Rahim Nayra Untuk Naura

Rahim Nayra Untuk Naura
Bab 71 - Masih Belum Siap


__ADS_3

Saat makan malam, teman-teman Naura bercerita kembali tentang masa-masa sekolah mereka dulu sambil tertawa. Dan terkadang mereka meringis saat mereka bercerita tentang masalah yang mereka lalui di masa itu, masalah kecil yang dulu mereka anggap besar.


Contoh kecil nya seperti putus cinta, dulu mereka patah hati sampai tidak fokus belajar. Dan sekarang mereka menertawakan hal itu.


Dalam cerita masa-masa sekolah mereka, tak jarang mereka menyebut nama Nayra karena adik kembar Naura itu memang satu angkatan dengan mereka. Bahkan satu kelas.


Namun, Naura hanya tersenyum tipis menanggapi semua cerita itu.


"Dulu ingat nggak sih, pas si kacamata ini ngambek karena di bully ...." Vely bercerita sambil melirik Ian yang tampak kesal karena ia masih saja di panggil kacamata. "Dia datangin Nayra karena mengira itu Naura terus si bocah ini marah-marah, eh si Nayra malah menepuk-nepuk pundak dia sambil bilang gini cup cup, sabar ya, nggak usah nangis."


"Haha!"


Sontak semua teman-teman Naura tertawa terbahak-bahak mengingat kejadian itu, bahkan kini Naura juga tertawa saat mengingat kejadian lucu tersebut.


Saat itu, Ian yang merasa sudah tak terima lagi di bully akhirnya menguatkan tekad untuk melawan dan melabrak yang membully, tetapi sayang nya bocah itu justru salah sasaran.


"Aku udah tahu kok kalau itu Nayra!" seru Ian yang kesal karena terus di tertawakan.


"Ah masa?" goda Nita.


"Kamu manggil dia Nayra, Ian, kami dengar kok," sambung Naura yang membuat Ian semakin kesal dan itu justru membuat teman-teman yang lain semakin tertawa.


Beda hal nya dengan Arsen, pria itu hanya mengulum senyum sambil menatap Naura yang tampak cantik saat tertawa. Bahkan, Arsen tak segan menatap Naura dengan intens seolah ia tertarik pada wanita itu.


Naura yang menyadari di perhatikan oleh Arsen langsung menatap pria itu dengan dingin, bahkan tawa nya seketika berhenti dan raut wajah nya pun kembali datar.


Arsen tersenyum miring melihat perubahan raut wajah Naura, membuat ia semakin merasa tertarik wanita yang tampak masih menyimpan luka itu.


"Aku mau ke kamar duluan," kata Naura kemudian, ia merasa tak nyaman dengan keberadaan Arsen di antara diri nya dan teman-teman nya.


"Bukan nya kalian ke sini mau reunian?" tanya Arsen tetapi tatapan nya masih lurus menatap Naura. Tentu saja ia ingin Naura terus ada di sana,, agar ia bisa terus menikmati kecantikan wanita itu dengan bebas.


"Terus kenapa mau masuk sangkar terus? Nggak bosan apa?" tanya Arsen pada Naura sambil mengedipkan sebelah mata nya.


Naura hanya menatap pria itu sekilas sebelum akhir nya ia beranjak pergi tanpa menanggapi ucapan Arsen, membuat sepupu Ian itu hanya bisa menghela napas lesu.

__ADS_1


"Kamu tertarik sama dia, Sen?" celetuk Ian.


"Sepertinya begitu," jawab Arsen dengan jujur.


"Jangan deh," cegah Ian dengan cepat. "Dia itu orang nya perfeksionis, kamu bukan tipe dia."


"Oh ya? Tapi dia tipe aku."


...🦋...


Hari-hari yang di lewati oleh Nayra bersama suami dan orang tua nya menjadi hari yang paling indah dalam hidup nya. Sedikit demi sedikit beban yang menggumpal di hati nya mulai mencair dan hilang secara perlahan.


