Rahim Nayra Untuk Naura

Rahim Nayra Untuk Naura
Bab 94 - Tamat


__ADS_3

"Kami sudah baikan," lirih Naura dengan suara lirih pada sang Ayah yang masih terbaring koma.


Beberapa hari telah berlalu sejak si kembar baikan, keadaan kakak adik itu juga sudah jauh lebih baik.


"Aku menepati janjiku untuk menjadi kaka yang baik," ucapnya dengan suara yang bergetar.


"Sekarang Papa yang harus menepati janji Papa," sambung Nayra yang juga menemui Ayahnya itu. "Papa janji akan selalu bersama kami, dan kami menagih janji itu sekarang."


"Benar," sambung Naura sembari menyeka air matanya. "Beberapa hari usia Baby Al akan genap satu bulan, seharusnya Papa yang mengurus acara itu. Dan Papa harus menyiapkan hadiah yang istimewa untuk putra Nayra dan Raka, cucu pertama Papa."


"Cucu kedua Papa." Nayra menimpali dengan cepat. "Satunya sudah di surga, bersama eyang kita," kekehnya dan Naura mengangguk setuju. "Cucu kedua Papa, anakku dan anaknya Naura. Benar," ujar Nayra sambil menatap wajah kakaknya itu. Naura tercengang mendengar apa yang dikatakan oleh adiknya itu.


"Aku memang melanggar satu janjiku, Ra, tapi izinkan aku menepati janjiku yang lain."


"Apa maksud kamu?" tanya Naura. "Bukannya kita sudah sepakat tidak akan membahas itu lagi?"


"Baby Al akan menjadi putramu juga, Ra, dia akan bahagia punya dua Mama."


"Kamu gila!" pekik Naura dengan suara lantang. "Aku nggak butuh dikasihani, Nay."


Tentu saja Naura menolak, bagaimana bisa dia menganggap putra mantan suaminya sebagai putranya sendiri? Apalagi hadirnya bayi itu karena ... ah, tak seharusnya ia memikirkannya lagi, pikir wanita itu sambil geleng-geleng kepala.


Tapi ... dia keponakannya, putra kandung adiknya.


"Oh ya, Pa," seru Nayra kemudian mengabaikan ucapan Naura. "Sepertinya Arsen mengincar Naura, Mama juga bilang begitu. Jadi Papa harus bangun supaya bisa memberikan keputusan, apakah akan merestui mereka atau menolak Arsen," pungkas Nayra panjang lebar yang membuat Naura menganga.


"Dia hanya teman," elak Naura.


"Dia tidak memperlihatkan diri sebagai teman," tukas Naura. "Dan pria itu sedikit berbahaya, Ra, jika kalian bersama sepertinya tidak akan ada kedamaian. Dia pria yang keras kepala."


"Sebenarnya dia nggak keras kepala, dia baik tapi kadang-kadang dia keras kepala."


Nayra mengulum senyum mendengar ungkapan Naura, sejak kapan dia mengakui kebaikan orang lain?


"Si kacamata bilang kalian sering berkencan," kata Nayra lagi.


"Fitnah itu!" seru Naura. "Kami hanya pergi makan," tambahnya.


"Berdua?"


"Sama siapa lagi?"


"Berarti kencan."


"Dia bukan tipeku."


"Hem, itu terlihat jelas. Kalian seperti plus tambah plus, jadi tolak menolak. Sepertinya dia juga bukan tipe pria yang bisa mengerti kamu."


"Nggak juga, dia justru sangat mengerti aku."


Tiba-tiba nada suara Naura merendah, mengingat kembali kebersamaannya dengan Arsen yang memang membawa Naura pada hidup yang berbeda. Pria itu sangat mengerti Naura, melebihi Naura sendiri.


Tanpa mereka sadari, kelopak mata Pak Desta bergerak-gerak begitu juga dengan jari-jemarinya.


Pria paruh baya itu memang tak bergerak tetapi ia bisa mendengar apa yang terjadi di sekitarnya.


Semangatnya untuk membuka mata semakin besar saat ia mendengar suara putri kembarnya.

__ADS_1


"Oh, baguslah," seru Nayra kemudian. "Soalnya dia keliatan sangar gitu, kalau ngomong juga ketus."


"Jangan menilai orang dari luarnya saja," ujar Naura memperingatkan.


Pak Desta tersenyum tipis, ia terbayang kembali dengan masa kecil si kembar. Tak jarang mereka berdebar Seperti ini dan itu adalah warna yang sangat indah dalam hidupnya.


"Papa?" pekik Naura saat melihat sang Ayah yang perlahan membuka mata. "Panggil dokter, Nay!" titahnya.


Nayra pun segera memanggil Dokter dengan panik. Sementara Naura kini menggenggam tangan sang ayah dengan erat. "Papa? Papa bisa mendengar suaraku?" tanya Naura.


Pak Desta hanya bisa berkedip lemah.


"Oh Tuhan, syukurlah." Naura langsung mengecup tangan sang ayah sambil menangis haru.


Tak berselang lama, Dokter datang dan ia meminta Naura dan Nayra menunggu di luar.


"Ada apa?" tanya Bu Irna yang kini baru datang bersama bersama baby Al.


"Papa sadar, Ma," kata Naura yang langsung membuat Bu Irna mengucapkan puji syukur penuh haru.


...🦋...


Raka dan Arsen yang mendapatkan kabar kalau Pak Desta sudah sadar langsung bergegas ke rumah sakit.


Rupanya di sana mereka sudah berkumpul, bahkan juga kedua orang tua Raka.


