![Re [Life] : Incarnation](https://asset.asean.biz.id/re--life----incarnation.webp)
Tengah malam aku terbangun, karena rasanya ada yang menaiki, aku membuka mataku sedikit demi sedikit. Mataku begitu berat, tetapi tubuhku mulai terangsang. Badanku mulai panas, dan kemudian nafas seseorang terdengar dekat.
"...."
Aku melihat seorang wanita tengah duduk dengan telanjang. Dia terus memandangiku dengan dingin. Rambut merahnya pendek, mata merahnya nenyala membuat bulu kuduk berdiri. Kukunya panjang dan merah. Ada bekas darah di pipinya, giginya mempunyai taring yang tajam layaknya vampire.
Dia menjilat bibirnya dan mulai menunduk. Dia kemudian memperlihatkan gigi taringnya yang panjang. Tampak seram tetapi dia semakin dekat, setelah sangat dekat dia kemudian berbelok dan menancapkan serangannya pada bahu ku.
"!? Agh!"
Aku meringis kesakitan. Darah terus mengalir dari bahu ku. Ketika aku mendorongnya, tangannya mencengkram dengan kencang. Gawat... Kalau terus begini darahku bisa bisa habis...
"Kuh..."
Dengan sekuat tenaga aku mendorongnya dengan kakiku.
*Brugh!!
Aku segera duduk dan berdiri dengan sekuat tenaga aku berjalan menuju pedang hitam. Pedang itu berada di jangkauan paling dekat.
"Khaaaa!!"
Dia kembali berdiri sambil menunjukkan taringnya. Darah menetes dari ujung taringnya. Dia kembali mendekat dengan perlahan. Darah terus menetes dengan deras. Sial...!
Tepat di sebelahku terbaring Zena yang tengah tertidur pulas. Aku tidak bisa membangunkannya begitu saja.
"Sedikit.... Lagi....."
Aku meraih pedang itu menggunakan tangan kananku. Tangan kiri menahan pendarahan pada bahu kanan.
"Enyahlah!"
Aku kemudian berlari menuju arahnya. Dia dengan cepat menghindar.
"Khaaaa!!!"
Dia cepat.
"Tcih."
Aku tidak bisa bergerak dengan kondisi seperti ini. Merepotkan.. Bisa gawat kalau aku pingsan sekarang...
"Hyat!!"
*Slash!
Dia berhasil menghindar tetapi tangan kanannya terkena tebasan. Dia kemudian bereaksi dengan menutup lukanya menggunakan tangan kirinya yang masih utuh lalu berjalan kearah tangannya putus.
"Kikh!!"
Kesempatan! Agh...
Aku berjalan dengan perlahan sementara perempuan itu menyambung lengannya. Asap putih keluar dari lengan yang putus itu lalu seketika menyambung menjadi sedia kala tanpa bekas.
"Zena... Zena... Kumohon... Bangunlah..."
Gawat.. Kesadaranku mulai memudar...
"Zena... Ugh...!"
Perutku...
Kukunya yang tajam menusuk ke punggung hingga menembus ke perut.
"*Cough! *Cough! Agh..."
Darah keluar dari mulut seketika. Zena...
"Hng....?"
"Ze...na....."
Ah.. Tepat waktu...
"Luke!? Luke!"
Dia membelai kepalaku yang terbaring dekat paha nya.
"Ke... Lu...ke.... Luke..!"
Aku membuka mataku perlahan. Pandangan menjadi putih, Ah... Masih sempat, kah...?
"Maaf... Zena, aku...."
Agh, Tubuhku masih saja sakit...
"Jangan terlalu banyak bergerak... Aku khawatir...."
Dia kemudian menangis. Terasa lembut... Ah.. Jadi dia mengangkatku ke tempat tidur dan mengobati luka ku...
Aku kemudian mengangkat tanganku hendak meraih... Agh... Masih belum... Tahan...
Sebelum sempat terjatuh Zena menangkapnya. Dia meletakkannya ke dekat dagunya. Air matanya terus mengalir. Sementara itu, aku tidak dapat bergerak.
"Anak itu...?"
"Ah, Sekarang dia sudah kabur..."
Aku kemudian berusaha untuk duduk dan memeluk Zena dari tempat tidur itu.
__ADS_1
"Maaf ya.... Membuatmu khawatir... Aku juga tidak tahu siapa dia, tiba-tiba dia menyerang..."
"Aku tahu itu, tetapi kenapa tidak bangunkan aku..."
Ah, dia benar-benar khawatir...
"Maafkan aku.. Aku hanya tidak ingin mengganggu tidurmu."
"Tidak masalah, bahkan ketika aku sedang memasak, mintalah bantuanku. Aku tidak masalah dengan itu, hanya kamu lah bagiku yang paling terpenting."
"Kalau begitu sebagai permintaan maaf, bisakah kamu memejamkan matamu sebentar?"
"Aku tidak masalah."
Dia menurutinya dan memejamkan matanya. Aku mendekatinya dengan perlahan lalu menyentuhkan bibirku dengannya. Sebuah ciuman tulus sebagai permintaan maaf.
"Begini tidak masalah bukan?"
"Uhm..."
Dia mengangguk sambil mengelap air matanya.
"Agh..!"
Kepalaku!?
"Luke!"
Dia dengan segera memegangi badanku dengan cepat.
"Ah, tidak apa, hanya kekurangan darah akibat tadi..."
Perutku sembuh... Sihir penyembuh milik Zena? Tetapi untuk luka pada bahu tidak hilang, itu hanya tertutup perban.
"Apakah kamu kehabisan Mp?"
Aku bertanya kepadanya.
"Itu tidaklah penting, aku akan menjagamu, Kamu beristirahatlah."
