![Re [Life] : Incarnation](https://asset.asean.biz.id/re--life----incarnation.webp)
"Pasukan makhluk iblis telah datang!"
Atau itulah yang dikatakan papa. Aku tidak tahu tapi aku menjelaskannya dengan singkat.
"Pasukan jahat datang~?"
Ucapku kepada perempuan itu. Rambutnya hijau... Sangat indah... Seperti rambut mama tetapi rambut hijau itu unik ya...?
Aku tidak mengerti apa yang mereka bahas, tetapi semuanya terlihat ketakutan. Untuk beberapa saat aku tertarik dengan sebuah peta. Uwah.... Aku sama sekali tidak mengerti cara membacanya....
Aku terus memandangi peta itu hingga perempuan itu menyentuhku dan berkata bahwa aku ini imut. Mama yang setuju dengan itu lalu mengelus kepalaku dengan bangga. Aku imut!
Untuk beberapa saat Kami sudah berpindah, dan aku melihat papa berlatih pedang. Dengan 2 pedang sekaligus itu sangat keren!
"Kekuatan sihir?"
Aku mengucapkannya karena tidak sengaja merasakannya. Karena ucapanku kak Yuni menjadi terkejut dan berkata hal-hal yang sulit aku mengerti. Itu juga membuat papa dan mama cemas. Ada apa sih?
Setelah sedikit membicarakannya, papa dan mama segera berangkat. Kak Yuni mengelus kepalaku dengan lembut lalu berkata.
"Mereka sangat serasi..."
Saat papa dan mama telah menjauh. Benarkan... Aku juga sering berpikir begitu.
__ADS_1
Sesekali aku bermain bersamanya, dia sangat baik kepadaku. Aku hanya ingin memastikan tetapi, entah kenapa perasaanku sedikit merasa tidak enak. Beberapa jam setelah kami bermain. Dia mengajakku kembali ke tenda untuk beristirahat.
"Meli, kita kembali ke tenda, yuk."
Lalu menarik tanganku. Aku hanya mengangguk menjawabnya lalu mengikuti tangannya yang menarikku.
Ketika kami berdua sampai di dalam tenda. Suara semuanya terdengar dan menjadi panik. Orang-orang berlarian di luar tenda. Merasa curiga Kak Yuni mengintip. Aku tidak tahu apa yang terjadi.
"Meli, tetaplah di sini, ok?"
Seolah dia ingin melakukan sesuatu saat suasana genting.
"Kak Yuni ingin kemana?"
Aku kemudian mencegahnya dengan bertanya. Seharusnya cukup untuk mengulur waktu hingga papa dan mama tiba.
Jawaban yang tidak bisa aku tolak. Aku kebingungan menjawabnya lalu dia melanjutkan kata-katanya
"Meli tetap di sini dan tutup kedua mata dan telingamu dengan rapat, ok?"
Aku mengangguk dengan ragu lalu menurutinya. Dia keluar. Aku mendengar sedikit teriakan yang kencang dari luar. Aku tidak tahu harus bagaimana.
Beberapa menit setelahnya, suasana menjadi hening. Di mataku yang tertutup terlihat bereaksi ketika cahaya masuk. Lalu terdengar bunyi orang terjatuh.
__ADS_1
*Brukk!!
Aku segera membuka mataku. Darah telah mengalir deras dan menjadi genangan. Ah... Aku tidak ingin ini terjadi...
Aku kemudian duduk di sebelahnya sambil menggenggam tangannya. Dingin... Wajahnya telah berubah menjadi pucat.
Aku duduk dengan lutut sebagai tumpuan. Lalu menundukkan kepalaku. Aku membiarkan air mata keluar dari kedua mataku. Ah... Orang yang berharga... 1 lagi menghilang... Akankah papa dan mama begini.... Aku muak dengan kenyataan.
Dari hatiku yang terdalam aku ingin menjadi lebih kuat. Andai saja kenyataan ini adalah ilusi, aku terus memikirkannya berjam-jam. Terlihat di sebelah Kak Yuni terdapat mayat tanpa kepala tergeletak dengan posisi tengkurap.
Darah yang mengalir sudah berhenti, tetapi genangan masih ada. Apa yang harus aku lakukan. Aku tidak bisa menggerakkan tubuhku... Hatiku sedang berduka... Aku tidak mengijinkan Kak Yuni pergi begitu saja.
Semuanya sia-sia karena aku yang lemah. Seandainya aku mengetahui sedikit sihir penyembuh maka, mungkin aku bisa...
Beberapa jam setelahnya, aku mendengar beberapa warga menangis. Ah... mungkinkah kak Yuni berusaha mengurangi korban...?
Tidak adil aku juga ingin mebantu loh... Kenapa kak Yuni menanggung semua bebannya?
Beberapa menit setelahnya, papa dan mama kembali. Ah... Aku takut...
Aku mengungkapkan isi hatiku dan segera memeluk mama yang sedang melemah. Aku tidak memikirkan situasinya. Ah... Papa juga sedikit sedih...
Satu hari setelah kematiannya, kami kembali berjalan bersama para prajurit. Sera mendekat dan menghiburku, tapi itu tidak membuatku senang. Karena mendengarnya, Kak Yu memarahinya.
__ADS_1
Karena melihat itu Kak Nina mendekat dan kembali menghiburku. Dia mengatakan bahwa aku harus tetap tersenyum seperti biasa. Entah kenapa kata-katanya itu tersampaikan dan ketika aku menepuk pipiku yang merah karena dicubitnya. Aku melihat bayangan Kak Yuni di sampingnya. Ah... Jadi kak Yuni sendiri yang menyuruhnya... Begitulah pikirku. Aku akhirnya sedikit lebih ceria dibandingkan sebelumnya.
Continue....