Re [Life] : Incarnation

Re [Life] : Incarnation
Pencuri dan Goa Kecil Dekat Kota yang Kacau


__ADS_3

Setelah kejadian itu, aku dengan cepat membawa anak itu bersama kami untuk mengamankan diri. Aku juga membawa mayat orang tuanya menggunakan penyimpanan dimensional karena keadaan darurat. Zena juga terkejut melihat ruang dimensional itu tapi bagiku itu hal biasa dalam game.


*Shut!


Aku mendarat dari dinding kota dan turun di dekatnya. Lalu menurunkan Zena yang berada di punggungku dan Seorang anak kecil yang tidak aku ketahui namanya berada di gendongan putri.


"bisakah kalian berdua turun?"


Aku mengucapkannya dengan membungkuk. Lalu menurunkan Zena terlebih dahulu dan kemudian anak kecil itu.


"Uhm... sekarang kita akan kemana?"


"Sebelum itu aku akan memasang sihir ilusi itu kembali. [Mirage]."


Seketika Telinga elf Zena berubah menjadi seorang manusia. Anak kecil itu terkejut seketika lalu menjadi tenang kembali. Aku kemudian mengeluarkan mayat orang tua anak itu dan menguburnya dekat hutan.


Aku juga membuatkan batu nisan sederhana. Batu nisan itu berupa batu yang ditumpuk di atas kubur 2 pasangan yang telah mati itu.


"Aku akan mengenang jasamu telah mengorbankan nyawamu demi anakmu."


Sambil mengucapkannya aku memberikan sebuah bunga.


"Mulai sekarang serahkan kepada kami berdua untuk menjaganya."


Zena mengucapkannya lalu memberikan bunga di atas kuburnya. Sang anak itu terlihat kebingungan melihat kami berdua bertingkah seperti itu. Dia dengan segera mendekat lalu berjongkok diantara aku dan Zena.


"Hm?"


Dia melihat wajahku dengan mata kiri tertutup kain lalu mengalihkannya ke wajah Zena yang sedang memejamkan matanya.


"Mulai sekarang kita akan tinggal bersama, jadi mohon bantuannya ya?"


Zena yang selesai berdoa segera mengucapkannya dengan melihat wajah anak itu. Lalu aku dengan halus mengacak-acak rambutnya yang penuh dengan debu.


"Ehehe..."


Dia sedikit tersenyum.


"Namaku Meliana. Kakak-kakak sekalian siapa?"


"Namaku Zena, Seorang elf...."


Dia secara tidak sengaja mengingatnya dan kembali bersedih.


"Kakak?"


"Oh!? Ah... Pria dengan mata terluka ini pacarku, Luke."


Sambil terkejut dia menyebutnya dengan asal.


"Ah! Sudah kuduga kalian berpacaran!"


"...!?"


"Ah... Mungkin bisa dianggap teman dekat...?"


Sepertinya Zena sudah mulai berusaha melupakan kejadian waktu itu, dan memperlihatkan ekspresi senyum kepada Meliana.


"Mulai sekarang kita akan dimana kakak?"


"Hm.. Berhenti menyebut kakak kepadaku, Cukup panggil saja Luke atau kak Luke sudah cukup."


"Tidak! kalau begitu papa dan mana..?"


"Ap-! Aku masih belum-!"


Aku dengan cepat membungkam mulut Zena yang dengan panik hampir menyakiti hati anak kecil tidak bersalah.


"Aahaha... kalau begitu silahkan.."


Sambil tersenyum kaku aku mengucapkannya.


"Yey!"

__ADS_1


dia melompat kegirangan karena permintaannya diterima.


"Huh..."


Zena mendesah seperti telah menyerah dengan ucapan Meliana dan segera menerimanya.


"Kalau begitu, namamu sekarang Meli. Dan kami berdua akan memanggilmu dengan Meli, oke?"


"Hm."


Dia menganggukkan kepalanya dengan senang.


"Ah... Aku mengantuk.. setidaknya aku akan melanjutkan perjalanan hingga menemukan tempat aman."


"Uhm... Kemana kita akan pergi?"


"Entahlah, Tapi sepertinya harus sedikit lebih jauh dari sini."


Sambil mengucapkannya, aku menggandeng tangan Meli dan Zena dengan lembut lalu berjalan menuju hutan yang lebat.


"Hutan yang lebat.."


Meli bergumam pada dirinya sendiri dan melihat sekitarnya.


"Apakah pertama kalinya kamu ke hutan?"


"Ya! Ayah dan ibu hanyalah seorang warga, jadi mereka tidak pernah ke hutan."


Zena dengan lembut menatapnya dengan penuh kehangatan. Sepertinya dia lelah dengan kejadian seharian ini. Matahari sudah mulai terbit menyinari hutan. Malam berganti pagi beberapa burung berkicau tepat sebelum sinar menyentuh tanah.


"Papa... Mel-?"


Aku menutup mulutnya yang hendak berbicara. Dia dengan heran menatapku.


"Zena, berjaga jagalah."


"baiklah."


Aku berbisik kepada Zena untuk bersiap menebas. 3 orang bandit yang sedang bersiap kapan saja menyerbu kereta yang lewat dengan memanfaatkan kericuhan yang terjadi di kota Yuma.