"Apa aku terlambat?" tanya Raka yang terlihat ikut senang melihat ayah mertuanya sudah sadar bahkan kini kembali tersenyum.


"Nggak," jawab Pak Desta dengan suara yang masih lemah.


Raka hanya bisa mengangguk mengerti, ia mendekati ayah mertuanya dan menggenggam tangannya. "Kami kembali bersama sekarang, Pa, jangan khawatir."


Pak Desta langsung melirik Naura yang masih duduk di kursi roda sementara Nayra kini berdiri di sisinya.


"Benar, kalian sudah bersama," sahut Pak Desta dan kini tatapannya tertuju pada Arsen yang hanya berdiri di ambang pintu.


"Aku dengar kamu punya perasaan istimewa untuk Naura, Arsen!" seru Pak Desta yang membuat Arsen hanya meringis.


"Bukan begitu, Pa," bantah Naura.


"Sepertinya iya," aku Arsen yang membuat Naura termangu.


"Aku baru menyadarinya saat dia hampir mati," tambahnya sambil berjalan mendekati Naura.


Nayra pun langsung berpindah ke sisi suaminya sehingga kini Arsen yang menggantikan posisinya. Ia berdiri di sisi Naura, bahkan mengusap rambut wanita itu seperti yang sering ia lakukan pada anak panti.


"Jangan mengada-ada," tepis Naura sambil menyingkirkan tangan Arsen.


"Aku baru mengatakan sepertinya iya aku punya perasaan padamu, Ra, aku belum mengajakmu menikah jadi tidak usah bersikap ketus. Okay?" Naura mendelik, sementara yang lain hanya tertawa.


"Lagi pula, semua orang berkumpul di sini. Haruskah kita minta restu sekarang?"


"Arsen!" geram Naura kesal.


"Kami merestuinya jika kamu mau menerima semua kekurangan dan kelebihan dia," kata Pak Desta.


"Asal Naura mau menurunkan sedikit saja egonya, aku mau menikahinya," celetuk Arsen.

__ADS_1


"Aku tidak punya ego setinggi ego mu," pungkas Naura.


"Tapi kenyataannya begitu, Sayang," kata Arsen yang sambil meletakkan tangannya di pundak Naura.


"Dia sangat berarti dalam hidup kami," kata Nayra kemudian. "Jaga dia sebaik mungkin, Jangan pernah menyakitinya Seperti kami yang telah menyakitinya."


Nayra melirik Raka, suaminya itu tersenyum tipis kemudian menggenggam tangannya. "Aku yakin Arsen tidak akan menyakiti Naura Seperti yang aku lakukan, Sayang. Jangan khawatir."


Nayra mengangguk mengerti.


Bu Irna dan Pak Desta terlihat sangat bahagia melihat kini anak-anak mereka sudah menjalin hubungan yang baik. Apalagi dengan adanya Arsen yang membuat hidup Naura tampak lebih bahagia. Bahkan, kedua orang tua Raka pun terlihat bahagia dengan keluarga besannya yang kembali akur satu sama lain.


Sementara Naura hanya tersenyum samar sambil menunduk.


Semua orang mengaku salah, Raka dan Nayra. Sementara sampai detik ini ia masih enggan mengaku salah dan itu membuat Naura teringat dengan Bian.


Bagaimana nasib pria baik itu? Jika Naura, Raka dan Nayra harus mengaku bersalah dan meminta maaf, maka mereka harus melakukannya pada Bian.


Tak hanya Naura, Nayra pun memikirkan hal yang sama. Jika saja ia bisa menemui Bian sekali lagi, Nayra ingin meminta maaf sekali lagi karena telah mematahkan hati seorang pria sebaik Bian.


...🦋...


Sementara di sisi lain, pria yang sedang Naura dan Nayra pikirkan kini justru sedang bersama seorang wanita yang sedang hamil.


"Kau yakin akan membunuh anak itu?" tanya Bian pada wanita di sisinya itu.


"Hem, beban hidupku sudah berat. Aku tidak ingin menambah beban lagi," jawab wanita itu.


"Maafkan aku, aku ngga sengaja mengeluarkannya di dalam malam itu. Biasanya aku tak melakukan itu," ujar Bian yang membuat wanita di sampingnya ini tertawa.


"Pria sepertimu cukup unik," kata sang wanita. "Kau memang tidak terlihat seperti pria hidung belang. Kau lebih terlihat seperti pria yang sedang patah hati."


Bian melengos, ia mengalihkan tatapannya ke arah lain.


"Apa kau tahu siapa yang kau panggil saat kau bercinta denganku?"


"Lupakan malam itu," kata Bian.


"Nayra!" ucap wanita itu sambil terkekeh.


Meskipun hamil karena bercinta satu malam, dan kini ia berniat menggugurkan kandungannya, itu tak membuat ia terlihat punya beban.


"Kau selalu memanggil nama Nayra, nama yang cantik."


"Nyonya Ravindra?" panggil Dokter yang seketika membuat wanita di sisi Bian berdiri.


"Mereka pasti mengira aku istrimu karena itulah memanggilku dengan nama belakangmu!"


Bian hanya terkekeh dan ia mengikuti wanita itu masuk ke ruangan Dokter.


Bian memang menghamili wanita itu, ia bersedia bertanggung jawab tapi wanita itu justru ingin menggugurkan kandungannya.


Bian pun tak masalah dan justru merasa itu bagus. Wanita itu tak menuntut apapun, tak menuntut tanggung jawab apalagi uang. Ia hanya meminta Bian menemaninya saat ia di kuret.


...🦋...


...TAMAT...

__ADS_1


__ADS_2