
"Kamu nggak ada niat menikah?" tanya Naura yang langsung membuat Arsen tertawa.
"Pasti ada lah, Ra, aku masih normal," ujar Arsen. "Cuma yaa itu, aku mau ngurus anak-anak dulu. Setelah itu mengurus bisnis, meraih kesuksesan, menjadi kaya raya baru setelah itu aku akan mencari wanita," papar nya panjang lebar dan kini Naura yang tertawa.
Saat ini Arsen dan Naura sedang berada di taman, hanya untuk menikmati hembusan angin sore yang terasa begitu segar.
Melepas penat setelah seharian mereka sibuk dengan urusan masing-masing.
"Padahal dulu aku pikir kamu itu playboy," ucap Naura. "Eh nggak tahu nya ... jomblo abadi," cibir Naura.
Siapapun yang melihat bagaimana pria itu mencoba mendekati Naura pasti lah akan berpikir bahwa Arsen adalah seorang playboy padahal Arsen hanya ingin Naura berbagi rasa sakit nya dengan orang yang merasakan hal yang sama.
"Aku bukan jomblo abadi, Ra, aku hanya sedang mencari teman hidup yang berkelas," ujar Arsen.
"Kelas berapa?" ejek Naura sambil tertawa.
Bersamaan dengan itu, ponsel dalam tas nya berdering. "Tunggu sebentar," pinta Naura yang kini menghentikan langkah nya.
Naura merogoh ponsel itu dari itu tas nya dan ia mengernyit saat nama Raka tertera di layar pipih tersebut.
Naura ingin mengabaikan telpon tersebut. Namun, ia teringat dengan Nayra. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan adik nya itu dan Raka ingin menghubungi nya? Apalagi Naura tahu mungkin Nayra akan melahirkan dalam waktu dekat.
"Siapa?" tanya Arsen karena ia melihat Naura hanya menatap ponsel nya sementara ponsel nya itu masih terus berdering.
"Nayra," jawab Naura dengan asal. "Aku akan berbicara dengan nya sebentar," ucap Naura sambil melangkah menjauh dari Arsen.
Arsen tampak bingung sekaligus penasaran dengan Naura, kenapa ia harus menjauh hanya karena mendapat telpon dari adik nya.
Naura menarik napas panjang sebelum akhir nya ia menjawab panggilan dari mantan suami nya itu.
Sudah lama sekali, mereka tak pernah saling berbicara. Pertemuan terkahir mereka saat di toilet di restoran.
Naura menempelkan ponsel itu di telinga nya, tak ada suara, hening. Ia pun tak berani bersuara lebih dulu.
Selama beberapa saat masih ada tak ada suara, seolah mereka saling menunggu. Hingga akhir nya ....
"Ra?"
Nayra menahan napas saat mendengar suara sang adik, suara nya terdengar lirih dan lemah. "Naura?" panggil Nayra sekali lagi.
"Hem," sahut Naura, ia memegang dada nya yang bergemuruh dan terasa sesak.
"A-anak ... anak kita sudah lahir."
__ADS_1
Entah kenapa, air mata Naura tumpah saat ia mendengar apa yang di katakan oleh Nayra. Ia membuka mulut nya tapi tak mampu bersuara.
"Aku tahu aku mengingkari janji ku, aku minta maaf," ucap Nayra dan kini suara nya bergetar, bahkan Naura dapat mendengar isak tangis yang coba di tahan oleh Nayra.
"Tapi ... tapi anak yang aku lahirkan ini juga anak kamu, Ra, dia putra kita."
Naura tidak tahu harus bereaksi seperti apa, apalagi ketika Nayra mengalihkan panggilan suara itu ke panggilan video.
Naura ragu untuk menerima nya, tetapi ada dorongan dalam jiwa nya untuk menerima panggilan tersebut.
"Ya Tuhan," gumam Naura saat melihat bayi mungil di layar ponsel nya.
Ia langsung merasa jatuh cinta pada bayi itu, bayi murni yang tak berdosa. Yang berhasil membuat hati Naura bergetar.
"Dia tampan, kan?" terdengar suara Nayra. "Kami memberi nya nama Aditya Alvaro, bagaimana menurut mu? Apa nama itu bagus?" tanya Nayra seolah sebelum nya tak pernah ada masalah antara diri nya dan Naura.
