![Re [Life] : Incarnation](https://asset.asean.biz.id/re--life----incarnation.webp)
"Kita akan segera masuk ke hutan lewat samping."
Titik hitam untuk warga, titik biru untuk pasukan kerajaan, titik merah untuk makhluk iblis, titik hijau adalah aku, Zena, dan Meli. Pohon hijau adalah tempat kami beristirahat.
Tanda panah adalah gerakan yang akan kami lakukan. Penjelasannya adalah Musuh dari belakang menyerang, dan kami akan menuju ke dalam hutan sementara pasukan kerajaan bertahan.
Setidaknya begitulah rencana milik perempuan prajurit kota.
"Anak ini sangat imut ya... Aku malah ingin punya anak sepertinya.."
Ucapnya sambil mengelus kepala Meli yang sedang mengamati peta di meja itu.
"Benar, kan? Anak ini memang imut seperti biasanya..."
Zena juga ikut tergoda oleh ucapan perempuan itu lalu ikut mengelus kepalanya. Memanjakan anak ya? ucapku dalam hati.
"Ah, lalu jika pasukan tetap mengejar apa yang harus kita lakukan?"
"Huwa.... Eh? Ekhem! Jika mereka tetap mengejar kita akan terus berlari hingga ke dekat sebuah kota besar."
"Eh...? Yang benar saja..."
"Apakah akan melelahkan ya...?"
"Semoga mereka tidak mengejar sih.."
Para warga mengeluh mendengar usulan itu. Yah, aku tidak bisa memberi usulan. Apalagi teknik bertarungku terlalu gegabah...
"Kalau begitu serahkan kepadaku!"
Suara itu seperti seseorang yang aku kenal... Kalau tidak salah.
"Eh!?"
"Sejak kapan!?"
"Wah!! Musuh!?"
Beberapa warga terkejut dan mengiranya musuh.
"Ugeh!? Aku bukan musuh! Aku utusan kerajaan tahu! Hmph!"
Sambil menyilangkan tangannya, dia menggembungkan pipinya.
"Heh...? Nina, kah...?"
Mendengar ucapan ju dia menoleh dan melihat siapa yang berbicara.
"Hoh! Luke! Seperti biasanya, kamu selalu terlibat masalah ya...?"
Dia kemudian memandangku dengan tatapan merendahkan.
"Hoi! Tidak sopan! Lagipula, siapa yang membawa masalah, huh!? Aku hanyalah terseret kamu tahu!? Hanyalah terseret!"
Ucapku membantah ucapannya dengan marah.
"Sudah sudah, tenanglah Luke. Aku tidak punya urusan denganmu."
Dia kemudian maju kearah perempuan prajurit kota.
"Aku dan guruku akan kesini bersama temannya, sampai saat itu, larilah dari medan pertempuran. Mungkin agak lama tapi... Yah, siapa tahu kalian masih selamat?"
"Baiklah, kami akan menunggu saat itu dan terus berlari."
Ucap sang perempuan. Dia mungkin tertarik tetapi bagiku itu merepotkan.
"Seperti biasanya ya...? Merepotkan..."
Ucapku sambil mendesah kan nafasku.
__ADS_1
"Huh!? Apa katamu!? Merepotkan!? Itu saran dari guruku!? Kamu mau bertarung denganku!? Huh!?"
Dia kemudian marah karena ucapanku.
"Huh...? Gurumu? Ah... Maafkan aku... Bercanda saja..."
"Hah!? mencari masalah!?"
"Berisik..."
"Huh!? Apaa!??"
Dia telah naik darah...
"Sudah sudah, aku paham tapi Luke memang begitu jadi biarlah."
Zena membelaku?
"Jika kekasihnya yang bilang maka aku akan memaafkannya. Hmph!"
Dia kembali menggembungkan pipinya karena marah.
"Ano... Kalian berdua, kenapa kalian bisa akur..?"
Sang perempuan menyela ketika kami bertiga sedang bertengkar. Yah, setidaknya Meli tidak mendengarnya dan asik melihat peta.
"Hm? Ah, aku Luke, dia kekasihku Zena. Anak itu Putri kami, Meli."
Sambil menunjuk Zena dan Meli.
"Lalu dia teman masa kecilku Nina, seorang yang menjengkelkan..."
Lanjutku sambil menunjuk Nina. Dia kemudian menggembungkan pipinya kembali.
"Benar! Dia Luke, teman masa kecilku yang selalu saja terlibat hal merepotkan dan tidak ingin terlibat hal tersebut tetapi sekarang malah terlibat."
"Terlalu banyak!"
"Huh!?"
"Kau mengatakannya terlalu berlebihan!"
"Berisik!"
Mendengar jawabannya aku mendesah kesal lalu menyerah.
"Haha, kalian sangat akur ya...?"
""Darimana akurnya?""
Ucapku bersamaan dengan ucapan Nina.
""Huh!?""
Kembali bersama....
"Ngomong-ngomong, namaku Yuni. Salam kenal."
