Rahim Nayra Untuk Naura

Rahim Nayra Untuk Naura
Bab 62 -


__ADS_3

Raka tak bisa berkedip saat melihat Nayra dalam balutan gaun pengantinnya, sungguh sangat cantik bahkan ia merasa calon istrinya itu seperti bersinar.


"Bagaimana? Sudah pas? Apa ada yang kurang?" tanya Nayra yang justru terlihat sangat gugup.


Ia sungguh merasa gugup, apalagi ia tak percaya diri akan tampil cantik dalam balutan gaun impiannya itu. Sebab, kini dia merasa sangat gemuk. "Apa ini kekecilan?" tanya Nayra lagi.


"Kamu sempurna, Nayra!" seru Bu Mita dengan mata yang berbinar.


Saat ini Nayra fitting gaun pengantinnya dengan ditemani Raka dan kedua orang tuanya. "Cantik 'kan, Pa?" tanya Bu Mita pada sang suami.


"Sangat cantik, seperti bidadari yang baru turun dari langit," goda Pak Aditya yang membuat Nayra tersipu malu. "Kalau cucu kami cewek, pasti secantik ibunya," ujarnya kemudian.


Namun, Nayra menunggu penilaian dari Raka. Sehingga ia tetap menatap pria itu dengan tatapan yang tampak sayu. "Kenapa?" tanya Raka sembari mendekati Nayra yang berdiri di depan cermin.


"Aku jelek, ya? Aku terlalu gendut, ya? Apa kita tunda saja pernikahan kita sampai aku melahirkan nanti terus aku kurus kembali?" celoteh Nayra panjang lebar.


Raka berdecak sambil mencubit pipi tembem Nayra dengan gemas. "Aku benar-benar nggak sabar menjadikan kamu istriku, eh kamu malah mau nunggu kurus." Raka menangkup pipi Nayra, ia menatap matanya dengan intens kemudian berkata, "Kamu sangat cantik, terlalu cantik sampai gaun apapun yang kamu pakai pasti akan terlihat semakin cantik."


Nayra langsung merona mendengar pujian Raka, apalagi tatapan pria itu yang penuh cinta bahkan seolah memuja. Membuat Nayra merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia.


"Raka benar, Nay," seru Bu Mita. "Kamu benar-benar cantik, semoga saja nanti anak-anak kalian menuruni kecantikan dan kebaikan hati kamu."


Kecantikan?


Menurununi kecantikan Nayra berarti menuruni kecantikan Naura, sebab mereka tidak memiliki perbedaan apapun secara fisik. Namun, menuruni kebaikan hati?


Nayra merasa malu dianggap memiliki hati yang baik, ia pergi bersama mantan suami kakaknya, ia pergi meninggalkan tunangan yang sangat mencintainya. Adakah kebaikan di hatinya?


"Sayang ...." Raka mengusap pipi Nayra. "Jangan melamun, nanti cantiknya hilang."


Nayra langsung tertawa, ia mencubit pinggang calon suaminya itu.


"Foto dulu, mau aku kirim ke Papa. Kita lihat apa respon dia, okay? Kalau dia bilang bagus, kamu harus pakai gaun yang ini."


Nayra mengangguk setuju, bahkan ia tampak semangat membayangkan sang ayah akan memberikan pendapatnya tentang gaun pengantinnya.


Raka pun mulai mengambil beberapa gambar Nayra dari berbagai arah, ia juga meminta calon istrinya itu berpose layaknya model.


"Biar makin cantik, Sayang," seru Raka.


"Tapi aku belum dandan, rambutku juga cuma dicepol begini," protes Nayra.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, ini namanya unik."


...🦋...


"Kamu nggak ke butik, Ra?" tanya Pak Desta yang kini sudah bersiap-siap pergi ke kantor, sedangkan Naura justru asik nonton kartun sambil tertawa cekikikan. Bahkan, wanita itu masih memakai piyamanya dan rambutnya sudah seperti ekor singa.


"Nggak, Pa, hari ini aku sama Mama mau jalan-jalan," jawab Naura di tengah tawanya. "Capek cari uang terus, Pa, sesekali mau istirahat." Lanjutnya yang membuat sang Ayah juga tertawa.


Ia senang melihat Naura kini sudah banyak berubah, putrinya itu tampak sudah menikmati hidupnya sekarang.


"Ya sudah, Papa pergi dulu." Pak Desta mencium pipi Naura sebelum akhirnya ia pergi, sementara Naura masih fokus pada layar televisi hingga akhirnya ia mendengar suara beep berkali-kali dari ponsel di meja.