Meskipun Naura tidak membalas pesan nya, tetapi ia tidak merasa sedih atau sakit hati. Mungkin kakak nya itu masih gengsi, tetapi setidak nya sekarang Nayra tahu, Naura masih menyayangi nya seperti ia yang masih sangat menyayangi sang kakak. Harapan dan doa Nayra semakin terlihat di depan sana.


Nayra juga tahu kakak nya itu pergi ke Villa bersama teman-teman sekolah mereka dulu, Nita memposting foto-foto mereka dan Nayra sangat senang melihat sang kakak kembali tersenyum.


"Tapi dia siapa?" gumam Nayra saat menemukan foto pria asing yang bukan teman sekolah mereka dulu.


Saat ini Nayra sedang berjemur di halaman belakang rumah nya, menikmati mentari pagi yang masih hangat dan sejuk.


Nayra langsung menoleh saat mendengar suara sang ibu. "Iya, Ma?" sahut nya sambil tersenyum.


Ibu nya itu pun duduk di sisi Nayra, ia menatap ponsel Nayra yang masih menyala dan menampilkan foto teman-teman nya. "Naura ke Villa, ya?" tanya sang ibu karena ia memang tidak tahu itu.


"Iya, sama Nita dan teman-teman yang lain," jawab Naura.


"Bagus lah, siapa tahu dengan begitu dia jadi terhibur dan bisa melupakan masalah nya sejenak. Sudah terlalu lama dia terpuruk."


Nayra terdiam dan langsung menunduk, rasa bersalah nampak kembali di sorot mata nya membuat sang ibu langsung merasa salah tingkah.


"Nay, bukan itu maksud Mama," ujar Bu Irna dengan cepat.


"Aku paham kok, Ma," lirih Nayra sambil tersenyum tipis. "Aku juga perempuan, aku mengerti apa yang Naura rasakan dan ini memang salah ku."


"Nayra ...." Bu Irna menggenggam tangan putri nya itu dengan lembut. "Maafin Mama, Sayang, Mama nggak bermaksud mengungkit masalah itu kembali."

__ADS_1


Nayra hanya mengangguk mengerti.


"Mama tahu, kamu nggak pernah punya niat sedikit pun untuk memiliki Raka seperti ini. Kamu sama sekali nggak salah, garis takdir nya memang seperti ini."


Lagi-lagi Nayra hanya mengangguk mengerti.


"Sebenarnya Mama mau minta sesuatu sama kamu, Nayra."


"Minta apa?" tanya Nayra sedikit terkejut.


"Pulang, ya? Kita temui Naura dan berbicara dari hati ke hati, Mama nggak bisa melihat kalian bermusuhan seperti ini." Air mata Bu Irna tumpah begitu saja.


Akhirnya ... apa yang ia simpan selama ini keluar juga dari mulut nya. Sementara Nayra langsung menegang mendengar permintaan sang ibu, sesuatu yang sangat ia inginkan tetapi tak mungkin ia lakukan.


"Mama ingin melihat kalian seperti dulu lagi, Nak," lirih Bu Irna.


"Ma, aku—"


"Kami sudah memutuskan untuk tinggal di sini, Ma."


Nayra dan Bu Irna langsung menoleh pada asal suara itu.


Raka datang, ia berjalan cepat mendekati ibu mertua dan istri nya itu. "Maaf, Ma," ucap Raka kemudian. "Bukan nya kami nggak mau tapi kami belum bisa," ujar Raka penuh penekanan.


"Kenapa, Raka? Bagaimana pun juga Naura dan Nayra saudara, mereka bukan hanya tumbuh besar bersama tetapi mereka ada di rahim Mama dalam waktu yang bersamaan, lahir dalam waktu yang sama pula. Mereka nggak bisa di pisahkan begini," tukas Bu Irna juga penuh penekanan.


"Mereka bukan di pisahkan," sanggah Raka dengan cepat. "Tapi ini yang terbaik untuk semua nya, Nayra butuh waktu dan ruang, begitu juga dengan Naura."


"Tapi, Raka—"


"Kami hanya akan menemui Naura saat Naura sendiri siap menemui kami."


...🦋...


__ADS_1


__ADS_2