Rahim Nayra Untuk Naura

Rahim Nayra Untuk Naura
Bab 61 - Belajar Berdamai


__ADS_3

Nayra sedang menyiapkan makan sayang untuk Raka yang akan diantarkan olehnya seperti biasa, Bu Mita yang melihat itu tampak tak menyyetujui tindakan Nayra yang ia nilai tidak perlu.


"Raka bisa membeli makan siangnya sendiri, Nay," kata Bu Mita sambil mengintip kotak makan yang sudah penuh dengan beberapa nasi, lauk pauk juga sayurannya.


"Bisanya sih bisa, Tante, tapi Raka bilang lebih suka masakan rumah," ujar Nayra sambil tersenyum.


"Lebih sehat juga sebenarnya, tapi apa kamu nggak capek kalau setiap hari mengantarkan makanan begitu?"


"Nggak kok, aku juga bisa kalau seharian di rumah." Nayra menutup kotak makannya kemudian memasukan kotak itu ke dalam tas. "Dengan begini aku juga punya waktu untuk makan siang dengan Raka, Tante," imbuhnya.


Bu Mita tersenyum sambil memperhatikan Nayra yang kini sudah siap pergi, sekarang ia mengerti kenapa Raka bisa sangat mencintai adik iparnya ini. Nayra memang wanita dan pasangan yang baik, ia tak egois dan memperhatikan orang-orang di sekitarnya.


"Sayangnya Tante nggak bisa ikut kamu sekarang, Sayang, soalnya Tante ada janji sama teman-teman."


"Nggak apa-apa, aku pergi sama sopir kok."


...🦋...


"Aku juga nggak tahu apa yang terjadi, Pa, tiba-tiba aja tadi malam Nayra bilang ingin kalian datang ke pernikahan kami."


Raka mengadu pada Pak Desta tentang keinginan Nayra, sebab ia tak ingin menolak permintaan Nayra tetapi ia juga tak mungkin mengiyakan begitu saja.


Saat ini Raka sedang berada di tempat kerjanya.


"Mungkin dia merindukan kami," ucap Pak Desta. "Sebenarnya Papa juga sangat ingin hadir ke pernikahan kalian, Papa juga sangat merindukan dia."


"Iya, aku bisa melihat di matanya bagaimana dia merindukan kaliian."


"Siapa?"


Raka langsung mengangkat wajahnya saat tiba-tiba mendengar suara Nayra. "Hey, Sayang," sapa Raka dengan senyum sumringah.


Namun, Nayra justru merengut. Sorot matanya tampak kesal. "Kamu telfonan sama siapa sih? Siapa yang rindu?"


Raka mengulum senyum melihat sang kekasih yang saat ini sedang dalam mood cemburu. "kok diam? Kamu selingkuh?" tuduh Nayra yang seketika membuat Raka tergelak.


"Astaga, dari mana fikiran konyolmu itu, hm?"


Raka beranjak dari kursinya, ia menghampiri Nayra yang saat ini masih berdiri di ambang pintu dengan kotak makanan di tangannya. "Aku nggak selingkuh, Sayang," kata Nayra.

__ADS_1


"Bohong," sergah Nayra.


"Itu Papa," ujar Raka akhirnya dengan jujur.


"Papa? Papa di rumah, kenapa kamu harus rindu dia?" Nayra semakin memperlihatkan kecurigaannya. Alih-alih membuat Raka kesal, hal itu justru membuat ia merasa gemas dengan ekspresi Nayra.


"Papa kamu, bukan papaku."


Seketika Nayra terdiam.


Papa?


Sosok yang sangat ia rindukan selama ini, yang tak berani dia hubungi dan entah kenapa ia juga tak pernah menghubunginya. Bahkan, Nayra sempat berfikir mungkin ayahnya itu sudah melupakannya.


"Mau berbicara dengannya?" Raka menyerahkan ponselnya, tetapi Nayra hanya menatap ponsel itu dengan tatapan kosong.


"Pa? Nayra mau berbicara," kata Nayra.


"Nak?"


Air mata Nayra langsung tumpah mendengar suara sang ayah. "Apa kabar, Sayang?" Suara ayahnya kini terdengar bergetar, seolah menahan gejolak rindu yang sama dengan Nayra.


"Iya, Pa," sahut Nayra sembari menyeka air matanya. "Papa?" Air mata kembali mengalir tetapi kali ini sambil tersenyum.


"Aku kangen, Papa," rengek Nayra.


...🦋...


Sementara di sisi lain, Pak Desta pun tak dapat membendung air matanya saat mendengar suara Nayra. Sudah lama sekali mereka tak berbicara, bukannya Pak Desta tidak mau apalagi lupa pada putrinya itu. Namun, entah kenapa ia tak berani karena rasa bersalah yang menggerogoti jiwanya.


"Papa juga kangen sama kamu, Nak," ucap Pak Desta. "Kangen sekali."


"Papa mau ke sini nanti? Sebentar lagi aku dan Raka akan menikah, Papa bisa datang, kan?"


Pak Desta tak bisa menjawab, meski besar keinginannya untuk menghadiri pernikahan putrinya, Namun, ia tak bisa pergi begitu saja.


"Papa akan usahakan, Sayang," kata Pak Desta akhirnya.


"Mama ... Mama apa kabar, Pa? Dia baik, kan? Apa Mama udah nggak ingat lagi sama aku?"

__ADS_1


"Jangan bicara begitu, Nak," tegur Pak Desta dengan tegas. "Mama sangat merindukanmu, dia juga sering membicarakanmu tapi Papa sengaja melarang dia menghubungimu."


"Kenapa? Aku juga anak Mama, Pa."


"Papa tahu, Sayang, Papa cuma takut itu akan membuka luka lama di keluarga kita."


Hening, tak ada suara. Membuat Pak Desta langsung cemas, apakah dia salah mengucapkan sesuatu yang kembali menyakiti putrinya itu?


"Nayra, maaf, Sayang. Bukan maksud Papa—"


"aku faham kok, Pa," sahut Nayra.


Tanpa Pak Desta sadari, sejak tadi Naura berdiri di ambang pintu. Ia mendengarkan apa saja yang dibicarakan oleh sang ayah dengan adik kembarnya itu.


Naura menghela napas panjang, setelah itu ia bergegas turun menemui sang ibu yang saat ini ada di meja makan.


"Loh, Papa di mana?" tanya Bu Irna karena tadi Naura mengatakan akan memanggil ayahnya untuk sarapan.


"Aku nggak jadi panggil Papa, Ma, tadi aku ke kamar," jawab Naura berbohong.


"Oh ya sudah, biar Mama yang panggil," kata Bu Irna.


Ia sudah hendak naik ke kamarya tetapi tiba-tiba Naura mencegahnya. "Kenapa?" tanya Bu Irna.


"Biar aku yang panggil," kata Naura sambil tersenyum kaku.


Bu Irna membiarkan Naura memanggil ayahnya meski sebenarnya ia sedikit merasa ada yang aneh dengan putrinya itu. Namun, ia tak mau memikirkan hal yang tidak-tidak .


Saat Naura berada di ujung tangga, rupanya sang ayah sudah keluar dari kamar. "Ada apa, Ra?" tanya Pak Desta.


"Sarapan siap, Pa," kata Naura.


Pak Desta mengangguk mengerti.


"Kenapa papa nggak pergi?" Langkah Pak Desta langsung terhenti saat mendengar apa yang dikatakan Naura.


"Kemana?" tanya Pak Desta bingung.


"Menemui Nayra."

__ADS_1


__ADS_2