"Hey, bos, ini sangat menguntungkan dapat sebanyak ini."


Ucap salah satu dari mereka sambil menghitung beberapa koin emas. Badannya berisi dan tidak terlalu kurus.


"Itu tidak masalah, mereka sedang ribut saat ini, dan kita memanfaatkan keributan ini untuk mengambil uang, apalagi jika mereka adalah pedagang budak."


Dia membalasnya sambil meminum sebuah bir di pagi hari. Badannya gemuk...


"Heh! Seperti yang diharapkan dari bos!"


Salah satu pencuri dengan tubuh ramping mengucapkannya sambil menumpuk koin.


"Aku akan menyerangnya langsung."


Zena membisikkannya. Tetapi sayangnya mereka bisa mendengar suara sekecil itu jadi mereka bereaksi.


"Siapa di sana!"


Sang tubuh kurus mengucapkannya.


"Hyat!"


Zena muncul dari balik semak semak dan segera menusukkan lance nya kepada salah satu daru mereka.


*ctank!!


"Kuh! Serangan tiba-tiba ya...? Oh lihat, ada apa dengan bajumu..? Apakah kamu sudah siap untuk semua ini?"


"Tcih!'


Zena mendecakkan lidahnya lalu kembali mundur untuk menjaga jarak.


"Meli, kamu tetap disini, aku akan bersama mama melawan mereka."

__ADS_1


Dia hanya mengangguk dan terdiam.


*Slash!!


Aku berhasil menebas tangan salah satu dari mereka.


"Kuh! Sial! Ada dua!"


Dia dengan segera mengambil jarak antara aku dengan dia.


"Ada apa dengan mata kirimu? Huh? Sakit? Ahahaha. Sepertinya akan lebih baik memperlihatkannya langsung kepadanya..."


Sang gemuk menjilat pisau kecilnya dengan menjijikkan.


"Ide bagus bos!"


"Ayo percepat prosesnya...."


Mereka tertawa jahat saat memikirkan hal-hal tidak senonoh di pikirannya.


*Swoosh...


Suara angin menyamarkan gerakan ku.


"Kalian lengah."


Dengan nada dingin aku mengucapkannya. Seketika ujung pedang sudah berada di depan leher sang gemuk. Dia segera mencucurkan keringat dingin dan mulai panik memandangi sekitarnya. Zena dengan cepat juga mengancam salah satu dari mereka, si kurus.


"Hi!?"


Si pencuri yang terakhir hanya ketakutan dan ingin berlari. Aku dengan cepat memenggal si badan gemuk yang mereka panggil 'bos' lalu menebas pencuri yang berusaha lari tersebut. Zena dengan segera menusuk perutnya dan mengeluarkan isi perutnya.


Kami lalu mengambil jarahan mereka dan menyimpannya ke tas milikku yang dibawa oleh Zena. Meli kemudian segera berlari menuju aku dan Zena lalu memeluk kami berdua.


"Papa, kenapa papa membunuhnya?"


"Karena mereka orang jahat, tapi sebaiknya jangan dilakukan kalau tidak terjadi keributan di kota, oke?"


"Maksud papa itu, Jika kita sudah tidak bisa bertindak maka bisa kita artikan bunuh saja mereka atau jual mereka sebagai budak kriminal, tapi jika itu dalam keadaan tertentu, oke?"


"hum."


Sambil mengangguk dia menjawabnya dengan setuju. Kami akhirnya berjalan kembali dan menemukan sebuah goa. Sebelum sampai di dalamnya, Meli sempat berkata kalau dia mengantuk, jadi aku menggendongnya di pundak ku.


"Ah.. ada tempat berteduh.."


Kami berdua berjalan menuju ke dalam goa sambil memastikan tidak ada hewan atau monster berbahaya yang menghuni goa itu. Goa itu tampak kosong dan buntu, tidak terlalu dalam, dan tidak terlalu lembab. Jadi kami memutuskan untuk bermalam di sana.


Hari sudah mulai siang, Zena mengeluarkan beberapa kain yang aku bawa di dalam tas sihir ku lalu meletakkannya di dalam goa.


"Oke, sudah siap."


Sambil mengucapkannya, dia menaruh beberapa kain untuk sebuah bantal. Lalu aku menaruh Meli yang tertidur ke alas kain itu dan memberinya selimut.


"akh..."


Aku hampir kehilangan keseimbangan ku karena tubuhku yang sangat lelah. Setelah menaruhnya aku segera duduk tidak jauh dari Meli. Zena juga mendekat dan duduk di sebelahku.


"Apakah kamu baik-baik saja?"


"Ya.. Hanya sedikit kelelahan.."


"Maaf ya.."


"Tidak masalah.."


Sambil mengucapkannya dia berdiri dan berlutut di hadapanku.


"Aku akan membersihkan luka pada matamu itu."


"Baiklah, tapi hati-hati ya.. Sakit sekali.."


"Kalau begitu permisi.."

__ADS_1


Dia dengan tenang membuka kain sobekan yang terikat untuk menutup mataku. Lalu dengan baik membuat wadah dari tanah dan mengisinya dengan air. Mengambil handuk lalu membasahi kain itu dengan air dan mengusapkannya pada sisa darah yang sudah mengering. Sekilas seperti seorang pasangan yang saling menjaga...?


Continue...


__ADS_2