Re [Life] : Incarnation

Re [Life] : Incarnation
Masa Setelah Peperangan dan Rumah Baru


__ADS_3

"Apa! Kerajaan sampai mengirim pasukan juga!?"


"Itu menandakan pentingnya peran rakyat dalam kerajaan ini bukan?"


"..."


Sementara mereka terdiam, Aku pergi berjalan menuju peperangan yang tepat berada di depan mataku.


...****************...


"Hyatt!!"


*Slash!


Aku menebas salah satu prajurit yang berjaga di sana. Kali ini aku telah memasuki daerah halaman mansion bangsawan itu. Sangat ketat, bahkan aku harus menculik salah satu prajurit.


Aku dengan segera melewati gerbang utama. Tetapi aku berhenti ketika ingin masuk ke dalam Rumahnya. Terlihat tepat di depan pintu, dua penjaga yang sudah menatapku dengan rendah.


"Hou, serangga kecil datang untuk membunuh tuan kita."


"Hahaha, lihat, dia hanya berbekal satu pedang. Apalagi luka pada mata kirinya, sepertinya akan mudah."


Kedua prajurit tadi berbicara sambil memberikan tatapan merendahkan.


"Hei, para prajurit, kenapa kamu tidak langsung menerobos ku?"


"Hah!? Jadi kamu ingin mati? Kalau begitu, aku akan menurutimu."


"Ya, Aku akan meladeni mu."


Prajurit itu, berkata dengan angkuh.


"Satu saja cukup, biar aku saja. Tanganku ini sudah tidak tahan lagi melihat serangga kotor menginjakkan kaki di mansion tempat tuan kita berada."


Salah satu prajurit mengucapkannya, lalu dia segera mendekat dengan menggunakan tombak. Saat tengah bersiap, seorang dengan jubah hitam membuatnya pingsan dengan sekali serang. Prajurit lainnya terkejut. Dia kemudian berbalik menghadapku.


"Sisanya, serahkan kepada kami."


Dia berkata begitu lalu kembali berbalik menghadap ke arah prajurit yang waspada itu. Kemudian, seorang perempuan dengan menggunakan jubah hitam juga turun di dekatnya.


"Hah... Membuat terkejut saja..."


Aku yang mengetahui identitas mereka, dengan menghela nafas menjatuhkan diriku. Mereka berdua dengan sigap, membuat pingsan penjaga itu, dan segera masuk dengan menyusup layaknya ninja profesional.


...****************...


Beberapa hari setelah peperangan itu, bangsawan yang memulai sebuah pemberontakan kepada rakyat telah ditenangkan. Sekarang ini mereka sedang akan di eksekusi didepan umum. Banyak orang menyaksikannya, Beberapa orang merasa jijik melihat wajahnya. Wajah bangsawan itu tampak ketakutan dan akhirnya eksekusi selesai.


"...."


Sekarang ini, kami bertiga berada di dekat alun-alun kota untuk menunggu eksekusi selesai. Walaupun, Tidak terlihat, juga karena aku membawa seorang anak kecil, jadi aku hanya hadir dan tidak melihat situasinya.


"Papa, ini sangat ramai."


Sambil mengucapkannya, Meli memakan manisan yang barusan aku beli di dekat alun-alun itu.


"Ya, begitulah."


"Papa, rumah papa sekarang di mana?"

__ADS_1


Meli mengucapkannya lalu berhenti memakan manisan itu sambil melihat ke arahku.


"Benar juga ya..."


Aku mendesah, lalu sedikit berpikir.


Aku akan tinggal dimana? Dengan anak ini, berarti Zena juga akan tinggal... Lalu bagaimana dengan perjalanan ku...


"Kalau begitu, kenapa tidak mampir di rumahku saja?"


Zena mengucapkannya tanpa berpikir. Tampaknya dia memiliki rumah di kota ini.


"Hm? Kalau begitu, aku tidak masalah."


"Rumah mama?"


Meli menjawabnya dengan penasaran.


"Ya, Rumah mama loh..."