Dia ini...
"Kalau begitu, bagaimana kalau aku tidur sambil memelukmu?"
"Eh.. Tapi aku tidak memakai..."
"Aku hanya memelukmu, aku janji tidak akan melakukan apapun."
Yah, aku hanya sedikit terangsang, mungkin?
"Baiklah, kalau begitu mohon kerjasamanya...."
Dia kemudian segera masuk kedalam tempat tidur dan membiarkan diriku memeluknya. Ah... Hangat....
Dan akhirnya aku terlelap.
"Luke... Aku mencintaimu..."
Aku mendengar suara dari belakang. Karena suara itu aku terbangun.
"Hng..?"
Tidak ada orang disekitarku selain Zena yang pakaiannya....terbuka!?
Tenang.... tenang.... tenang....
"Mfu..."
Aku melepaskan nafas yang aku ambil dalam-dalam. Untuk menenangkan diriku.
"Hm...?"
Aku melihat 2 patudara yang tidak begitu besar. Aku penasaran bagaimana rasanya memegangnya...
Tidak!!! Tidak!! Jangan!!
"Geh!?"
Aku menghentikan tanganku yang bergerak dengan sendirinya. Aku tidak bisa melakukannya sebelum mendapat ijin!
"Ugh...!"
Keringat dingin keluar. Siall!! Ada apa dengan tubuh ini!?
"Kukh..."
*punyun.
Geh!? Aku meyentuhnya!!!!
Eh? Rasanya, seperti kenyal dan... hm.... begitu...
"Hng...?"
Nah!!! Gawat!!!! Aku..
"A-ah... Pagi Zena..."
"Pagi Luke....??"
__ADS_1
Setelah membuka matanya, dia segera beralih duduk.
"Ah.. A-ano..."
"Hyaaaa!!!! Mesum!!"
*Plak!!
Sebuah pagi yang diawali dengan teriakan dan tamparan adalah yang terburuk....
Kami sedang berada di ruang makan. ayah dan ibu sedang menanyakan apa yang terjadi termasuk teriakan pagi tadi.
"Eh? Ah, tadi pagi itu... Kejadian tidak terduga...."
Aku sedikit melirik ke arah Zena yang masih menggembungkan pipinya.
Ah... Dia masih marah...
"Hm.. Lalu luka itu?"
"Hm... Semalam sepertinya ada vampire yang menyerangku. Tapi untunglah Zena menyembuhkan ku..."
"Begitu..."
Ayah hanya bergumam pada dirinya sendiri sambil memegangi dagunya.
"Lalu, bagaimana setelahnya? Apakah sesuatu terjadu? Seperti 'itu'? Mungkin?"
"Ah..."
Aku tidak menjawabnya karena malu, sedangkan Zena yang masih marah tetap menggembungkan pipinya tanpa mendengarkan pembicaraan kami.
"Ara, Zena masih marah ya. Kalau begitu ibu dan ayah akan bersiap."
Mereka berdua pergi meninggalkan kami berdua. Untuk Meli dia masih tertidur lelap di kamar orang tuaku. Sepertinya dia tidak terganggu dengan kejadian semalam. Entah darimana dia datang, tidak ada tanda-tanda seperti pintu yang terbuka atau rusak, bahkan jendela yang pecah pun tidak ada.
"Zena, tentang pagi tadi... itu murni kesalahan..."
"Mwu!"
Dia benar benar masih marah....
Aku kemudian menusukkan jari telunjuk ku ke pipinya yang menggembung.
"Hmph!"
Tetap tidak berhasil ya... Kalau begitu dengan ini bagaimana!?
Aku berdiri dari tempat dudukku dan mendekat ke arah Zena.
"??"
Dengan perlahan aku mencium dahinya lalu dengan cepat melepaskannya.
"!?"
Seketika dia menjadi malu. Dia menutupi dahinya yang telah aku cium. Pipinya yang menggembung telah kembali. Marah telah diatasi.
Haha, sudah kuduga, reaksi itu... Mau dilihat bagaimanapun itu imut!!
"Itu kecupan selamat pagi sebagai permintaan maaf."
"Kalau boleh, aku ingin di bibirku..."
Geh!? Dia menambah rintangannya!!"
"Mau bagaimana lagi, akan aku lakukan!"
Dia kemudian menutup matanya. Uh...
Aku dengan jantung yang berdebar mendekatkan bibirku dan akhirnya menyentuhnya. Dia dengan liar membuka bibirnya dan lidahnya menyerang lidahku.
"!?"
Dia kemudian menahannya dengan tangannya yang memegang daguku. Setelah beberapa detik dia melepaskannya. Air liurku dan air liurnya telah menjadi satu.
"Terima kasih makanannya...."
Ucapnya sambil sedikit malu. Sejak kapan dia belajar itu!?
"A-ah..."
Aku menjadi sedikit malu akan itu. Aku kemudian duduk kembali. Selang beberapa waktu Ayah keluar menggunakan pakaian kerjanya. Pakaian petani. Baju lusuh dan membawa cangkul di bahunya, handuk kecil di letakkannya di dekat leher. Dia sangat bahagia.....
"Oh, sudah berbaikan ya? Haha, baguslah. Kalau begitu ayah berangkat!"
Dia kemudian keluar dari rumah dan semakin menjauh.
"Ah... Sepertinya kita tidak mempunyai pekerjaan....."
Ucapku.
"Mungkin kita akan membatu ibu..?"
Membantu pekerjaan rumah tangga ya...
"Boleh juga, kalau begitu, ayo!"
Dengan segera aku menarik tangannya, suasana canggung menghilang untuk sementara.
__ADS_1
Continue....