
Bu Irna yang saat ini sedang menyiapkan makan malam untuk suaminya dikejutkan dengan kedatangan Naura.
"Kok nggak bilang kalau mau pulang, Ra?" Ia memeluk putrinya itu, melepas rindu yang selama ini terpendam.
"Sebenarnya aku nggak ada niat mau pulang sih, Ma, cuma tadi kebetulan lewat jalan ke sini."
Bu Irna mendelik mendengar jawaban putrinya itu, sementara Naura hanya terkekeh.
"Oh ya, aku beli kepiting untuk papa," ucapnya kemudian.
"Papa ada di kamar, panggil gih," titah sang ibu yang langsung dipatuhi oleh Naura.
Sementara itu, Pak Desta sedang melihat foto gaun pengantin dan cincin pernikahan Nayra yang dikirimkan oleh Raka.
Diam-diam selama ini mereka berkomunikasi, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Pak Desta dulu. Dia akan selalu mengawasi mereka.
Raka meminta mendapat gaun dan cincin mana yang bagus untuk mereka, tentu saja Pak Desta mengatakan semua gaun itu pasti akan bagus jika dipakai oleh Nayra. Ia juga tidak sabar ingin melihat putrinya memakai gaun dan cincin pernikahannya.
"Pa?"
Pak Desta menoleh saat mendengar Naura.
"Eh, kamu pulang, Nak." Pak Desta langsung meletakkan ponselnya. "Dari tadi, Ra?"
"Baru sampai, Pa," jawab Naura sambil tersenyum, ia mendekati sang Ayah kemudian merangkulnya dengan manja seperti yang biasa ia lakukan dulu.
"Aku beli kepiting buat Papa," ujar Naura kemudian.
__ADS_1
"Kamu memang pengertian, Ra, Papa memang sudah lama ingin makan kepiting," kekeh Pak Desta sambil mengacak-acak rambut Naura dengan gemas. "Oh ya, bagaimana pekerjaan kamu?"
"Lancar, aku lagi cari karyawan baru karena semakin hari pelanggan semakin banyak. Kasihan mereka kewalahan."
"Itu bagus, kenapa kamu nggak buka cabang aja sekalian? Yang lebih luas tempatnya."
"Nanti dulu deh, Pa."
...🦋...
Raka terbangun dari tidurnya dan ia melihat Nayra yang duduk merenung dengan tatapan yang tampak kosong.
"Sayang?" Raka beranjak duduk sembari menyalakan lampu di sisanya. "Kenapa nggak tidur? Ini sudah malam."
Nayra langsung menoleh, menatap Raka dengan sendu. "Kenapa? Kamu lapar? Mau makan sesuatu?"
"Aku ingin mereka datang ke pernikahanku, Raka."
Raka terkejut mendengar apa yang diinginkan oleh Nayra, padahal sebelumnya mereka sudah membicarakan hal itu. Awalnya Raka memang ingin meminta orang tua datang tetapi Nayra yang menolak karena merasa tak enak hati pada Naura.
"Waktu itu kamu nggak mau, Sayang," kata Raka.
"Aku tahu, tapi nggak tahu kenapa sekarang aku kangen banget sama mereka." Air mata Nayra meluncur begitu saja dan Raka langsung menyekanya.
"Okay, kita bicara besok," kata Raka. "Sebaiknya sekarang kita tidur lagi, okay? Ini sudah malam."
Nayra mengangguk, ia menurut saja saat Raka menariknya ke dalam pelukan pria itu.
__ADS_1
Bahkan Nayra mencari posisi paling nyaman dalam pelukan sang kekasih.
"Raka?" lirihnya.
"Hem?" Raka hanya menggumam sambil mengusap-usap rambut Nayra.
"Terima kasih untuk semuanya." Raka tersenyum, ia mengecup kepala wanita itu sebagai balasan atas ucapan terima kasihnya.
"Aku mencintaimu, Nayra, akan aku lakukan apapun untukmu."
...🦋...
Naura menginap di rumah orang tuanya malam ini, ia merindukan rumah yang penuh dengan kenangan indah itu.
Saat ini ia sedang menonton video ulang tahun dirinya dan Nayra yang disatukan oleh kedua orang tua mereka.
Dari ulang tahun pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Naura tertawa saat ada keributan di ulang tahunnya yang ke 8.
Naura ingin meniup lilin lebih dulu karena ia merasa lebih tua dari Nayra, dan Nayra mengalah.
Namun, Nayra tak membiarkan Naura memotong kuenya yang bergambar kelinci itu. Dari sanalah keributan terjadi karena Naura tetap memotong kue itu, Nayra tak terima dan keduanya bertengkar.
"Aku nggak minta maaf," lirih Naura. "Padahal nggak ada salahnya kalau aku ngalah ke Nayra, toh dia juga ngalah dan membiarkan aku meniup lilin lebih dulu."
Nayra tersenyum kecut, memang benar sebagai kakak ia merasa lebih segalanya dari pada adiknya. "Dan sekarang keadaan berbalik," gumam Naura. "Nayra lebih dalam segala hal dari pada aku, hidupnya sempurna."
...🦋...
__ADS_1