Rahim Nayra Untuk Naura

Rahim Nayra Untuk Naura
Bab 64 - Awal Yang Baru


__ADS_3

Orang bilang, apa yang hilang takkan mungkin kembali. Namun apakah itu berlaku juga untuk sebuah hubungan darah?


Nayra tidak tahu, apakah waktu yang hilang dari kebersamaan dengan keluarganya bisa kembali lagi atau tidak. Ia sungguh tidak tahu.


Apakah persaudaraan nya dengan Naura bisa terjalin seperti dulu lagi atau tidak, ia juga tak tahu. Namun, ia selalu berdoa dan berharap akan ada hari di mana ia dan Naura akan berpelukan dan tertawa bersama bagaimana layaknya kakak adik.


Akan ada hari, di mana Naura mau memaafkan dirinya, menerima anaknya sebagai keponakan dan menerima Raka sebagai adik iparnya. Meski semua itu terasa sangat tidak mungkin, tapi Nayra tetap berharap sedikit kemungkinan masih ada.


Egois?


Mungkin itu egois tetapi memang inilah yang Nayra inginkan sebagai saudara juga anak.


Hari yang sangat ditunggu oleh Raka dan Nayra akhirnya tiba, sebuah pernikahan yang akan mengikat mereka dalam ikatan yang suci dan atas restu Tuhan.


Mereka akan menikah secara sederhana, hanya ada beberapa orang yang hadir sesuai keinginan Nayra juga Raka. Bahkan, pernikahan mereka digelar di rumah mereka sendiri atas keinginan Nayra.


Di hari yang seharusnya sangat bahagia ini, Nayra harus menahan air mata rindu pada kedua orang tuanya yang ternyata tetap tak datang.


Rasanya sakit, hal ini seolah semakin menegaskan bahwa perasaan Nayra tak jauh lebih penting dari pada perasaan Naura.


Rasa senang karena telah berbicara lewat chat dengan Naura juga musnah, bahkan terbersit dalam benak Nayra andai saja hanya salah satu dari mereka saja yang dilahirkan ke dunia ini. Mungkin pengkhianatan dan luka yang teramat dalam ini takkan mereka alami.


Nayra yang saat ini sedang di dandani dikejutkan adanya paket dari Indonesia.


"Dari papa kamu, Nay," kata Bu Mita saat membaca dari siapa paket yang berupa box itu.


"Oh ya?" pekik Nayra tampak sangat semangat bahkan kedua bola matanya langsung berbinar terang.


Ia langsung tersenyum sumringah saat melihat nama sang ayah tertera di kotak paket itu.


Dengan semangat Nayra membuka paket itu dibantu oleh Bi Jum juga Bu Mita.


"Wow!" seru Nayra sembari mengeluarkan apa yang ada dalam box tersebut. Sebuah gaun yang sangat cantik, dengan taburan kristal yang membuat gaun itu terkesan sangat mewah dan mahal.


Nayra sungguh tak menyangka akan mendapatkan kejutan indah ini dari sang Ayah.


"Bagus juga neh, Nay," kata Bu Mita yang juga tampak menyukai gaun pengantin yang mereka kira dari Pak Desta itu.


"Kayanya aku mau pakai ini aja," tukas Nayra yang memang merasa langsung jatuh cinta pada gaun itu.


"Boleh, Sayang, apalagi gaun ini dari papa kamu," sahut Bu Mita.


Calon mertuanya yang melihat kebahagiaan di mata Nayra merasa ikut bahagia, meski orang tua Nayra tak datang, setidaknya Pak Desta masih mengirimkan gaun yang sangat indah ini untuk Nayra.

__ADS_1


"Maaf, Pa," gumam Nayra sambil membelai gaun pengantin itu. "Aku pikir pjjapa lupa sama aku, ternyata nggak."


Nayra tak kuasa membendung air mata harunya saat mengingat sang ayah, ia pun langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi sang Ayah. Namun, sayangnya ponsel sang ayah tak bisa ia hubungi.


"Kenapa, Sayang?" tanya Bu Mita yang melihat raut wajah Nayra kembali murung.


"Ponsel papa nggak aktif, Tante," lirih Nayra.


"Mungkin papa kamu masih kerja, Sayang, di sana sekarang masih sore."


Nayra langsung melihat jam dan ia pun tertawa kecil saat menyadari itu.


Kini Nayra mengirimkan ucapan terima kasih dan juga ungkapan cinta untuk yang begitu tulus sang Ayah.


"Nay, sebaiknya kita harus cepat karena acaranya akan segera dimulai."


...🦋...


Naura tahu, hari ini sang adik akan menikah dengan pria yang dulu juga menikahinya. Dengan pria yang dulu berjanji akan sehidup semati dengan nya, dengan pria yang kata nya akan menerima Naura apa ada nya.


Yeah, pria itu memang menerima dia apa adanya tetapi Naura sendiri yang tak dapat menerima kekurangan diri nya.


