Rahim Nayra Untuk Naura

Rahim Nayra Untuk Naura
Bab 76 - Rasa Yang Tertinggal


__ADS_3

"Arsen, Tante, Om. Sahabat nya Naura."


Naura hanya bisa terperangah mendengar apa yang di katakan oleh Arsen pada orang tua nya sebagai salam perkenalan.


Kini kedua orang tua Naura langsung menatap Naura penuh tanda tanya, sebab mereka juga terkejut dengan pengakuan Arsen.


"Dia ... dia cuma sepupu nya, Ian, Ma, Pa!" Naura langung memberi tahu dengan tegas.


"Oh, begitu," gumam Bu Irna.


Naura hanya mengangguk pelan, sementara Arsen masih menyuguhkan senyuman terindah nya untuk kedua orang tua Naura itu.


"Iya, tadi ... mobil ku ban nya kempes, kebetulan ada Arsen di butik jadi kami pergi bersama," papar Naura agar kedua orang tua nya tak memikirkan yang macam-macam.


Tadi nya Naura masih bersikeras akan naik taksi saja untuk menjemput kedua orang tua nya, tetapi ia merasa kasihan pada mereka yang harus naik taksi karena mobil pribadi pasti jauh lebih nyaman. Apalagi ayah dan ibu nya itu dari perjalanan yang sangat jauh. Alhasil, Naura dengan sangat terpaksa menerima tawaran Arsen.


"Oh, dia ke butik sama siapa?" tanya Pak Desta sembari menarik koper nya yang cukup besar itu.


"Sendiri, Om," jawab Arsen dengan cepat.


"Mau belanja untuk siapa?" Kini Bu Irna yang bertanya karena di butik Naura tidak menyediakan pakaian atau barang-barang laki-laki.


"Aku nggak belanja, Tante, cuma datang," jawab Arsen lagi yang membuat Naura langsung meringis.


Pak Desta dan Bu Irna tentu semakin curiga dengan pria itu, kini mereka kembali menatap Naura penuh tanda tanya.


"Kenapa barang kalian banyak banget?" tanya Naura kemudian untuk mengalihkan topik pembicaraan.


"Oleh-oleh," jawab Bu Irna dengan singkat.


Arsen membantu Pak Desta memasukan koper nya ke dalam bagasi mobil. Setelah itu ia mempersilakan mereka masuk ke mobil nya.


"Arsen!" panggil Nayra setengah berbisik sebelum Arsen masuk ke dalam mobil.


"Kenapa, Ra? Mau bilang terima kasih? Nanti aja, ya. Kita pergi minum kopi lagi, itu sudah lebih dari cukup kok buat aku."


Naura hanya menggeram tertahan dan mencoba menahan dada nya yang bergemuruh saat mendengar celotehan panjang lebar Arsen itu.


"Jangan banyak bicara, aku mohon," pinta Naura dengan serius. "Okay? Cuma itu kok yang aku minta."


"Okay," jawab Arsen santai, bahkan pria itu masih sempat tersenyum manis.

__ADS_1


Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil, di mana kedua orang tua Naura sudah menunggu.


"Maaf lama, Tante, Om. Tadi Naura masih mau berbicara penting," ujar Arsen sambil menyalakan mobil nya.


"Apa ada masalah, Ra?" tanya Pak Desta.


"Nggak ada, Pa," jawab Naura singkat.


"Nggak ada masalah sih, Om, Naura cuma minta supaya aku nggak banyak bicara."


Naura langsung melongo, kedua bola mata nya melotot sempurna saat mendengar penuturan Arsen. Begitu juga dengan pak Desta dan Bu irna, mereka merasa ada yang tak beres antar dua manusia di depan nya ini.


"Apa kau gila?" desis Naura kesal.


"Aku cuma bicara apa ada nya," kilah Arsen.


"Astaga!"


Naura hanya bisa geleng-geleng kepala, seperti ini menghadapi Arsen jauh lebih sulit dari pada menghadapi kenyataan terpahit dalam hidup nya.


Selama dalam perjalanan pulang, Arsen terus mencari topik yang menarik untuk mengajak kedua orang tua Naura. Sementara Naura terpaksa menutup telinga nya dengan earphone. Dari pada dia pusing dengan ocehan Arsen," pikir Naura.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhir nya kini Arsen sudah sampai di rumah kedua orang tua Naura.