Sementara Naura lagi-lagi tahu harus menjawab apa.
Aditya Alvaro.
Nama itu terdengar indah di telinga Naura, sangat cocok dengan bayi itu.
"Mama dan Papa sudah di kasih tahu?" tanya Naura akhir nya.
"Tadi sudah di kasih tahu sama Raka," jawab Nayra. "Tapi aku belum telfon Mama."
"Aku tahu, aku cuma merasa kamu juga berhak tahu aku sudah melahirkan, Ra."
"Aku sudah tahu sekarang, terima kasih sudah memberi tahu ku." Naura masih berkata dengan dingin, seolah masih menggenggam luka di masa lalu.
Bahkan, setelah itu ia juga memutuskan sambungan telpon nya begitu saja.
...🦋...
"Jangan pernah menghubungi nya lagi."
Raka langsung mengambil ponsel nya dari tangan sang istri, ia tampak kecewa dengan respon Naura dan ia jauh lebih kecewa pada Nayra yang memaksa menghubungi Naura.
"Aku pikir ... dia akan senang, Raka," cicit Nayra sembari menyeka air mata nya.
"Jangan naif, Sayang," desis Raka dengan tajam. Ia merasa kesal, gemas dan bahkan marah dengan Nayra yang masih terus berusaha meluluhkan hati Naura.
"Mau sampai kapan kamu seperti mengemis pada Naura seperti ini, hem? Dia nggak perduli sama kamu, atau sama anak kita."
__ADS_1
"Aku hanya mencoba," kilah Nayra sambil tertunduk sedih. Raka menatap wajah sang istri yang tampak begitu sendu, ia menarik napas panjang, mencoba mengatur perasaan nya yang kembali berdebar.
Ia juga mengerti perasaan Nayra, tak ada saudara yang tahan bermusuhan lama dengan saudara nya sendiri apalagi ini saudara kembar.
"Nayra ...." Raka memeluk Nayra. "Yang ada Naura makin benci sama kamu kalau kamu begini lagi, dia pasti cemburu sama kamu."
Nayra mengangguk mengerti, seperti nya ia memang harus menyerah berharap pada Naura. Dia harus menyerah mencoba meluluhkan hati sang kaka yang seperti nya sudah sekeras batu.
"Sebaik nya sekarang kita telfon mama dan papa, okay?" Raka tersenyum lebar, agar sang istri juga tersenyum. "Kita video call sama mereka, gabung."
Nayra hanya mengangguk sambil tersenyum meski masih ada sedikit perih di hati nya.
Raka pun menghubungi orang tua nya dan mertua nya untuk kembali.
"Syukurlah kamu sudah sadar, Nay," seru Bu Mita saat melihat menantu nya itu sudah sadar. "Raka sudah hampir pingsan menunggu kamu sadar tadi," kekeh nya.
"Bagaimana keadaan kamu, Nak?" tanya Bu Irna.
"Lebih baik, Ma, cuma masih lemas," ungkap Nayra. "Apa kalian nggak akan ke sini untuk melihat cucu pertama kalian?" tanya Nayra.
"Kami akan segera mengatur keberangkatan kami ke sana," ujar Pak Aditya.
"Iya, Nak, tunggu saja," sambung Pak Desta.
Obrolan mereka masih terus berlanjut sampai beberapa menit, hingga Dokter datang untuk melakukan pemeriksaan kembali pada Nayra.
Hari sudah malam, dan Dokter meminta Nayra agar beristirahat.
...🦋...
Arsen hanya bisa bungkam seribu bahasa saat mendengar Naura yang kini bersedia membuka cerita kisah hidup nya yang sebenarnya. Kisah di balik perceraian nya dengan Raka hingga mantan suami nya itu menikahi adik Naura sendiri.
Sangat sulit bagi Arsen mencerna cerita Naura yang menurut nya tidak masuk akal dan gila.
"Dan sekarang aku menerima konsekuensi nya," lirih Naura sambil tersenyum mengejek diri nya sendiri. "Hidup ku hancur dan hidup mereka sempurna."
"Kamu nggak mau menerima keadaan ini, Ra?"
"Bukan nggak mau, tapi sulit."
"Akan sulit kalau kamu nggak pernah mencoba untuk memperbaiki nya."
...🦋...
__ADS_1
Satu bab lagi, gaesss....
Senang nggak neh hari ini up 6 bab?