Re [Life] : Incarnation

Re [Life] : Incarnation
Seorang Elf yang Menjadi Buronan Bangsawan


__ADS_3

Setelah berbicara dengan resepsionis guild., kami semua segera keluar dari guild. Aku juga telah mendaftar menjadi petualang. Rank ku saat ini adalah yang paling rendah.


"U... Aku takut..."


"Apa boleh buat, kan? Lagipula kamu juga tidak salah."


"Ah.. Terima kasih... Kamu baik ya? Luke."


"Aku hanya menyebutkan kebenarannya."


Walaupun aku berusaha menyembunyikan rasa maluku, sepertinya dia sudah tahu.


"Ngomong-ngomong, sampai kapan aku harus menyamar?"


"Hm.."


"Aku tidak tahan ingin melawan mereka.. Aku sangat benci dengan mereka!"


Dia mengucapkannya dengan kesal.


"Kalau begitu, sebelum sore datang ayo kita cari toko senjata. Senjatamu rusak bukan?"


"Ah.. Benar! Aku harus membeli yang baru!"


Dan akhirnya kami berdua berjalan menuju toko senjata.


...****************...


*Ceklek *Kring *kring


Sebuah bell berbunyi karena pintu yang terbuka. Terdapat banyak peralatan di seluruh ruangan.


"Selamat datang di toko kami, apakah ada yang bisa saya bantu?"


"Aku ingin membeli senjata baru."


"Kalau begitu silahkan lihat-lihat."


Zena dengan segera menjawabnya dan kemudian segera melihat senjata jenis lance. Sedangkan aku menemaninya memilih senjata.


"Menurutmu mana yang lebih bagus?"


"Hm... mungkin yang sedikit pendek ini? Atau yang tipis ini?"


Sambil menunjuknya dengan satu tangan.


Mungkin dari pandangan orang lain, kami seperti sepasang kekasih yang sedang berkencan. Tapi tidak bagi kami berdua, ini seperti persiapan pemberontakan kepada bangsawan.


"Kalau begitu aku pilih yang tipis ini."


"Hm.."


"Kalau begitu aku pilih yang ini paman, berapa harganya paman?"


"Oh, jadi kamu pengguna pedang tipis? hm... Harganya 2 koin silver 1 koin bronze."


"Uhm... Ini."


Zena menyerahkan uang sesuai dengan ucapan paman itu.


"Terima kasih, silahkan datang kembali ya."


*Kring *Kring


Bell berbunyi setelah kami membuka pintu untuk keluar. Mantra penyamar itu hanya bertahan selama 1 hari, jadi besok dia akan berubah menjadi elf kembali.


"Ah... Aku lelah, aku ingin segera istirahat.."


"Apa kamu tidak lapar?"


"Uh... Perutku berbunyi..."


"Kalau begitu kita akan kembali ke penginapan sebentar."


Di sore yang indah ini kami berdua berjalan dengan bergandengan tangan melewati gang, hingga sampai ke penginapan.


...****************...


Kami telah masuk ke dalam Kamar, dan aku segera menenggelamkan tubuhku kembali ke ranjang yang sedikit keras.


"Ah... Surga dunia..."


"Huh... Kamu ini memang suka sekali ya membaringkan tubuhmu."


"Karena sifatku ini aku jadi seperti ini..."

__ADS_1


"Apakah sifatmu menjadikanmu pemalas?"


"Mungkin bisa dibilang sedikit pemalas."


"Itu sama saja!"


"Itu berbeda kamu tahu! Aku hanya sedikit, dan tidak sepenuhnya pemalas!"


"Terserah kamu, aku tetap menganggap itu sifat pemalas."


"Huh..."


Aku menghela nafasku karena lelah memikirkan sebuah pembelaan.


"Ahahah..."


"Hm? apanya yang lucu?"


"Ahahha, tidak, kamu ini memang orang yang unik ya?"


"Hm? Entahlah.."


Aku menjawabnya dengan nada sedikit malas.


