![Re [Life] : Incarnation](https://asset.asean.biz.id/re--life----incarnation.webp)
[Bukan sudut pandang Luke].
Beberapa hari sebelumnya, kami mendengar rumor bahwa pasukan kekaisaran mulai invasinya di perbatasan kerajaan. Yang mulia yang mendengarnya segera memberiku perintah untuk segera menuju wilayah itu. Tepatnya di desa Halm.
"Haa... Tidak bisakah kekaisaran berhenti menginvasi? Aku lelah dengan semua ini..."
Ucap seorang prajurit yang tengah makan bersama dengan prajurit lainnya. saat ini kami sedang berada di kantin. Rencana kami akan memulai perjalanan kami besok. Aku dengar dari Wakil Alberd dia akan memimpin sementara ketua akan menyusul...
"Sepertinya kita akan bertarung..."
Beberapa prajurit mengeluh, namun beberapa saat kemudian.
"Hey!! Mari kita taruhan! Apa kita bisa memukul mundur pasukan kekaisaran?"
Seorang prajurit memberikan usulan yang membuat semangat prajurit lainnya kembali membara.
"Oh!! Aku memasang 12 bronze! Untuk kerajaan!"
"Hmph! Aku akan memasang 2 silver! Untuk kekaisaran!"
Beberapa prajurit dengan semangat memberikan bagian mereka.
"Oh! Bagi yang menang taruhan maka uangnya akan dibagi rata!"
Sang pengusul memberikan beberapa peraturan baru. Suasana kantin menjadi ricuh. Beberapa prajurit berteriak sambil memasang taruhan mereka sendiri.
.
.
.
.
Hari selanjutnya pun tiba, sekarang saatnya para prajurit berangkat untuk memukul mundur prajurit kekaisaran. Mereka tampak tenang tanpa takut dihadapkan kematian. Rasa patriot yang besar diimbangi dengan semangat yang membara. Berjalan dengan rakyat yang melihat mereka berjalan layaknya sebuah parade.
Derap langkah yang seiras dan armor yang berat, panas yang menyengat kulit, ditambah keheningan para rakyat seolah berharap. Ketika barisan prajurit sampai di luar gerbang, mereka segera berbaris. Jumlahnya dibagi menjadi 5 batalyon. 1 batalyon terdiri dari 2-6 kompi, yang 1kompinya terdiri dari 100 orang. Mereka semuanya berjumlah kurang lebih 7000 pasukan dengan pasukan pemanah sekitar 1000 orang dan 4800 infanteri dan 1200 sisanya membawa catapult sebagai unit penggempur jika kekaisaran tidak bisa dipukul mundur.
Perjalanan dimulai dari ibukota dan akan sampai ke desa halm pada hari ke-12. Sementara perjalanan kami akan beristirahat pada malam hari. Itu menguras banyak tenaga kami jadi ketika kami sampai, kami harus dengan segera memukul mundur pasukan kekaisaran. Tanpa istirahat, Tanpa memikirkan apapun. Ketika pasukan terpukul mundur, kami akan membuat kemah dan beristirahat selama tidak ada serangan mendadak dari kekaisaran.
__ADS_1
Ketika itu juga, pasukan kekaisaran yang sedang bersantai terkejut dengan kedatangan kami dan langsung menyerang. Kami menerima kurang lebih 200 korban jiwa pada infateri, dan pasukan kekaisaran berhasil dimundurkan.
"Segera buat perkemahan! Kita akan beristirahat disini! Segera buat api unggun untuk memasak!"
Dengan perintah Wakil Alberd, kami mendirikan tenda dan segera melaksanakan tugas. Selang 1 hari setelah semua itu, Ketua datang dengan kuda.
Dia segera masuk ke tenda dan mengerjakan beberapa dokumen. Lagi-lagi prajurti sibuk dengan latihan. Tak selang beberapa hari, 2 orang petualang muncul. Mereka meminta untuk dipertemukan dengan Ketua, jadi salah satu dari prajurit bertanya apa tujuannya.
Beberapa prajurit terkejut oleh petualang elf yang bersamanya, rambut panjang dan biru, dengan rapier di pinggangnya yang ramping, dengan dadabyang tidak terlalu besar. Bibir tipis, dan telinga khasnya.
"Perfect...."
"Semangatku terisi!"
Beberapa juga bersorak "Uoh!!!" dan dnegan segwra melanjutkan berlatih dengan semangat yang kembali membara. Dengan sedikit ragu, prajurit itu mengantar mereka. Mereka samlai namun sang ketua tampaknya keras kepala.
*Sigh...
