita sembari melerai pelukan nya. "Jangan nangis dong," kekeh nya sembari menghapus air mata Nayra yang berhasil lolos dari pelupuk mata nya.
"Aku kangen banget sama Tante," ungkap Nayra sambil tertawa kecil meski sebenarnya ia sangat ingin menangis, bukan karena apa, tetapi karena terharu.
"Aku juga kangen sama kamu." Bu Mita mengusap kepala Nayra dengan sayang. "Gimana keadaan kamu di sini, hm? Raka memperhatikan kamu, kan? Apa dia masih sibuk dengan pekerjaan nya?"
"Dua-dua nya aku lakukan dengan baik, Ma," kata Raka sambil terkekeh.
"Kamu sehat 'kan, Nay?" Kini Pak Aditya yang memberikan pelukan hangat layak nya seorang untuk putri nya.
"Sehat, Om," jawab Nayra, ia memeluk calon ayah mertua nya itu dengan erat, membayangkan itu adalah ayah nya sendiri.
Setelah itu ia juga memeluk Bi Jum. "Aku kangen masakan Bibi lho," kata Nayra.
Bi Jum tidak tahu harus menanggapi ungkapan rindu itu dengan apa, tetapi ia sangat senang karena Nayra seolah sangat menghargai keberadaan nya selama ini bahkan masakan nya sampai di rindukan.
Setelah acara melepas rindu itu, mereka pun makan bersama. Bahkan, Bi Jum juga di minta bergabung oleh Bu Mita.
Nayra terlihat sangat lahap memakan masakan Bi Jum, sampai Raka harus mengingatkan agar Nayra pelan-pelan atau dia bisa tersedak.
Sambil makan, mereka mengobrol tentang rencana pernikahan Nayra dan Raka yang akan diadakan beberapa hari. Pernikahan sederhana yang hanya di hadiri oleh beberapa orang saja.
Sebenarnya Nayra sangat ingin pernikahan ini di hadiri orang tuanya, tetapi ia harus menyingkirkan keinginan nya itu jauh-jauh.
...🦋...
Naura memperhatikan sepasang anak kembar yang datang ke butik nya bersama orang tua mereka.
Si kembar itu berantem memperebutkan sepatu yang memang sisa satu pasang, orang tua mereka mencoba melerai dan memberikan saran agar mereka berdua memilih sepatu yang lain saja.
__ADS_1
"Tapi kaka mau ini, Ma," seru si kembar yang merupakan kakak nya.
"Kakak, ini nggak cocok buat Kakak. Buat adek juga nggak cocok,' ujar sang ibu.
"Tapi adek suka warna nya, Ma," seru si kembar itu sambil menangis.
Naura menghampiri mereka sambil tersenyum. "Hai," sapa Naura.
"Maaf ya, Bu, jadi buat keributan," ujar ibu si kembar.
"Nggak apa-apa kok, nama nya juga anak-anak." Naura mengambil sepatu yang di perebutkan oleh si kembar.
"Sebenarnya sepatu ini sudah di pesan orang lain," kata Naura dengan sangat lembut pada anak-anak itu. "Tapi Tante punya sepatu bagus untuk kalian, gratis dan kalau kalian mau memakai sepatu itu nanti Tante akan kasih cokelat, mau?"
"Bu, nggak usah," tolak ibu si kembar.
"Nggak apa-apa," ujar Naura meyakinkan. Sementara si kembar tentu antusias mendengar mereka akan mendapatkan sepatu gratis dan hadiah cokelat.
Naura pun mengambilkan dua pasang sepatu anak-anak yang sama persis, untunglah si kembar itu menyukainya apalagi Naura juga memberikan dua kotak cokelat untuk mereka.
"Sekarang kalian baikan, ya," pinta ibu si kembar. "Ayo, kakak minta maaf sama Adek. Nanti Adek juga harus minta maaf sama Kakak, ya?"
Si kembar itu mengangguk patuh, bahkan yang paling tua meminta maaf duluan kemudian di ikuti oleh adik nya. Setelah itu mereka saling berpelukan.
"Kenapa harus yang lebih tua yang meminta maaf?" tanya Naura. "Padahal tadi aku lihat yang lebih tua yang melihat sepatu itu lebih dulu."
"Karena sebagai kakak terkadang dia merasa lebih berhak, lebih berkuasa dan lebih pintar dari Adek nya, Bu. Bahkan ego nya juga terkadang lebih besar, dengan membiasakan diri meminta maaf seperti ini, aku berharap dia mengimbangi dan menghormati adiknya. Karena tidak perduli siapa yang lebih tua, mereka tetap saudara yang harus saling menghormati dan menjaga."
Naura terhenyak, kata-kata ibu mengingatkan ia pada Nayra dan masa kecil mereka.
Berapa kali Naura meminta maaf pada adiknya itu? Dan berapa kali Naura merasa harus menjaga dan menghormati adik nya?
__ADS_1