Sebenarnya setelah sekian lama aku berada di dunia ini, sifatku sedikit berubah.


"Kalau begitu, ayo kita segera cari makanan. aku lapar..."


"Hm.. oke."


Aku segera beranjak bangun dari ranjang, dan kemudian berjalan keluar bersama Zena yang masih menyamar.


Setelah keluar dari penginapan, seperti biasa, Suasana malam ini sangat tenang walau lumayan ramai.ada beberapa penjaga yang berpatroli di sekitar area. Mereka memakai armor lengkap dengan pedang di pinggang mereka.


"Apa ada yang salah?"


"Tidak.. tidak apa."


Zena yang penasaran dengan apa yang aku lihat bertanya dengan melihat wajahku.


Sepertinya akan ada masalah nanti...


"Ahaha! Oi! Aku pesan 2 Alkohol!"


Kami memasuki bar yang begitu ramai. Banyak suara yang berteriak. Entah itu yang memesan makanan, yang mabuk, ataupun yang hanya membeli teh.


Aku menghiraukannya dan langsung memilih tempat duduk untuk 2 orang. Dengan meja di dekat Jendela.


"Dua air putih, dan dua porsi Guarch!"


"Baik! Tunggu di sana!"


Pemilik bar terlihat kewalahan mengurus banyaknya orang. Tetapi sepertinya dia sudah terbiasa dengan suasana ricuh itu, jadi dia tidak terlalu memikirkannya.


Guarch adalah hidangan dengan daging monster, sayuran hijau, dan diberi Kentang. Hidangan itu sangat terkenal di antara petualang.


"Ah... Disini sangat ramai ya.."


"Begitulah."


Aku menjawabnya dengan menyandarkan kepalaku di atas meja.


"Apakah kamu sudah mulai mengantuk?"


"Aku tidak tahan dengan suasana yang ramai."


"Oh.."


Dia terkejut dengan jawabanku. Aku lemah terhadap keramaian, dan aku sangat suka ketenangan.


"..."


Dia terdiam Sementara dan melihat sekeliling. Sihir penyamaran masih aktif hingga sekarang.


Sang pemilik bar mendekat membawa 2 Piring dan 2 gelas kayu berisi air putih menggunakan nampan.


"Silahkan dinikmati, maafkan aku jika bar ini terlalu ramai."


Dia mengucapkannya seolah dia memang terbiasa dengan tempat yang berisik dan ramai.


"Tidak masalah."


"Terima kasih."


Sambil mengucapkannya, kami berdua mengambilnya.

__ADS_1


"Kalau begitu selamat makan."


Zena melipat tangannya lalu sedikit memejamkan matanya. Aku meniru gerakannya lalu segera memakannya.


Sangat lezat, ini adalah daging chimera. Chimera adalah monster yang berada di dalam WWO. Ciri fisiknya adalah kepala singa, disambung badan harimau, kaki elang, dan ekornya ular. Hewan ini sangat sangat sulit untuk dilawan, jadi harganya agak mahal.


"Hm.. Enak!"


Setelah menelannya dia mengucapkannya dengan nada senang. Beberapa saat setelah itu, dua orang prajurit yang sedang berpatroli masuk. Armor lengkap dengan pedang di pinggang mereka tampak berat.


"Semuanya! Aku memiliki informasi! Belum lama ini ada seorang wanita elf yang menodongkan pedangnya kepada Kurt! Dia adalah anak bangsawan! Dan sekarang ini dia memerintahkan kami untuk memberitahukan warga! Kata Orang tua Kurt, dia bernama Zena! Jika kalian menemukannya harap serahkan kepada penjaga kota! Kami akan memberikan hadiah 10 koin emas!"


Seluruh suara dengan cepat menjadi tenang akibat teriakan itu. Zena yang tengah makan dengan suasana hati senang terhenti dan tersentak mendengarnya. Wajahnya menjadi sedih seketika.


Tidak lama kemudian para petualang dan orang orang di bar tersebut menjadi berisik lagi. Seperti tidak mendengar apa yang terjadi.


