Re [Life] : Incarnation

Re [Life] : Incarnation
Rawa Kematian


__ADS_3

Tengah makan siang seperti orang primitif dan tanpa memakai garam. Kami mendengar beberapa semak bergerak tanpa angin berhembus sedikit pun. Dengan sedikit waspada kami berhenti memakan. Zena segera meletakkan dagingnya ke sebuah daun sebagai alas dan segera memegang gagang rapier yang terikat di pinggangnya.


Aku berdiri dan sedikit membungkuk dengan tangan menggenggam pedang dari punggungku. Satu-satunya pedang yang kubawa saat ini hanyalah [Kehampaan].


"....."


Kami berdua terdiam sambil waspada. Beberapa saat kemudian Sebuah tangan tengkorak keluar dari semak.


"...Undead..."


Gumam Zena yang tengah mengawasi sisi lain dari semak di depannya.


"Hyat!"


Dengan cepat dia datang dan menusuk skeleton yang tengah berjalan keluar dari semak itu.


*Crack!


Dengan sekejap tulang ubun-ubunnya hancur dengan lubang bekas tusukan rapier milik Zena. Namun, beberapa saat kemudian Skeleton tersebut terbangun kembali dan berjalan dengan lubang yang masih berbekas di ubun-ubunnya.


"...."


Zena dengan wajah datar melihat skeleton itu bangkit kembali.


Kemudian satu lagi muncul di depanku. Dengan cepat aku membelah kepalanya menjadi dua dan hancur berkeping keping.


"Hancurkan mereka hingga berkeping-keping maka mereka tidak akan bangkit lagi."


Ucapku sambil melihat tulang-tulang yang berserakan akibat tebasan tadi yang membelah skeleton yang baru bangkit tadi. Zena hanya mengangguk dan mempraktekannya dengan menusukkan rapiernya beberapa kali hingga hancur berkeping-keping.


Ketika itu juga beberapa dari skeleton lainnya keluar dari tanah. Sekitar 3 dari mereka.


"Hm.. Sepertinya muncul lagi..."


Dengan segera sebelum mereka keluar dari tanah, aku menghancurkan 2 dari mereka dan Zena sisanya. Kembali hancur berkeping-keping Tetapi kembali muncul menjadi 10 dari mereka.


"...."


Walaupun lemah mereka sangat merepotkan. Ketika salah satu dari mereka hancur maka skeleton yang lainnya akan muncul dengan jumlah yag lebih banyak. Dengan begini mereka akan terus bertambah banyak semakin dihancurkannya mereka.


"Ini neraka.."


Ucap Zena yang mulai kesal.


Sepertinya moodnya rusak ketika dia berhasil menghancurkannya tetapi kemudian muncul lebih banyak lagi. 'Jika terus seperti ini, bagaimana cara menghabisi mereka..?' Pikirku dalam benak.


"Grahh......!"


"Graaaaaa...!"


"Grrr....!"


"Gargh....."


Beberapa suara tersebut tercampur sesaat. Suaranya mirip seperti Zombie yang pernah aku mainkan di sebuah game saat aku masih di bumi.


"Zena, Kita akan lari."


"Hm? Ada apa?"


Ucapnya membalasku.


"Aku merasa sepertinya disini banyak undead yang berkumpul."


Zena yang tengah waspada pada Skeleton yang mendekat secara perlahan pun menoleh ke arah ku. Aku yang kemudian memberi arahan untuk mundur secara perlahan segera mencari celah.


"...."


Zena terus mengulur waktu dan menghancurkan beberapa skeleton untuk membuatku berpikir.


"Ikuti aku."


Aku kemudian berjalan secara perlahan dan meninggalkan gerombolan skeleton yang terus berusaha untuk mengejar secara perlahan. Beberapa suara zonbie juga menambah kesan kengerian, walaupun mereka tidak mengetahui kami berjalan diantara mereka. Semakin dalam, hutan mulai berkabut. Penglihatan mulai terganggu dan jarak pandang semakin pendek. Aku mulai waspada dan menggenggam tangan Zena agar tidak terpisah darinya.


Walaupun ini siang, Rasanya seperti tengah malam. Bahkan kabut ini seakan telah menutupi secara keseluruhan hutan ini. Dengan sedikit lelah kami terus berjalan menelusuri hutan.

__ADS_1


"Sepertinya tidak ada jalan keluar..."


Ucapku bergumam.


Beberapa dari belakang aku nendengar suara zombie yang terus bersuara.


"Grahh...."


Tidak sengaja aku melihat tepat bertatapan wajah dengan zombie itu.


"Geh!"


Dengan cepat aku melepas peganganku dari Zena dan menebas zombie itu dengan sekali tebas.


"Huft..."


Darah dari zombie ini pasti akan menarik perhatian zombie lainnya. Dengan segera aku memasukkan pedang ke sarungnya dan kembali menggandeng Zena lalu kembali berjalan. Seolah darah busuk zombie tadi telah mengundang zombie lainnya. Ini menjadi kejar mengejar antara kami dan para zombie.


Beberapa saat kemudian, aku menemukan sebuah ujung. Dengan jurang yang dalam aku kemudian melihat seberapa dalamnya dengan mengukur gema dari batu yang terjatuh.


"....Sangat dalam..."


Ucapku singkat.