Naura mengambil ponsel itu dan menyadari itu ponsel ayahnya. Naura membuka pesan yang masuk dan seketika ia tercengang.


Beberapa foto Nayra yang sedang memakai gaun pengantin dikirim dari nomor Raka. Tiba-tiba hati Naura terasa sesak, bahkan matanya kembali terasa panas dan air mata sudah menumpuk di pelupuk matanya.


"Pa, Nayra ingin tahu bagaimana pendapat Papa dengan gaun ini? apakah bagus? Nayra merasa tidak percaya diri karena gendut katanya."


Naura tersenyum kecut membaca pesan dari mantan suaminya yang kini berubah menjadi calon kakak iparnya.


Naura kembali melihat foto-foto Nayra dengan seksama kemudian membalas pesan Raka.


Me


Setelah mengirimkan pesan itu, Naura hendak mengejar sang ayah yang masih memanas kan mobilnya di depan. Namun, ia urungkan niatnya saat Raka membalas pesannya.


^^^Raka A ^^^


^^^"Menurut Papa, apa Nayra terlalu gemuk? Dia benar-benar nggak percaya diri, bahkan ingin menunda pernikahan kami sampai dia melahirkan dan tubuhnya kembali kurus. Dia terus merengek manja tentang berat badannya, tapi dia makan seperti tukang kuli, bahkan di jam dua pagi dia bisa makan untuk dua porsi laki-laki. "^^^


Tanpa sadar Naura justru tertawa membaca pesan Raka, ia tak menyangka ternyata Nayra bisa merengek manja. Bahkan, yang lebih mengejutkannya, ternyata Nayra juga tak suka gemuk, padahal selama ini ia tidak terlihat ingin menjaga badannya.


"Sejak kapan kamu berubah jadi wanita manja begini, Nay," gumam Naura sambil mengetik pesan untuk Raka.


Me


"Aku rasa dia tetap cantik dan seksi selama berat badannya masih di bawah 100 kg, jika berat badannya sudah segitu, maka dia bukan hanya gendut tapi sudah sekarat. Katakan saja padanya, semua orang hamil pasti gendut dan akan makan seperti sapi kelaparan. Itu normal."


Naura kembali duduk di sofa dengan tenang. Entah sadar atau tidak, Naura menikamati bertukar pesan seperti ini dengan Raka dan membicarakan Nayra.


^^^Raka A ^^^

__ADS_1


^^^"Pa, tega sekali aku Papa bilang aku seperti sapi kepalaran?" ^^^


Naura terhenyak saat membaca pesan itu, itu artinya kini Nayra yang membalas pesannya. Entah kenapa jantung Nayra berdebar, ada perasaan yang membuncah di dadanya dan ia tidak tahu apakah itu amarah, cemburu atau bahkan mungkin rindu.


^^^Raka A^^^


^^^"Aku bukannya rakus, tapi bayinya juga mau makan. Sebenarnya aku makan sedikit seperti biasa, tapi bayinya kan juga butuh asupan jadi porsiku nambah." ^^^


"Sejak kapan dia suka mengelak begini?" gumam Naura sambil terkekeh. Hanya dengan bertukar pesan begini, Naura dapat merasakan perbedaan dari sikap Nayra yang tak seperti biasanya.


Me


"Apapun alasannya, itu sama saja. Yang makan mulutmu, yang meneruma perutmu."


^^^Raka A^^^


^^^"Jadi menurut Papa apakah aku terlalu gendut?" ^^^


Me


"Cukup gendut, sampai aku hampir tidak bisa mengenalinya. Kamu seperti Bobo yang kau mau itu."


...🦋...


Nayra terdiam, jantungnya berdetak lebih cepat saat membaca pesan terkahir yang masuk ke ponsel Raka.


"Bobo?" gumam Nayra dalam hati, ia kembali membaca pesan masuk dari atas dan seketika ia tercengang, ada perasaan yang bergejolak dalam dadanya saat ia merasakan Naura lah yang membalas pesannya.


Bercanda dengan kata Bobo hanya Naura yang melakukannya, orang tuanya tak pernah mengungkit tentang nama impian untuk calon hamster nya itu.


"Kenapa, Sayang?" tanya Raka karena Nayra hanya menatap layar ponselnya.


"Nggak apa-apa," jawab Nayra sambil cengengesan.


Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia membalas pesan yang ia yakini dari Naura itu.


Me


"*Itu lucu dong, aku pasti sangat menggemaskan."


...🦋*...

__ADS_1


__ADS_2