"Tentu saja! Kalian tidak berhak menolaknya!"


Prajurit itu berteriak kembali. Setelah itu suasana menjadi tenang kembali. Zena tampak gemetar karena ucapan itu. Entah dia marah atau menahan tangisnya aju tidak terlalu mengerti. Tetapi dia jelas menyembunyikan ekspresi terkejutnya sedalam-dalamnya.


"Woi, siapa yang ingin menyerahkan wanita cantik itu kepada bangsawan penggila **** itu!"


Ucap salah seorang petualang yang tengah selesai meminumnya dengan santai.


"Jadi kamu sudah menentang kami!?"


"Itu bukan urusanmu! Itu adalah hak setiap orang untuk hidup! tidak ada hubungannya dengan jabatan! Kalian tidak berhak mengatur Kehidupan kami!"


Ucap petualang itu dengan nada kesal.


Tampaknya dibalik semua kedamaian ini, seluruh masyarakat menyembunyikan fakta bahwa Kurt putra dari Broyce yang merupakan bangsawan kota adalah penggila ****. Dan ayahnya sendiri malah membiarkan anaknya bertindak seenaknya karena merasa tidak akan ada yang menentangnya.


Selama ini rakyat kota ini menderita dan hanya bisa pasrah terhadap itu. Maka dari itu Ibukota mengirimkan mata-mata ke kota Yuma ini.


"Ya! Itu benar! Kami tidak akan menyerahkannya!"


Seketika setelah ucapan petualang itu berhenti, seluruh bar menjadi sangat ricuh. Sang pemilik bar kewalahan dengan suasana ini.


"Kalian! Berarti kalian mengkhianati kota ini sendiri!?"


Sang prajurit mengangkat pedangnya dan mengacungkannya kepada para petualang dan pemabuk di bar itu.


"Hah!? Kalian kira kami ini ingin membiarkannya!? Tentu saja tidak!"


"Ya itu benar!"


Suasana makin memanas. Sang pemilik bar semakin marah mendengar seluruh pelanggannya dihasut.


Para petualang sudah menyiapkan pedangnya untuk bertarung, para pemabuk juga bersedia.


"Jika kalian ingin bertarung, maka bertarung lah di luar bar ku! Kalian akan mengotori bar ku!"


Amarah telah terlepas dari mulut pemilik bar.


"Aku tidak peduli urusan kalian semua! Jika ingin bertarung maka keluarlah! Jika kalian masih ingin berada di sini maka tenanglah! Kalian berdua para prajurit! Jangan pernah hasut para pelanggan ku!"


"Tcih!..."


Amarah sang pemilik bar sudah meluap-luap sekarang ini. Dua prajurit itu kesal lalu medecakkan lidahnya.


"Kalau kalian ingin selamat maka turuti saja quest ini."


Para petualang dan pemabuk tidak menjawabnya. Namun aku sudah tidak tahan lagi. Aku segera mendobrak mejaku.


*Brak!!


Semua terkejut tidak terkecuali Zena yang berada di hadapanku.


"Kalian berdua.. Jika kalian memang berniat melawanku sebaiknya persiapkan dirimu! Jangan pernah menyebut nama bangsawan penggila **** itu lagi! Apa gunanya menghormati perlakuan buruknya kepada rakyatnya!?"


"..."


Semua terdiam mendengar ucapan ku yang dingin dengan hawa membunuh yang luar biasa.


Dia terlihat menelan ludahnya lalu dengan kaku berbalik. Tidak lama kemudian dia telah menjauh dari bar.


Aku segera duduk lagi dengan tenang dan memakan makanan sisa ku tadi.


"Uhm... Terima kasih... Kamu marah untukku kan?"


"Tidak perlu dipikirkan, lagipula itu perbuatan yang busuk."


Setelah mengucapkannya aku melanjutkan makan ku bersama Zena yang menyamar. Suasana bar menjadi sedikit tenang setelah ucapan ku tadi.


Continue...

__ADS_1


__ADS_2