![Re [Life] : Incarnation](https://asset.asean.biz.id/re--life----incarnation.webp)
Sementara kami berdua masuk, Ibu dan Meli semakin jauh. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan tetapi, mereka cepat akrab ya...
"Kalau begitu, Ayo masuk."
Ucapku sambil menggandeng tangan Zena.
"Ya."
Dia menjawabnya dengan singkat. Ekspresinya bahagia secara alami. Kami memasuki rumah tersebut dengan bergandengan tangan lalu menuju kamarku untuk menaruh barang-barang bawaan.
"Wah.. Sama sekali tidak berubah!"
Ucapku saat melihat isi kamarku. Di rumahku ini hanya terdapat 2 kamar jadi mungkin aku Meli dan Zena akan tidur sekamar.
"Luas nya..."
Ucap Zena yang melihat kamarku. Sebenarnya ini tidaklah luas, tetapi cukup untuk 3 orang. Hanya tempat tidur yang cukup untuk 2 orang jadi, kemungkinan hanya Meli yang tidur di tempat tidur itu.
"Ini tidaklah luas, hanya terlihat lebar saja."
Benar, ruangan ini memang terlihat luas, karena hanya berisi beberapa barang.
"Uhm..."
Dia kemudian menata tempat tidurku yang sedikit berantakan sementara aku menaruh barang barang kami selama perjalanan.
"Aku pulang!"
Terdengar dari jauh suara itu keluar dari dekat pintu. Suara yang familiar itu kemudian masuk kedalam rumah. Benar itu ayah.
"Oh, ayah pulang."
Ucapku yang belum selesai menata barang.
"Hm.. Lucia tidak di rumah ya..."
Atau begitulah yang dia ucapkan. Dia hanya mencari istrinya ya... Padahal ada anaknya di dekat sini...
"Hm? Sangat jarang kamar Luke terbuka."
Sambil berkata begitu, dia berjalan mendekat dengan penasaran.
"Hm? Oh, Luke. Kamu sudah kembali ya."
Ucapnya dengan ramah. Seperti biasanya ya..
"Ya, aku telah kembali. Dan ini calon istriku Zena."
Atau seharusnya aku harus mengungkapkan identitas aslinya?
"Hm? Oh! Kamu sudah dewasa ya. Selamat ya!"
Yang kemudian dilanjutkan dengan tawanya.
"Mulai sekarang mohon jaga Luke, dia sedikit pemalas tapi, setidaknya dia itu tidak lemah."
Apa yang kamu katakan, ayah?
"Ya! Aku akan berusaha! Ayah."
Zena... Kenapa kamu menanggapinya dengan serius.. Dan lagi kamu menyebutnya ayah... Yah, biarkan saja.
Walaupun seorang ayah, dia juga merupakan guruku saat kecil. Dia mengajariku ilmu berpedang hingga aku berusia 10 tahun. Ketika usiaku menginjak 11 tahun dia membiarkan aku mempraktekkan ilmu berpedang nya sendirian. Sejak saat itu aku juga mempelajari gerakan dari game. Walaupun hanya beberapa yang aku ingat dari kehidupan sebelumnya.
Sebagai gantinya, aku tidak dapat menggunakan sihir serangan. Aku hanya dapat menggunakan sihir pendukung. Seperti penguat, mungkin heal tidak termasuk karena itu adalah tipe penyembuh, lalu Earth bullet, Prison, dan satu sihir lagi mapping.
"Ngomong-ngomong, ayah. Apakah ayah sudah dengar tentang kota Yuma yang hancur terkena serangan makhluk iblis?"
Ucapku mengalihkan topik.
"Hm? Ah, aku dengar kota Yuma hancur tanpa sisa. Para petualang rank A ke atas yang ditugaskan semuanya mati bukan?"
"Ya, tapi kenapa ayah tahu itu?"
Dia sangat tahu detailnya.
"Hm? Ah, aku mempunyai beberapa koneksi dengan assassin kerajaan."
Atau begitulah yang dia ucapkan.
"Hm... Begitu..."
Sambil melanjutkan kegiatanku aku mengucapkannya tanpa menoleh sedikitpun.
"Ngomong-ngomong, waktu itu ibumu menjadi sangat khawatir loh."
"Hm? Ah, aku masih D-rank jadi tidak perlu khawatir. Lagipula, Aku lebih rendah daripada Zena."
__ADS_1
Zena itu C-Rank dan aku D-Rank. Benar benar memalukan..
"Ah! Begitu kah! Yah, kalau begitu aku tidak perlu khawatir."
Apa maksudmu!! apa kamu tidak memiliki rasa malu kepada anakmu yang meminta perlindungan perempuan!?
Tenanglah... Ha....
Aku menarik nafasku dalam-dalam lalu menghembuskan nya.
"Ahaha, ayah dan Luke sangat akrab yah?"
Sambil sedikit bahagia dia mengucapkannya. Tanpa disadari dia telah duduk di tempat tidurku.
"Yah, walaupun kami ayah dan anak, hubungan kami juga guru dan murid. Jadi wajar saja haha."
Dia mengucapkannya bahkan tanpa ragu.
"Hei, Luke, Kamu tahu kemana Lucia pergi?"
"Hm? Kalau ibu sebentar lagi akan kembali, dia hanya mengajak putriku jalan-jalan sebentar."
Ucapku.
