![Re [Life] : Incarnation](https://asset.asean.biz.id/re--life----incarnation.webp)
Aku terus berlari hingga kemudian aku tertabrak. Kemudian aku menutup mataku sebentar. Aku kira aku sudah mati? pikirku sambil melihat tubuhku yang masih utuh. Mungkinkah ini adalah dunia setelah kematian?
"Selamat datang, anda telah mati dan kami akan memberikan 2 pilihan."
Seseorang berbicara pada ruang gelap itu dan menimbulkan gema. Disekitarnya aku melihat seperti api yang mengambang tetapi berwarna biru.
Suara? Siapa? Kenapa dia bisa menggemakan suaranya? Sambil ketakutan aku sedikit mundur.
"Apakah kamu akan tetap disini? Ataukah kamu ingin bereinkarnasi?"
Dia bertanya dengan suara yang menggema di sekitarku. ruangan gelap menambah kesan seram kepada orang itu. Aku tidak yakin... Tapi apakah aku bisa bereinkarnasi?
Aku berpikir sejenak memikirkan kata-kata misterius tersebut.
"Baiklah! Aku ingin bereinkarnasi!"
Ucapku dengan kencang dengan membulatkan tekad ku.
"Baiklah, keinginanmu itu akan aku penuhi."
*Clup....
Suara tetesan air terdengar dengan keras. Seketika aku melihat tubuhku menghilang menjadi sinar dan lalu pandanganku memutih. Sebelum sempat menghilang dia berkata.
"Gunakan kekuatanmu dengan baik."
Lalu aku pun kehilangan suara itu. Ketika aku membuka mataku, aku terlahir kembali sebagai bayi. Tentu saja perempuan bukan?
Di dunia ini aku diberi nama Nina. Di sebuah desa kecil yang tidak terlalu miskin. Ketika aku berusia 5 tahun, aku dikenalkan oleh orang tuaku kepada seorang anak yang lebih muda 1 tahun dariku. Namanya Luke, dia anak yang tidak terlalu riang, dia hanya akan riang ketika dia sedang melakukan sesuatu. Wajahnya selalu saja tampak bosan. Mungkin dia malu? pikirku tanpa memikirkan apapun.
"Hey... Apakah kamu malu?"
Ucapku saat tengah bermain bersamanya. Dia hanya menjawabnya dengan singkat.
"Tidak."
"Oh, itu bagus, ayo bermain bersama."
Aku kemudian menariknya lalu mengajaknya bermain. Uwah.. Dia memang aneh ya...
...****************...
Makhluk iblis ini bukan tandingan ku dan master! Akan aku buktikan!
Aku memanggil guruku dengan sebutan master. Memang lebih baik menggunakannya, lagipula, Sera sekarang ini tengah bersemangat apa yang terjadi?
"Hyatt!!"
Aku melempar bom asap ke rombongan makhluk iblis itu dan kemudian Sera masuk ke asap itu dengan sebuah pedang besar.
*Btommm!!
Tanah berhamburan akibat benturan pedang besar itu. Sungguh kekuatan yang besar...
Aku kemudian segera berlari secepat bayangan sambil menusukkan pisau kecil ke leher mereka masing masing. Sedangkan master sekarang ini sedang mengawasi aku.
Apakah ini termasuk dalam ujian!? Arghhh!! Aku harus melakukan yang terbaik! Lagipula ini tidak sesulit yang aku pikirkan sih...
*Btomm!! *Btomm!! *Cring!
Suara ledakan dan gesekan pedang terdengar jelas. Amukan sera sangat menakutkan...
Ketika asap menghilang, aku melihatnya telah selesai. Cukup cepat untuk seorang kesatria. Aku juga selesai dengan lawanku, lalu mendekat kearah master yang sedang duduk di bawah pohon, sesekali dia memejamkan matanya.
"Master, Kali ini apa?"
Ucapku sambil menyilangkan tanganku.
__ADS_1
"Hm?"
Dia melirik dengan satu mata terbuka dan satunya lagi tertutup.
"Oh? Selesai? Selanjutnya selamatkan pasukan kerajaan. Itu sangat penting."
"Baik!"
Setelah mengucapkannya aku segera melompat seperti bayangan dan bergabung dengan pertempuran lagi. Sera tampak lebih bersemangat. Lagipula, bukankah senyuman itu sangat menakutkan!?
Tanpa disadari dia telah membuat senyum yang menakutkan dengan mengayunkan pedang besarnya ke tanah.
*Btom!!! *Bdom!! *Slash!
Beberapa serangan menjadi background suara. Serangan berskala tinggi milik Sera membuat bekas lubang pada tanah. Dia sangat senang bahkan dengan membantai beberapa makhluk iblis. Sera sangat seram!!
"Oh! Bantuan dari kerajaan, ya?"
Salah satu prajurit mengucapkannya. Apakah dia kaptennya?
"Ya, kami bantuan!"
Teriak Sera yang masih saja mengayunkan pedang besarnya ke arah makhluk iblis yang datang.