"Apa dia sudah menerima gaun hnya? Apa dia menyukai nya?"


Naura cemas, ia takut Nayra tidak menyukai gaun yang ia belikan. Bagaimana jika Nayra enggan memakainya?


Saat ini ia masih ada di butik seperti biasa, tetapi pikirannya justru terbang ke Australia. Di mana sang adik dan mantan suami yang masih ia cintai akan melangsungkan pernikahan.


"Ya Tuhan, rasanya sakit sekali." Naura memegang dadanya yang memang terasa begitu sesak dan perih. Bahkan, buliran air mata kini tak dapat ia bendung dari pelupuk matanya.


Cintanya untuk Raka masih terlalu besar untuk mengikhlaskan pilihan Raka yang jatuh pada Nayra. Namun, sebagai kakak ia juga tak dapat membohongi hati yang mencintai adik nya dan mungkin sebenarnya inilah yang membuat ia masih bertahan menahan segala rasa sakit itu.


Bahkan, ia tak dapat menahan diri untuk tidak memberikan hadiah pada Nayra.n


...🦋...


Raka sangat gugup menunggu pengantinnya datang.


Meski ini bukan pernikahan pertamanya, tetapi tetap saja ia merasa gugup bahkan sampai gemetar.


Pernikahan dengan Nayra yang dulu hanya sebuah angan-angan kini sungguh akan terjadi.


Raka berjanji pada dirinya sendiri akan menjaga Nayra dengan segenap jiwanya, akan mencintai Nayra dengan setulus hatinya dan ia juga berjanji akan mempertahankan pernikahan mereka apapun yang terjadi kelak.

__ADS_1


Di sisi lain, Nayra yang kini sudah tampil sempurna juga tak bisa menyembunyikan rasa gugup nya.


Meski terkadang ia merasa lucu, apa yang membuat ia harus gugup?


Sudah sekian lama ia dan Raka tinggal layaknya suami istri, bahkan kini ia sedang mengandung benih pria itu.


"Kamu sangat cantik, Nay," puji Bu Mita yang memang sangat takjub dengan kecantikan Nayra.


Sebenarnya itu mengingatkan ia pada Naura.


Dulu Naura juga sangat cantik dan Bu Mita tak henti-hentinya memuja wanita itu, bahkan Bu Mita juga sering mengatakan Raka sangat beruntung karena mendapatkan wanita secantik Naura.


Namun, rupanya kecantikan tak menjamin apapun. Kecantikan bisa di miliki siapa saja tetapi tidak dengan hati yang tulus dan luas.


"Kenapa kamu gemetar?" tanya Bu Mita saat menyentuh tangan Nayra. "Astaga, tangan mu juga dingin, Nay," serunya.


"Entahlah, aku merasa sangat gugup, Tante," lirih Nayra.


"Apa yang membuat kamu gugup? Selama ini kalian sudah tinggal bersama, pasti kalian juga sering__"


"Tidak pernah," sanggah Nayra dengan cepat karena ia sudah tahu kemana arah omongan calon ibu mertua nya itu.


"Ah, masa? Ngaku aja," goda Bu Mita.


"Nggak, kami cuma melakukannya sebelum aku hamil. Setelah itu tidak pernah lagi," tutur Nayra dengan malu-malu yang membuat Bu Mita melongo.


Raka yang sudah tahu rasanya bercinta tentu tak mungkin bisa menahan gairahnya dalam waktu yang begitu lama, apalagi selama ini mereka tinggal satu kamar, satu ranjang. Bagaimana bisa?


"Awas saja kalau sampai dia jajan di luar," gumam Bu Mita dalam hati. "Bawa penyakit yang ada dia tuh."


Tak berselang lama Pak Aditya datang untuk menjemput calon pengantin wanitanya. Pak Aditya tahu, setiap anak perempuan pasti ingin ditemani sang Ayah saat hari pernikahannya tiba. Oleh sebab itu, ia bersedia menggantikan posisi Pak Desta untuk mengantarkan Nayra pada calon suaminya.


"Kamu cantik sekali, Nak," puji Pak Aditya dengan tulus. "Raka bisa pingsan melihat kecantikan mu ini," tambah nya sambil tertawa yang membuat Nayra langsung ikutan tertawa malu-malu.


"Apa semua sudah siap, Pa?" tanya Bu Mita.


"Sudah, oleh sebab itu aku datang untuk menjemput calon pengantin wanita nya."


Pak Aditya mengulurkan tangan nya pada Nayra yang langsung di sambut dengan senang hati oleh calon menantu nya itu.


"Semoga ini menjadi langkah awal kebahagiaan mu, Sayang."


"Aamiin."

__ADS_1


Saat Pak Aditya menggandeng tangan Nayra menuju tempat pelaminan, langkah mereka terhenti saat melihat kedatangan orang yang sangat Nayra harapkan.


"Papa?"


__ADS_2