Dia kemudian menyela obrolan kami.
"Hm...? Anda adalah pasukan kota yang tersisa bukan?"
Zena bertanya tentang pekerjaannya.
"Eh? Yah... Aku mantan prajurit, tetapi sekarang aku hanyalah perempuan biasa."
Ucapnya tersenyum.
Dia telah menjadi sedikit bahagia setelah mengatakannya. Dan seketika itu juga kami berhenti bertengkar dan saling memandangi.
"Ngomong ngomong, kita akan bersiap melarikan diri bukan, ayo cepat."
__ADS_1
Sang prajurit Yuni, tidak, mungkin Yuni saja lebih baik. Yuni segera mengumpulkan seluruh barangnya. Para warga juga sudah bersiap. Yah, aku sih sudah bersiap...
"Kalau begitu, ayo lanjutkan..."
Dia dengan bersemangat memimpin seluruh warga. Sementara para makhluk iblis yang masih berada sekitar 7 km di belakang terus mengejar.
"Oke, aku akan memimpin, kalian semua ikuti aku!"
""Baik!!""
Ucap seluruh warga bersorak. Didepan kami seluruh pasukan kerajaan sedang menahan makhluk iblis dari depan.
...****************...
Beberapa hari kami berjalan, pasukan iblis masih saja mengejar. Kami hanya berlari sambil mengimbangi kecepatan kami.
"Huah... Kapan bantuan akan datang..."
Beberapa warga mengeluh karena kelelahan.
"Entahlah, mungkinkah kita harus menunggu lebih lama lagi?"
"Tidak mungkin..."
Warga yang lainnya ikut membalas tetapi Yuni tetap bersikeras meyakinkan mereka.
"Mereka akan tiba tidak lama lagi, tahanlah sebentar lagi!"
"Oh? Kalian masih bertahan ya..."
Seseorang berbicara dari atas ranting pohon dan membuat seluruh rombongan berhenti karena terkejut. Suara itu!?
"Lagi-lagi Nina, kah..?"
Ucapku mendesahkan nafasku sedikit kesal.
"Humph! Memangnya kenapa!? Mwehh!!"
Dia kemudian menjulurkan lidahnya seperti seorang anak yang mengejek.
"Ekhem, kalian sudah berjuang, mulai dari sekarang istirahatlah. Kami akan melawan mereka."
Nina kemudian melanjutkan ucapannya seperti tidak terjadi apa-apa.
"Wah... Bantuan tiba..."
"Akhirnya kita dapat beristirahat..."
Beberapa ucapan warga terdengar. Mereka saling berkata satu sama lain. Sementara Zena tampak senang dengan suasana itu. Meli tertidur di punggungku dengan pulas.
"Kalau begitu, permisi."
Dengan cepat dia menghilang setelah mengucapkannya. Sepertinya Nina, Yu, dan Sera sudah sampai ya?
Para warga beberapa memuji Nina tetapi sebagian adalah terkejut dengan kecepatannya. "Murid seorang mata-mata memang hebat." Ucapku dalam hati.
"Luke, apakah mereka akan mengalahkan mereka?"
"Hm? Tentu saja, aku sangat tahu kekuatan tidak normal miliknya pasti akan menghanguskan mereka."
Ucapku sambil menyeringai.
Sebenarnya Nina adalah seorang reinkarnasi. Sama sepertiku? Aku tidak paham "apakah aku reinkarnasi, ataukah dipindahkan." Pertanyaan itu terus muncul dalam benakku dan terus membuatku pusing hingga saat ini. Tetapi kini aku tidak memikirkannya.
Kalian tahu? Orang reinkarnasi biasanya memiliki kualitas sihir yang abnormal, ketahanan yang abnormal, pokoknya semuanya abnormal. Walaupun tidak bagiku sih... Aku seperti hanya terlahir kembali secara normal. Mungkin reinkarnasiku adalah reinkarnasi normal?
Kata Nina di dunianya sebelumnya dia adalah seorang murid SMA. Dia meninggal karena kecelakaan. Lalu saat dia membuka matanya, dia seperti bertemu dengan seseorang. Aku tidak tahu siapa dia, Nina bahkan juga tidak tahu, apakah dia Tuhan? Ataukah seorang dewa? Cukup banyak pertanyaan untuk itu. Bahkan aku yang mendengarnya cukup bingung.
Dia diberi 2 pilihan. Hidup kembali sebagai sosok manusia, atau tetap di tempat ini sama seperti api terbang itu. Aku tidak tahu apa itu api terbang. Yang jelas tampak seperti api yang melayang berwarna biru. "Apa itu jiwa seseorang?"
Aku tidak mengerti... Yang lebih penting ketika dia memilih pilihan pertama, dia kemudian diberikan sebuah kekuatan dan kekuatan itu sangat besar. Dia berkata sebelum mengirimnya, "Gunakan kekuatan itu untuk yang benar." Lalu kemudian dia langsung menjadi bayi saat membuka matanya.
__ADS_1
Continue...