"Oke, semuanya! Bantuan telah tiba! ini kemenangan kita!!"
"Uwohh!!!"
Para prajurit berteriak dengan semangat. Uwah!? Semangat mereka kembali!?
Mereka ini memang sesuatu ya...?
...****************...
"Apa katamu!? Mereka berhasil memukul mundur pasukan kita!?"
"Ka-kami telah berusaha melawan tapi mereka terlalu kuat!"
Sang bawahan mengatakannya dengan frustasi.
"Tcih! Tidak berguna! Biarkan aku maju sendirian!"
Karena ledakan amarah yang tidak terkendali, sang komandan makhluk iblis itu kemudian berdiri setelah mengucapkannya.
"Ta-tapi anda–"
Sebelum sempat berbicara, sang komandan memotong.
"Berisik! Akan aku urus! Kalian diamlah!"
Dia kemudian segera berjalan sambil mengambil pedangnya di sebuah meja.
...****************...
Sementara menunggu Nina dan yang lain kembali, aku sedikit melatih tubuhku. Di bawah pohon yang rindang aku melatih gerak pedangku. Menggunakan 2 pedang memang sulit ya..?
"Uwah... Papa keren..."
Ucap Meli yang sedang menonton latihanku. Dia dengan cermat mengamati gerakanku.
Sebelumnya kami sudah berpisah dari kerumunan warga ke tempat yang agak jauh dari mereka. Sekarang ini Meli, Zena, dan Yuni sedang melihat latihanku.
"Gerakan yang indah... dan pedang mithril itu..."
Dia dengan fokus melihatku dan memujiku. Sedangkan Zena sedang membuka sebuah keranjang yang aku keluarkan dari Storageku.
Sebuah roti sandwich keluar dari keranjang itu. Dia memberikannya kepada Meli dan Yuni yang tengah melihatku.
__ADS_1
"Ini, silahkan dimakan."
ucapnya sambil tersenyum.
"Terima kasih..."
Ucapnya malu-malu lalu mengambilnya dari tangan Zena.
"Uhm! Masakan mama yang terbaik!"
Mulutnya telah kotor dengan saus tomat yang ada pada sandwich itu.
"Ya ampun, mulutmu jadi kotor semua loh."
Ucap Zena menegur. Sesekali dia mengelap mulut Meli yang kotor sambil tersenyum menggunakan sapu tangan.
Sementara aku berfokus pada latihanku, aku mendengar percakapan mereka seperti ini.
"Hey, apakah Luke adalah benar-benar kekasihmu?"
"Ya benar, ada apa?"
Sesekali Yuni melihatku berlatih sambil memakan sandwichnya. Zena dengan santai memakan sandwichnya dan terkadang juga membersihkan mulut Meli.
"Lalu, apakah Meli benar-benar putrimu?"
Ada apa dengannya? Walaupun Meli adalah anak angkat tapi aku merasa dia seperti anakku sendiri.
"Dia benar-benar putriku loh. Namanya Meliana, kami memanggilnya Meli."
Ucapnya sambil mengelap kembali sandwich yang berceceran di mulut Meli.
"Heh...? Namanya Meliana, kah? Nama yang bagus ya...?"
Ucapnya tersenyum lalu mengelus kepalanya.
"Uhm!"
Meli hanya mengangguk ketika kepalanya dielus dengan lembut oleh Yuni.
"Sebenarnya, aku juga sudah menikah, tetapi keluargaku dibunuh oleh seorang assassin. Anakku satu-satunya dan suamiku telah dibunuh... Karena kejadian itu aku akhirnya bergabung dengan unit prajurit..."
Sambil memandang rumput, wajahnya berubah menjadi sedih. Rambut hijaunya teruntai karena angin bersamaan dengan rambut biru Zena. Sebelumnya aku juga telah merapalkan sihir [Mirage] agar identitasnya tidak diketahui.
"Kamu memiliki masa lalu yang sama sepertiku ya.."
Ucap Zena tersenyum tulus. Angin bertiup hingga membuat rambut mereka bertiga teruntai.
"Apa maksudmu?"
"Sebenarnya ya.. Ayah terbunuh saat berusaha melindungi ibuku dan aku. Hingga suatu saat ibuku jatuh sakit dan meninggal. Aku hidup sendirian saat masih berusia 6 tahun. Aku menjadi petualang hingga umurku 15 tahun, di saat itulah aku bertemu dengannya."
Dia kemudian kembali mengelap mulut Meli.
"Haha, mungkin masa lalu mu itu sangat kejam."
Ucap Yuni yang sedikit terkejut dengan masa lalunya. Yah, aku juga terkejut sih. Dia tidak pernah menceritakan masa lalunya kepadaku.
"Oi! Luke!! Istirahatlah dahulu!"
Ucap Zena yang selesai mengelap mulut Meli.
"Baik! Aku datang!"
Aku kemudian menyarungkan pedangku kembali dan berjalan menuju tempat yang lainnya duduk.
Continue...
__ADS_1