Dan akhirnya, kami meninggalkan alun-alun yang tampak ramai dengan warga. Walaupun eksekusi selesai, tampaknya mereka sedang memilih kandidat yang akan menggantikan posisi bangsawan itu.


...****************...


Aku menggendong Meli di pundak ku, dan menggandeng tangan Zena. Meli memegang kepalaku dengan lembut agar tidak terjatuh. Walaupun jalanan sepi, beberapa pedagang masih tetap tinggal untuk berjualan.


"Di sini sangat sepi ya.."


Zena mengucapkannya. Pipinya tampak sedikit merah, dan dia juga sudah melupakan kejadian itu. Sekarang ini dia tampak bahagia tanpa beban yang dipikirkannya.


"Ya... Aku sangat suka suasana ini..."


"Wah... Papa suka suasana yang sepi ya..."


"Begitu lah.."


Sambil mengucapkannya, aku berjalan sambil menikmati suasana damai dengan sedikit angin.


"Jadi dimana rumah mu?"


Sambil berkata begitu, aku sedikit menoleh ke arah Zena.


"Ah, itu Sedikit lebih jauh dari sini... Tapi aku yakin pemandangannya akan bagus."


"Hm.. Aku jadi penasaran dengan rumah mu..."


"Meli juga penasaran!"


"Ahaha, kalau begitu, tahan hingga sampai, ok?"


"Hm!"


Meli kemudian mengangguk dengan senang di atas pundak ku. Dia juga tampak senang dan tidak memikirkan kematian orang tua kandungnya.


Tidak terasa kami berbicara, kami berada tepat di depan gerbang kota. Para prajurit kerajaan masih berjaga di dekat gerbang. Mereka cukup waspada.


"Yo!"


Seorang ninja perempuan terjun dari ketinggian dan mendarat tepat di depanku.

__ADS_1


"Oh, Nina."


Aku menjawabnya dengan dingin.


"Eh... Aku kira kamu bakalan kaget loh... Jangan jawab dengan dingin dong..."


"Aku sudah terbiasa dengan kejutanmu sekarang ini. Dan juga, aku membawa anak kecil, bisakah kamu tidak datang tiba-tiba?"


"Ahaha... Maaf, maaf. Aku tidak tahu."


Walaupun begitu, Meli juga tampak terbiasa dengan kejutannya.


"Eh... Jadi anak ini anak mu ya...?"


"Hm? Begitulah?"


"Jadi begitu, kamu membuatnya sebelum pernikahan ya..."


"!? Bukan! Jangan mengatakan seenaknya!"


Aku mengucapkannya dengan menaikkan emosiku. Zena sedikit tersipu karena ucapan Nina yang bodoh ini.


"Oh? Jadi dia calon istrimu?"


"Ah.. Dia Zena."


"Oh, senang bertemu denganmu, aku Nina, teman masa kecil Luke."


Dia mengacungkan tangannya seperti orang yang ingin bersalaman. Zena menanggapinya dengan menghilangkan malunya.


"Senang bertemu denganmu, Aku pacar Luke, Zena."


"Hm... begitu.."


Matanya melirik ke arahku dengan tatapan mengejek.


"Apa-apaan dengan tatapan itu."


Aku mengucapkannya dengan memalingkan wajahku ke sisi lain.


"Tidak... Aku hanya sedikit penasaran..."


Dia kemudian melepaskan tangannya lalu kemudian dia melanjutkan kata-katanya.


"Jadi? Kalian akan kemana?"


"Rumah mama!"


Meli menjawabnya dengan spontan.


"Begitu kah..."


Dia menjawabnya dengan sedikit berpikir.


Rumah Zena berada di belakang kota ini. Tepatnya di dekat jurang. Tepat di belakang kita ini adalah Jurang. Hm... Aku jurang tahu juga, kenapa dia memiliki rumah di sana ya..


Dan akhirnya, Nina memperbolehkan kami ke sana dan dia segera berpamitan kepada kami untuk kembali bertugas.


Continue...

__ADS_1


__ADS_2