
Bian tahu, keputusannya untuk memperjuangkan Nayra bisa benar bisa juga salah. Namun, setidaknya ia ingin memperjuangkan cintanya sekali lagi. Dia berjanji pada dirinya sendiri akan melakukan apapun untuk membuat Nayra kembali padanya.
"Aku janji akan membahagiakanmu, Sayang, aku benar-benar mencintaimu," lirih Bian sembari memainkan cincin tunangan yang masih setia melingkar di jari manisnya. Bian memang tidak pernah melepaskan cincin itu. Ia tak sanggup melepaskannya karena Bian masih sangat mencintai Nayra.
Sambil tersenyum, Bian kembali fokus melukis wajah sang pujaan dengan segenap hati.
Sementara di sisi lain, Nayra dan Raka sedang memeriksa kandungan Nayra yang kini sudah memasuki usia tiga bulan. Raka terlihat sangat semangat, bahkan ia terus menyunggingkan senyum lebar dengan mata yang berbinar terang.
Tak bisa Nayra pungkiri hatinya terasa begitu hangat saat melihat senyum sumringah di bibir ayah dari janin yang ia kandung itu. Nayra juga tak bisa berhenti tersenyum apalagi saat ia melihat gambaran janin dalam rahimnya yang masih berupa titik hitam itu.
Sejak tadi tangan Raka juga selalu menggenggam tangan Nayra dengan lembut, tak sekalipun pria itu melepaskannya seolah ia takut Nayra akan melarikan diri.
"Dokter, anakku laki-laki atau perempuan?" tanya Raka dengan semangat yang membuat Dokter tertawa kecil.
"Usia kandungan Bu Naura baru memasuki tiga bulan, Pak, jadi jenis kelaminnya belum terlihat," kekeh Dokter yang justru membuat senyum Nayra musnah.
Naura?
Yeah, sampai detik ini semua orang masih memanggilnya dengan nama Naura. Tak ada yang tahu bahwa sebenarnya dia adalah Nayra, terkadang hal itu membuat Nayra cemburu. Namun, Nayra harus segera kembali mengingatkan dirinya bahwa memang seharusnya Naura yang ada di sisi Raka.
"Dulu Bu Naura 'kan pernah hamil, Pak, masa lupa kalau di usia kandang muda seperti ini jenis kelamin belum terlihat," ujar Dokter lagi.
__ADS_1
Raka langsung menatap Nayra yang saat ini memasang raut yang berbeda, wanita itu tampak menekuk wajahnya seolah tak suka mendengar apa yang Dokter katakan. Untuk menghibur ibu dari calon anaknya itu, Raka semakin mengeratkan genggaman tangannya kemudian mengecupnya dengan lembut yang membuat Nayra terkesiap.
Wanita itu langsung menatap Nayra yang kini melempar senyum manis padanya. "Aku lupa dengan yang dulu, Dok, saking semangatnya dengan kehamilan yang sekarang," tukas Raka pada Dokter itu tetapi tatapannya tetap tertuju pada Nayra.
"Yeah, Anda benar juga," sahut Dokter.
"Oh ya, saya rasa Bu Naura sedikit stres, padahal orang hamil tidak boleh stres," tegas Dokter dengan serius. "Itu sangat berpengaruh untuk kandunganmu, Bu Naura, apalagi Ibu pernah punya riwayat keguguran. Jadi sebaiknya kesehatan fisik dan psikis ibu harus benar-benar dijaga!"
Raka menghela napas berat mendengar apa yang diucapkan oleh Dokter, sementara Nayra hanya bisa menunduk sambil memegang perutnya yang masih rata itu. "Sayang?" Nayra langsung mengangkat wajahnya saat tiba-tiba Raka merangkul pundaknya. "Kamu dengar apa kata Dokter, kan? Kamu nggak boleh stress," tukas Raka dengan sorot mata yang tajam.
"Iya," jawab Nayra sambil tersenyum tipis. "Aku akan lebih memperhatikan kesehatanku lagi," imbuhnya.
