
"Kau beruntung memiliki saudara kembar, Bu Naura, jika tidak ... entah apa yang bisa kamu lakukan untukmu," kata Dokter yang seketika membuat kening Naura berkerut.
"Maksudnya?" tanya Naura dengan sangat lemas dari balik oksigen yang menutupi mulutnya.
"Keadaan mu sudah jauh lebih baik, kami akan memindahkan ke ruang rawat biasa," ujar sang Dokter tanpa menjawab pertanyaan Naura.
Saudara kembar?
Naura teringat dengan Nayra, apa yang sudah Nayra lakukan untuknya?
"Dok?" panggil Naura sembari melepas alat bantu pernapasannya. "Apa ... maksud Dokter?" tanyanya dengan terbata-bata.
"Kau kehilangan banyak darah, untunglah adik kembar mu datang tepat waktu dari Australia jadi dia memberikan darahnya untukmu."
Naura terhenyak, ia mencoba mengerti apa yang sebenarnya dimaksud oleh Dokter dan ia menangkap maksudnya, Naura langsung tampak cemas.
"Dia ... dia baru melahirkan, Dokter," kata Naura.
"Tapi dia berhasil melakukan nya," sahut sang Dokter sambil tersenyum. "Ikatan persaudaraan kalian sangat kuat, ikatan cinta kalian juga sangat tulus."
Naura hanya terdiam dengan mata yang berkaca-kaca. Bagaimana bisa Nayra membahayakan nyawanya sendiri seperti ini?
"Aku akan memanggil suami mu," kata Dokter lagi yang membuat Naura kembali terhenyak.
"Suami?" tanyanya dengan bingung.
Dokter bergegas pergi dan tak berselang lama Arsen datang dengan senyum sumringahnya.
__ADS_1
"Hei, Naura, kamu sehat juga akhirnya," celetuk Arsen yang membuat Naura meringis.
"Asal kamu tahu, pandanganku masih buram. Kepalaku masih sakit seperti dipukul orang, tulang-tulang di tubuhku sepertinya patah bahkan remuk," celoteh Naura panjang lebar dengan suara yang rendah bahkan setengah berbisik. Namun, itu membuat Arsen senang.
"Namanya juga habis kecelakaan," kata Arsen. "Oh ya, kamu tahu nggak tadi Dokter bilang apa sama aku?"
Naura hanya menggeleng lemah.
"Dia bilang gini, Pak Arsen sudah boleh menemui istri Bapak."
Naura hanya bisa meringis mendengar cerita Arsen, hingga ia teringat dengan keluarganya sendiri.
"Mama?" lirih Naura.
Bersamaan dengan itu, yang dicari pun muncul dan seketika Bu Irna menitikkan air matanya saat melihat Naura yang sudah membuka mata.
"Mama lega, Sayang, Mama lega sekali akhirnya kamu sadar," bisik Bu Irna penuh haru.
"Nayra di mana, Ma?" tanya Naura.
"Dia masih di rawat," celetuk Arsen.
"Kenapa Mama biarin Naura melakukan ini? Dia baru melahirkan, Ma!" Naura tak bisa lagi menahan air matanya membayangkan Nayra berkorban untuknya.
"Kami semua mencoba mencegahnya, Sayang, bahkan Raka juga berusaha mencegah Nayra tapi anak itu benar-benar keras kepala," tukas Bu Irna.
"Aku mau bertemu dengannya."
__ADS_1
"Nanti," jawab Arsen dengan cepat. "Kalian berdua masih harus beristirahat, keadaan Nayra juga lemah, Ra. Dia sedang diinfus sekarang."
"Biar aku yang ke sana," tandas Naura.
"Jangan bodoh, Ra!" seru Arsen. "Aku tahu kamu mau ketemu sama adik kamu, tapi nanti, setelah keadaan kalian baik-baik saja. Jangan buru-buru seolah besok sudah kiamat."
Bu Irna melirik Arsen yang menurutnya cukup berlebihan. Namun, itu justru membuat Bu Irna semakin yakin bahwa pria itu memiliki rasa lebih dari teman untuk putrinya itu.
Sementara Naura hanya bisa menatap Arsen dengan sinis, tetapi entah kenapa ia patuh pada apa yang dikatakan pria itu.
Sementara di sisi lain, Raka masih menjaga Nayra yang kini sedang tertidur pulas. Pria itu tak pernah melepaskan tangannya sedikitpun dari sang Istri seolah ia takut Nayra pergi.
Kedua orang tuanya yang melihat hal itu hanya bisa geleng-geleng kepala, rasanya baru sekarang mereka melihat Raka begitu posesif pada seorang wanita.
"Kamu nggak lapar?" tanya Bu Mita pada Raka. "Mama belikan makanan, ya."
"Aku mau makan sama Nayra nanti, Ma," kata Raka.
"Raka, apa yang kamu cemaskan dari istri kamu?" tanya Pak Aditya. "Dia cuma perlu sedikit perawatan, dia tidak sedang sekarat."
"Entahlah, Pa," sahut Raka sambil mengulum senyum. "Setiap kali Nayra sakit, aku selalu cemas, takut, aku benar-benar khawatir. Bahkan, jika saja bisa ... aku ingin mengambil rasa sakit istriku. Aku nggak mau dia merasakan sakit meski cuma sedikit."
Pak Aditya tersenyum mendengar jawaban sang putra, rasanya takkan ada yang meragukan cinta Raka jika pria itu memperlakukan Nayra layaknya ratu seperti itu.
Tanpa Rasa sadari, Nayra telah terbangun sejak beberapa saat yang lalu dan ia sungguh terharu mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya itu.
Raka yang awalnya ia anggap sebuah kutukan kini berubah menjadi anugerah yang luar biasa untuknya.
__ADS_1