Aku kemudian mendengar teriakan para zombie yang semakin mendekat. Beberapa dari mereka terdengar seperti tulang yang bertabrakan antara tulang lainnya. Beberapa terdengar membawa zirah dan beberapa terdengar membawa greatsword yang diseret.


"Mereka semakin kuat..."


Zena yang mendengarnya dengan waspada memegang ujung rapiernya bersiap untuk menyerang.


Sementara aku kehabisan ide, aku melempar beberapa batu ke depan. Dengan prinsip menabrakkan batu itu dengan ujung seberang jurang sehingga membalikkan batu yang aku lempar.


"Oh!?"


Aku yang melihat batu itu benar benar kembali dengan cepat mengangkat Zena seperti seorang putri.


"Tung-!? Kita akan melompa-!!!??"


Sebelum menyelesaikan kata-katanya aku melompat ke seberang.


Aku mendarat dengan ringan. Kabut sudah sedikit menipis dan penihatan sedikit membaik.


"Tunggu hei!! Jantungku belum siap untuk hal tadi..!"


Zena yang masih terkejut mengamuk kepadaku.


"Ahaha maaf... Aku tadi tidak ada ide jadi..."


"Hah.... Baiklah aku maafkan.."


Sambil menggembungkan pipinya dia memalingkan mukanya.


"Hey.. Ayolah aku hanya tidak dapat menjelaskannya.."


Ucapku yang kemudian menggodanya.


"Hmph!"


"Hm... kalau begitu..."


Aku kemudian memeluknya dari belakang.


"Uhm... Baiklah! Aku tahu! Jadi berhenti menggodaku!!"


*Plak!!


.


.


.


.


"Geh..."

__ADS_1


Aku mengelus pipi kiri ku yang ditampar beberapa menit yang lalu.


"Hmph!"


Zena masih saja marah. Aku tidak dapat memperbaiki moodnya. Sementara itu, aku merasakan makhluk hidup mendekat.


"!?"


Aku segera berdiri dan bersiap dengan pedang [Kehampaan] yang hampir ku tebaskan.


"Uwoh!!"


Orang itu terjatuh ketakutan. Seluruh badannya bergetar dan sedikit mundur. Sedangkan kanut telah menghilang, suasana berganti malam menjelang pagi.


"Hm.? Maaf, apa aku menakutimu?"


Aku berkata kepada lelaki itu dan membantunya berdiri. Badannya kecil, kurus seperti kekurangan gizi, matanya sedikit merah, dan kulitnya kusut.


"Ahaha, wajar saja kalian waspada."


Dia menjawabnya sambil tertawa.


"Ahahhaa..."


Hm... Ada apa dengan orang ini? badannya aneh..


AkuTertawa canggung sambil memikirkannya. Kesan pertama adalah 'Aneh'. Tentu saja, hal yang paling aneh adalah suhunya yang bahkan tangannya sangat dingin untuk seukuran manusia. Itu sama seperti kamu mati.


Aku kemudian memberi kode kepada Zena untuk waspada. Dengan melirikkan sedikit mataku dia sudah paham.


"Apakah kalian tersesat?"


"Uhm.. Ya, kami berdua tersesat."


Ucapku.


"Kalau begitu maukah kalian ikut ke desaku? Aku akan memberikan beberapa makanan."


Ucapnya.


"Ah! Kami sangat terbantu!"


Ucapku seolah membutuhkannya. Zena hanya mengangguk pelan. Seperti yang diharapkan dari elf. Dia tidak banyak bicara ketika sesuatu yang asing di dekatnya.


Kemudian kami berjalan bersama pria itu. Sebelumnya matahari hampir terlihat. Namun, Matahari kembali tertutup oleh lereng gunung yang tinggi. Terlihat desa yang nampak hampir tidak ada aktifitas. Ini semakin aneh.


"Apakah desanya ada di sana?"


"Ya."


Pria itu hanya menjawabnya dengan singkat. Monster tidak mendekat. Ini menambah keanehan tersebut. Sebelumnya akan ada beberapa monster undead di seberang. Kali ini benar benar damai. Bahkan kicauan burung menghilang. Hanya ada beberapa tanaman dan tanah yang tandus.


Beberapa saat kami mendekat dan masuk ke desa tersebut. Beberapa tatapan menusuk membuat bulu kuduk berdiri. beberapa menatap dengan penuh hawa membunuh. Aku tidak mengerti tapi aku harus waspada.


"Nah, disini tempatnya. Kebetulan aku kepala desanya jadi panggil aku jika ada apa-apa."


"Aku nengerti."


Jawabku.


"Kalau begitu nikmati harimu, aku akan pulang."


Sambil melambaikan tangannya dia menjauh dari kami. Untuk saat ini kami dapat beristirahat walaupun harus tetap waspada. Suasana tenang ini bjsa saja perangkap mereka. Aku kemudian masuk dan menutup rapat semuanya termasuk jendela.


"Hah...."


Aku kemudian duduk lega di sebuah kasur usang sambil menghembuskan nafasku. Aku taruh pedangku dekat sebuah lemari usang. Zena kemudian mengambil kursi dan duduk berhadapan danganku.


"Desa ini terlalu sepi."


Ucapnya.


"Ya, aku juga merasa ini aneh tapi setidaknya saat ini kita dapat beristirahat..." Ucapku yang kemudian menutup mataku perlahan....


Continue...

__ADS_1


__ADS_2