Setelah selesai memeriksa kandungannya, Raka pun mengantar Nayra pulang. Dan selama dalam perjalanan, pria itu kembali mengingatkan agar Nayra tak stres.
"Aku pernah kehilangan calon anakku sekali, Sayang, dan itu sangat menyakitkan. Jadi aku mohon jangan biarkan aku kehilangan lagi," seru Raka setengah memelas yang membuat Nayra kembali merasa bersalah. Ingatannya berputar kembali pada kecelakaan di malam itu, kecelakaan yang ternyata tak hanya merenggut kebahagiaan Naura tapi kini juga berimbas pada hidup Nayra.
"Aku minta maaf," lirih Nayra tiba-tiba. "Aku tidak sengaja melakukannya, malam itu aku benar-benar sedang mengantuk. Seharusnya aku menepi sebentar tapi-"
Ucapan Nayra terhenti saat tiba-tiba Raka kembali merangkul pundaknya bahkan menarik tubuh Nayra hingga bersandar ke pundak Raka. Nayra terkejut, tetapi ia tak menolak. Ia justru mencari posisi yang nyaman untuk bersandar pada Raka, Nayra tahu ini tidak boleh dia lakukan. Namun, entah kenapa dia tak dapat menghentikan keinginan untuk mencari kenyamanan dari pundak ayah dari janinnya itu.
Mungkinkah itu keinginan dari calon anaknya?
__ADS_1
"Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri, Nay," lirih Raka yang kini menghentikan mobilnya ketika lampu lalu lintas menunjukan lampu merah. "Itu sudah takdir yang harus kita terima," tambahnya yang membuat Nayra tersenyum kecut.
"Tapi tetap aja itu salahku, Raka. Kalau saja saat itu aku membawa sopir, atau aku menepi saat mengantuk. Mungkin semua ini nggak akan terjadi, mungkin sekarang kandungan Naura sudah besar dan sebentar lagi akan melahirkan."
"Semua sudah direncanakan oleh Tuhan, Sayang, bahkan kesalahan yang kita lakukan juga sebagian dari skenario Tuhan."
Benar, tak ada satupun yang terjadi di dunia tanpa campur tangan Tuhan. Dan pastilah Tuhan memiliki satu rencana di balik rencana yang lain.
Raka sangat sedih karena dia kehilangan calon anaknya, tetapi justru karena kehilangan itulah kini ia mendapatkan Nayra dan juga calon anak yang lain. Lalu, untuk apa lagi Raka menyalahkan takdir ketika takdir justru memberikan apa yang sangat ia inginkan sejak dulu. Keinginan yang sempat ia kira begitu mustahil.
"Raka?" panggil Nayra dengan nada yang setengah merengek.
"Apa? Ngidam apa lagi, Sayang?" kekeh Raka yang sudah hafal dengan kebiasaan Nayra, wanita itu akan sangat manja saat sedang mengidam.
"Aku ingin makan nasi goreng pete, yang di kasih sepuluh cabe, terus pakai udang, pakai ayam, pakau kecap yang banyak, terus pakai bawang goreng yang bayak juga. Minumnya aku mau jus jeruk yang masih segar, yang baru di peras, di kasih gula sedikit sama es batu. Em, terus habis makan aku mau makan es krim yang rasa cokelat vanilla," papar Nayra panjang lebar.
Raka melongo mendengar apa yang di inginkan oleh Nayra, bahkan kini ia curiga wanita itu sebenarnya tak mengidam. Mungkin dia sengaja mengada-ngada apa yang diinginkannya untuk mempersulit Raka.
"Kamu ngidam atau mengada-ngada saja sih, Sayang?" kekeh Raka yang membuat raut wajah Nayra langsung berubah. Bahkan, dia langsung duduk tegak sembari melemparkan tatapan mautnya pada Raka.
Saat itulah Raka menyadari kini posisinya kembali dalam bahaya.
__ADS_1