"Terima kasih, Arsen, sampai ketemu nanti," kata Naura berniat mengusir Arsen dengan halus.


Namun, tindakan nya itu tampak membuat Bu Irna kesal.


"Mampir dulu, Arsen, setidak nya biar melepas letih sebentar," ujar Bu Irna.


Arsen melirik arloji nya kemudian berkata, "Mungkin lain kali, Tante, sekarang aku harus pergi."


Naura sangat bernapas lega mendengar ucapan Arsen, bahkan senyum lebar langsung mengembang di bibir pria wanita itu.


"Terima kasih banyak, Arsen, hati-hati di jalan," seru Naura.


"Terima kasih atas perhatian nya, kawan," kata Arsen yang seketika membuat Naura terkekeh.


Setelah Arsen pergi, Naura dan kedua orang tua nya langsung masuk ke dalam rumah.


Bu Irna pun langsung membuka isi koper nya karena ia tak sabar untuk memberikan sepatu dari Nayra untuk Naura.

__ADS_1


"Mandi dulu kali, Ma," seru pak Desta.


"Papa mandi duluan gih," kata Bu Irna yang membuat sang suami hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Mama belanja apa aja?" tanya Naura yang ikut membongkar isi koper ibu nya itu.


"Banyak, ada sepatu, baju, beberapa make up dan beberapa cemilan," papar Bu Irna yang membuat Naura tertawa.


"Ngapain Mama belanja beginian terus repot repot bawa koper sebesar ini? Padahal aku bisa pesan kan langsung kok dari sana, biar di kirim," tukas Naura.


"Iya sih," kekeh Bu Irna. "Oh ya, ini sepatu buat kamu."


"Hem, coba aku lihat!"


Naura membuka kotak sepatu tersebut dan ia tampak menyukai nya. "Mama tahu aja selera ku," ujar Naura senang. Bahkan, ia langsung mencoba sepatu yang memang terlihat sangat mewah itu.


"Wah, ukuran juga pas. Cocok neh buat di pakai ke pesta." Bu Irna hanya tersenyum menanggapi ucapan putri nya, hingga tiba-tiba Naura bertanya, "Mama atau Nayra yang beli?"


"Hah?"


Tentu saja pertanyaan Naura itu membuat Bu Irna sedikit terkejut. "Nayra, ya?" cicit Naura.


Bu Irna tak punya pilihan lain, ia mengangguk pelan. Naura pun terdiam sejenak, kemudian ia melepaskan sepatu itu dan memasukan kembali ke dalam kotak nya.


"Ra, jangan begitu dong, Sayang," tegur sang ibu dengan lembut. "Nayra bilang itu cuma ungkapan terima kasih atas gaun pemberian kamu," imbuh nya, berharap hati Naura tersentuh dan mau menerima hadiah dari sang adik.


"Aku membeli gaun itu pakai uang ku sendiri, Ma," ujar Naura. "Sedangkan Nayra membelikan aku barang dari uang suami nya, bukan dari uang nya sendiri."


Bu Irna sedikit terhenyak mendengar ucapan Naura, ia tak menyangka justru kata-kata itu yang keluar dari mulut putri nya itu.


"Ra, kenapa kamu bilang begitu, Nak?" Bu Irna tak dapat menyembunyikan kesedihan dan kekecewaan nya atas respon Naura.


"Itu fakta nya," tandas Naura dingin.


"Mama tahu," seru Bu Irna. "Tapi kamu 'kan juga tahu kalau adik kamu itu nggak kerja, ya semua kebutuhan dia memang dari uang suami nya, Ra."


"Hem," gumam Naura kemudian dia berlari naik ke kamar nya.


Gengsi?


Mungkin rasa itu ada dalam hati Naura.

__ADS_1


Dulu ia yang menikmati uang dari Raka, memberikan beberapa hadiah untuk Nayra dan juga teman-teman nya menggunakan uang Raka. Lalu, kenapa sekarang posisi ini justru terbalik?


Rasa nya sangat aneh, seperti ada yang mengganjal di hati Naura.


__ADS_2