
"Kamu dari mana, Ra?" tanya Bu Irna sembari berlari kecil menghampiri Naura yang baru saja turun dari mobil.
Ibu si kembar itu terlihat cemas karena Naura pergi tanpa pamit, Bu Irna takut Naura pergi seperti Nayra.
"Dari rumah Raka, Ma," jawab Naura lirih.
Rumah Raka?
Ia tersenyum miring, padahal dulu itu adalah rumahnya. Tempat dia pulang, tetapi sekarang sudah menjadi rumah orang asing.
"Kamu ngapain ke sana? Apa kamu cari Nayra? Adik mu ada di sana?"
Naura berdecak kesal mendengar pertanyaan sang ibu. "Nggak ada, buat apa juga aku cari dia," ketus Naura. Ia mengambil tas kecil dari dalam mobil kemudian ia segera masuk ke dalam rumah.
"Apa kamu ketemu Raka di sana?" tanya Bu Irna lagi sembari mengejar Naura yang melangkah dengan sangat cepat.
"Nggak," jawab Naura masih dengan ketus.
"Serius? Apa Raka pergi sama Nayra?"
Naura langsung menghentikan langkahnya mendengar pertanyaan sang ibu, ia berbalik badan kemudian berkata dengan dingin. "Mungkin saja mereka kabur bersama, hebat kan mereka?" sinis Naura, ia tersenyum penuh ejekan. Meski ia tidak tahu sebenarnya siapa yang dia ejek.
Nasibnya yang begitu ironis, atau Nayra yang mungkin memang pergi dengan Raka.
"Terus kenapa sekarang Mama penasaran mereka ke mana? Mama mau dukung mereka seperti Papa? Silakan! Aku nggak perduli.
Bu Irna terhenyak mendengar apa yang dikatakan oleh Naura, apalagi sorot mata putri sulungnya itu tampak berbeda.
"Naura, bukan itu maksud Mama," bantah Bu Irna.
"Terserah lah apapun maksud Mama," balas Naura. Ia berlari kecil naik tangga menuju kamarnya, sementara Bu Irna hanya bisa menatap punggung putrinya itu dengan nanar.
Kedua mata ibu si kembar itu sudah berkaca-kaca dan terasa panas, ia sungguh tidak tahu harus mencari Nayra ke mana atau bertanya pada siapa.
__ADS_1
"Kami di mana sih, Nak? Apa kamu nggak mikirin perasaan Mama?"
...🦋...
"Masih ngantuk?" tanya Raka saat melihat Nayra masih menguap.
Saat ini mereka sudah dalam perjalanan pulang, Nayra yang katanya hanya mau tidur satu jam, rupanya bablas sampai dua jam lebih.
"Iya, kenapa ya? Apa aku minum obat tidur tanpa sengaja?" Kening Nayra sedikit mengernyit.
"Mungkin kamu cuma lelah, Nay," sahut Raka.
"Yeah, bisa jadi. Padahal aku nggak kerja apapun," gumam Nayra.
Raka tersenyum tipis menanggapi ucapan wanita itu, ia mengerti Nayra pasti lelah secara fisik apalagi setelah apa yang terjadi padanya.
Namun, ia senang karena kini wanita itu mulai terbuka padanya, bahkan Nayra tak lagi menempatkan jarak seperti yang biasa ia lakukan.
Sesampainya di rumah, Raka dan Nayra sama-sama menghela napas lega karena kedua mobil yang tadi sudah tidak ada.
Nayra hanya tersenyum tipis.
"Astaga, Tuan!" teriak Bi Jum heboh saat melihat Raka dan Nayra datang. "Akhirnya kalian pulang juga, Bibi kira kalian ke mana."
Wanita paruh baya itu langsung mendekati Raka dan Nayra. "Semua orang datang nyariin kalian," tambahnya
"Apa kata papa, Bi?" tanya Nayra.
"Papa?" Bi Nayra justru balik bertanya.
Bi Jum mengangguk.
"Papa Non Nayra tidak ada datang ke sini," ucap Bi Jum.
__ADS_1
"Terus yang tadi datang pakai mobil Papa siapa?" tanya Nayra heran.
"Oh, itu ...' Bi Jum menoleh pada Bi Siti yang saat ini ada berdiri di depan pintu masuk.
"Itu siapa? Naura?" tanya Raka.
Bi Jum hanya bisa mengangguk. "Dia ngapain ke sini?"
"Tidak tahu, Tuan," cicit Bi Jum. "Tapi tadi Nyonya Naura sempat ketemu nyonya besar kok," tambahnya.
"Dia nggak ada ngomong apa-apa, kan?" tanya Raka lagi. Terlihat jelas di wajahnya ia tak menyukai berita kedatangan Naura.
"Tidak ada," jawab Bi Jum.
Sementara Naura kini hanya terdiam, ia bersyukur karena tadi tidak masuk ke rumah. Jika tidak, pasti kembali terjadi pertengkaran.
Namun, Nayra juga kembali merasa bersalah pada Naura karena ia justru menghabiskan waktu bersama suaminya.
"Nay?" Nayra menoleh saat Raka kembali merangkulnya. "Ke kamar, ya. Kamu harus istirahat. Jangan memikirkan apapun, Sayang, itu bisa berbahaya untuk bayi kita."
Nayra kembali hanya tersenyum tipis sambil mengangguk.
...🦋...
"Nayra bersama Raka."
Bu Irna langsung menoleh saat mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya.
Pak Desta merasa tak tega melihat kekhawatiran sang istri yang terlihat sangat mengkhawatirkan Nayra.
"Maksud Papa?" tanya Bu Irna.
"Nayra di bawa Raka, mereka saling mencintai jadi aku biarkan mereka." Bu Irna terperangah mendengar ucapan sang suami.
__ADS_1
"Maksudnya? Papa biarkan mereka bersama? Lalu bagaimana dengan Naura?"
"Biar dia belajar menerima kekalahan dalam hidupnya, biar dia belajar pasrah menerima takdir hidupnya."