
Arsen tak bisa menghentikan senyum sumringah nya karena ia telah berhasil mengajak Naura ikut dengan nya.
Saat ini kedua nya sedang berada di salah cafe yang tak jauh dari butik Naura, menikmati secangkir kopi dan beberapa makanan ringan.
"Kamu belum punya pacar 'kan, Ra?"
Pertanyaan Arsen itu berhasil membuat pupil Naura melebar, tak menyangka pertanyaan seperti itu bisa keluar dari pria yang baru dua kali bertemu dengan nya.
"Bukan urusan mu," ketus Naura.
"Hem, pasti belum," kata Arsen kemudian ia menyeruput kopi nya dengan tenang. "Aku juga belum punya pacar, aku nggak suka pacaran," ujar Arsen dan Naura hanya mengangguk-anggukan kepala nya menanggapi ucapan Arsen yang sebenarnya tidak penting itu.
"Kalau aku bertemu wanita yang bisa membuat ku jatuh cinta, aku akan langsung menikahi nya," ujar Arsen lagi.
Naura hanya tersenyum tipis, rasa nya baru kali ini dia bertemu dengan seorang pria yang cukup cerewet melebihi seorang wanita.
Naura hendak bersuara tetapi ia kembali membungkam mulut nya saat ponsel Arsen berdering, Naura melirik ponsel yang tergeletak di meja itu dan ia langsung tersenyum miring saat melihat nama contact yang menghubungi Arsen.
My Baby.
"Pacar mu," cibir Naura sementara Arsen hanya meringis.
Naura sempat berfikir Arsen tak akan menjawab panggilan itu karena ada diri nya. Namun, ternyata dugaan Naura salah.
"Halo, Baby," sapa Arsen setelah menjawab panggilan tersebut.
"Yeah, aku juga merindukan mu," ucap Arsen yang seketika membuat Naura melongo.
"Kau ingin sesuatu nanti malam? Okay, jangan khawatir. Aku akan memberikan nya sampai kau puas dan tidak bisa bangun dari ranjang."
Entah apa yang di minta oleh orang di seberang telfon, yang pasti kini pikiran Naura sudah terbang ke sebuah prasangka yang seharusnya wajar saja.
"Iya, nanti malam aku akan menemui, okay? Tunggu aku."
Arsen selalu tersenyum saat berbicara dengan lawan bicara nya. sementara Naura mencoba mengabaikan hal itu.
"Baiklah, see you. I love you, Baby," ucap Arsen bahkan ia juga menyematkan ciuman setelah itu.
__ADS_1
Naura hanya tertawa dalam hati, ini kali pertama ia menemui pria absurd sepertu Arsen.
Arsen meletakkan kembali ponsel nya di meja, tiba-tiba suasana menjadi hening selama beberapa saat.
"Bagaimana?" tanya Arsen membuka obrolan kembali, hal itu membuat kening Naura sedikit berkerut.
"Bagaimana apa nya?" Naura balik bertanya.
"Kopi nya?"
"Kamu nggak tahu rasa nya kopi?"
Arsen langsung terkekeh saat mendengar pertanyaan nya di jawab dengan pertanyaan oleh Naura.
"Astaga, Ra, apa memang begini sikap kamu? Kaya nya nggak deh, kenapa kamu nggak bersikap biasa aja sih sama aku? Atau kamu belum move on? Mau aku bantu move on?"
Naura kembali memasang wajah dingin nya, rasa nya ia sudah sangat muak dengan pria di depan nya ini.
"Terima kasih kopi nya," ujar Naura kemudian ia beranjak dari kursi nya. "Semoga setelah ini kita nggak ketemu lagi."
Arsen hanya menganga melihat tingkah Naura yang masih seperti es batu, padahal menurut cerita Ian sikap nya justru kebalikan sikap ia tunjukan saat ini, sangat berbeda.
"Naura?" teriak Arsen sambil mengejar Naura yang kini sudah berjalan menuju pintu keluar.
"Tunggu, kawan!" seru Arsen sambil menarik tangan Naura tepat sebelum wanita itu melangkah dari pintu keluar.
"Apa sih?" ketus Naura menepis tangan Arsen dengan kasar.
"Aku benci bangat dengan cara bicara kamu yang sangat kurang ajar itu," desis Naura sambil menunjuk tepat di depan hidung Arsen.
"Okay, sorry," ucap Arsen dengan santai nya yang membuat Naura tentu semakin kesal.
"Sorry kamu bilang?" Naura melangkah maju yang secara spontan membuat Arsen melangkah mundur. "Menjauh dari ku karena kita nggak saling kenal!"
Setelah mengucapkan kalimat itu, Naura langsung bergegas pergi begitu saja.
"Astaga, dia seperti api yang siap melahap jerami," gumam Arsen sambil terkekeh renyah.
__ADS_1
...🦋...
"Kamu membeli hadiah untuk Naura?" tanya Raka dan Nayra hanya menggumam sambil mengangguk.
"Menurut mu dia mau menerima nya? Bagaimana kalau nggak mau?"
Raka baru saja pulang dari kantor dan pria itu langsung mengintrogasi Nayra, membuat istri nya itu hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Pasti mau," jawab Nayra meyakinkan. Ia meletakkan jas kerja Raka ke sofa, setelah itu ia membantu sang suami melepaskan dasi nya.
"Cuma sepatu dan nggak mau yang lain?" tanya Raka lagi.
Ia masih ingat dengan jelas mantan istri nya itu menyukai barang-barang mewah dan mahal. "Mungkin kamu bisa membelikan beberapa set perhiasan," saran Raka.
"Memang nya boleh?" cicit Nayra yang seketika membuat Raka terkekeh, ia mencubit hidung hidung istri nya itu dengan gemas.
"Boleh banget, Sayang, semua yang ada dalam kartu itu punya mu," ujar Raka.
Sekilas Nayra tampak senang. Namun, kemudian ia menggeleng kan kepala. "Kenapa?" tanya Raka.
"Nggak deh, Naura tahu aku ngga kerja. Dia pasti tahu kalau hadiah itu aku beli pakai uang kamu, nggak enak," ungkap Nayra dengan lirih.
"Ya sudah, biar nanti Mama yang beli untuk Naura dan anggap saja itu hadiah dari Mama. Tapi uang nya tetap uang ku."
"Beneran?" pekik Nayra yang kembali girang.
Raka hanya mengangguk sambil mengusap kepala Nayra dengan lembut, setelah itu ia berlutut hanya untuk mencium perut buncit sang istri.
"Hai, Sayang," sapa Raka tepat di depan perut Nayra. "Apa hari ini kamu bersenang-senang dengan Mama, hem? Kalian belanja?"
Nayra tersenyum melihat Raka yang tampak serius berbicara dengan perut nya itu. "Papa ngga di belikan sesuatu, hem?"
"Ops, lupa," kekeh Nayra.
Raka kembali berdiri dan ia langsung mencium bibir Nayra dengan lembut, tindakan tiba-tiba itu cukup membuat Nayra terkejut.
Namun, setelah itu tentu Nayra menikmati ciuman mesra sang suami. Bahkan, ia mengalungkan lengan nya di leher Raka.
__ADS_1
"Astaga, aku sangat merindukan mu," bisik Raka tepat di depan bibir Nayra.
"Aku juga," balas Nayra sambil tersenyum malu-malu.