"Eh!? Putri! Aku mempunyai cucu..."
Dia menangis bahagia kemudian.
"...."
Kami berdua terdiam untuk sementara waktu dan saling memandang.
"Aku sangat bahagia... Ekhem, kalau begitu ayah akan kembali ke ruang tengah dan menunggu Lucia pulang menyambut cucuku..."
"..."
Kami berdua kembali terdiam dan saling memandang sementara ayah pergi menuju ruang tengah. Walaupun dia keras terhadapku dia lemah terhadap anakku, ya...? Bukan anak kandungku tapi...
"Aku kembali!! Papa!"
Meli dengan bersemangat masuk menuju ruang tengah.
"Uwah!!"
Dia terkejut melihat ayah berada di sana.
"Ka-Kakek!?"
Dia mengulangi ucapan Meli lalu memeluknya.
"Akhirnya aku mempunyai cucu!!"
Atau itu yang dia katakan. Air mata bahagia kembali mengucur dengan deras.
"Sayang, jangan begitu dengan cucumu sendiri loh. Nanti dia ketakutan."
"Ah!!"
Seketika dia mundur dan dengan terkejut melihat ekspresi Meli yang senang.
"Kakek seperti om-om!"
Sambil mengatakan apa yang ada dipikirannya dia kemudian mengajak ayah bersalaman. Dia menanggapinya dengan bahagia.
"Kalau begitu, nenek akan membuat makan malam, jadi tunggulah disini bersama yang lain."
Kemudian pergi ke dapur. Aku kemudian datang ke ruang tengah bersama Zena.
"Papa!"
Dia memelukku.
"Ada apa? Sepertinya kamu sangat senang ya?"
"Hum!"
Dia mengangguk dengan senang.
"Tadi Meli diberi banyak makanan!"
Dia menunjukkan beberapa permen kepadaku.
"Oh, imut, imut."
Sambil mengelus kepalanya dengan lembut. Setelah itu aku segera duduk di kursi untuk menunggu makanan matang. Tanpa disadari Zena juga ikut membantu ibu. Dia menyukai orang tuaku ya.. Sangat jarang untuknya bisa akrab selain denganku.
Melihat aku yang duduk dia mendekat ke arahku.
__ADS_1
"Papa, Aku ingin duduk."
Dia mendongak ke atas ke arahku.
"Hm?"
Aku kemudian mengangkatnya dan memberikannya pangkuan.
"Uwa... Imut..."
Ayah... Kamu lolicon atau bukan?
Meli yang melihat itu tersenyum dengan tulus.
"Luke, apa kamu tahu, sebenarnya impianku ini ingin memiliki anak perempuan yang imut..."
Apa-apaan yang dia katakan? Apa dia tidak bersyukur memiliki anak yang sudah dewasa ini?
"Tetapi, sepertinya keinginanku terkabul dengan melihat anakmu yang imut ini..."
Dia kemudian menjadi meleleh karena melihat Meli.
"Makan malam siap."
Ucap Ibu yang membawa makanan sementara Zena membawa piring.
Hari mulai malam dan gelap, kini kami ditemani lilin yang redup. Makan malam yang hayat membawa kehangatan tersendiri bagi kami.
Kami semua makan masakan malam itu, ah... sudah lama tidak merasakan masakan ibu. Setelah makan selesai, kami sedikit berbicara satu sama lain.
"Luke, nanti malam, aku akan tidur dnegan Meli, kamu berdua silahkan nikmati waktuku."
Ucap ayah dengan senang.
"Eh!? Tapi.."
"Tidak perlu malu loh, Luke. Lagipula kamu belum pernah hanya berduaan bukan, ketika ada Meli?"
Ibu dan ayah ada benarnya tapi.. Eh..?
Zena yang mendengar itu menjadi malu. Meli hanya bingung dengan situasinya, bagaimanapun dia seorang anak kecil.
"Kalau begitu, Meli, nanti tidur dengan kakek dan nenek, oke?"
"Ya!"
Dia dengan semangat mengatakannya.
Ugh... Malam ini aku tidur satu ranjang dengan Zena... Jantungku berdebar kencang...
.
.
.
.
Suasana gelap ditemani sinar bulan. Tepat disebelah ku Seorang perempuan Elf yang berbaring tepat di sebelahku. Sihir Mirage telah mencapai batasnya, dan besok aku harus menggunakannya kembali.
"Luke, apakah kamu sudah tidur?"
Dia yang berada di sebelahku membelakangi ku dengan punggungnya begitu pula denganku.
"Hm? Tidak, belum."
"Kalau boleh.... Aku..."
Dia mengatakannya dengan suara yang semakin mengecil.
"Ada apa?"
Ucapku yang kemudian berbalik. Sekarang ini dia hanya memakai baju tidur tanpa dalaman. Uh... Aku sedikit gugup.
"Aku ingin..."
Dia kemudian berbalik dengan pipinya yang menjadi sedikit merah. Lalu memejamkan matanya dan menaruh tangannya berada di atas tanganku.
"....Terus bersamamu....."
Lanjutnya yang kemudian tertidur. Ah...
"Aku juga ingin terus bersamamu...."
Sambil membelai rambut birunya dengan tangan kananku lalu mendekatkan kepalanya ke dadaku menjadi posisi memeluk tetapi dalam kondisi berbaring. Ah... suasana damai ini....
Continue....
__ADS_1