Sang prajurit kesal terhadap sikap ketua, dia terus memaksa namun ketua tidak segera memberi jawaban pasti. Selang beberapa saat, wakil ketua (Alberd), datang dan mengatakan akan membujuk. Dan selang beberapa saat, dia berhasil. Si prajurit diberi tugas kembali, dengan jawaban "Baik pak!" dan berbalik menuju pelatihan.
Puing-puing yang sebelumnya mengganggu telah disingkirkan ketika membuat perkemahan di tempat itu.hanya tersisa beberapa pondasi rumah yang setengah rubuh.
"Jadi, apa yang ingin kalian jelaskan??"
Ucapnya tanpa melirik ke arah pemuda itu. Walaupun begitu, ketua tetap berpikir 'hanya petualang ya...?'
Dengan pemikiran remeh dia berkata dalam benaknya. Dengan sopan si petualang memperkenalkan bahwa dirinya bernama Luke, dan wanita di samlingnya bernama Zena. Dia menjelaskan beberapa masalah dari awal hingga akhir.
Walaupun dijelaskan secara panjang lebar pemikiran ketua adalah 'huft... aku akan senang jika itu bantuan militer....' tanpa memikirkan hati seseorang.Sang wakil (Alberd) yang mendengar bahwa petualang itu tidak ingin berkontribusi sedikit terprovokasi, tetapi sang ketua mencegahnya dan memberi pertanyaan.
"Alasanya?"
Dan kemudian sang petualang beralasan, sedikit masuk diakal. Sang kapten mengerti dan menyetujuinya. 'kupikir tidak masalah, toh petualang hanya memikirkan dirknya sendiri' ucapnya dalam benaknya sambil menlanjutkan dokumennya. Begitupun petualang itu berterima kasih dengan sopan dan keluar.
Ketika sang petualang telah jauh dari tenda, sang wakil ketua (Alberd) membantah ucapan Ketua.
"Ketua! Ada apa dengan sikapnya! Setidaknya mereka berkorban demi kerajaan!"
Atau beberapa terkait rasa patriotisme yang dimiliki petualang itu. Memang ketika dilihat dari 1 sudut pandang maka akan seperti itu. Namun ketua dengan pemikiran bijaknya berkata.
__ADS_1
"Memang begitulah kenyataan. Hidup bukan berarti kita harus rela mengorbankan sesuatu. Terkadang hidup juga memerlukan pelarian. Ketika tidak ada lagi yang bisa diandalkan, apakah kamu akan terus mengorbankan sesuatu?"
Dan kemudian sang wakil menjawab.
"Ada pepatah mengatakan 'usaha tidak menghkianati hasil'!"
Dan sang ketua kembali memberi pertanyaan.
"Umpama kamu berada di posisi dia, ketika hanya ada 2 pilihan, pilihan pertama kamu harus berkorban, dan pilihan kedua lari. Mana yang akan kamu pilih? Pilihan pertama memang bagus, tetapi ketika kamu berkorban dia tidak akan kembali dan berjuang untuk selanjutnya bukan? Walaupun 1 dari 1000 kemungkinan dia akan lolos dari kematian, tetapi ketika takdir berkata lain apa yang harus dia lakukan selain lari? Dia akan melawan pasukan kekaisaran sendirian dan mati sia-sia?"
Sang wakil terdiam.
"Setidaknya pikirkan mengenai keadaannya. Aku berbicara demikian karena aku mengerti situasinya, dia juga kehilangan orang tuanya. Jika dia kehilangan istri dan anaknya, apa yang akan dia lakukan? Terus berperang? Balas dendam? Atau mungkin rute terburuknya, dia akan mengamuk dan menjadi musuh antara kekaisaran dan kerajaan. Apa itu yang terbaik?"
"...."
"Huft... Dengan begini setidaknya dia sedikit berguna karena dia rela membujuk para warga. Dan kita tidak perlu memaksanya bertarung. Ah, Ngomong-ngomong, panggilkan aku seorang prajurit."
"Baik pak."
Dengan sedikit ragu dia kemudian keluar dari tenda dan memanggil prajurit lainnya melalui 2 penjaga tenda yang berdiri di luar. Dia kemudian kembali masuk dan berdiri di belakang ketua yang masih saja dihadapkan oleh dokumen.
"Prajurit Henry, Hadir!"
Dengan hormat dia berteriak.
"Sampaikan ini kepada yang mulia. Lalu bilang kepada yang mulia untuk menyiapkan beberapa perkemahan untuk pengungsian warga Halm."
Sambil menyerahkan gulungan yang di stampel kepada prajurit henry.
"Siap laksanakan!"
Dan kemudian surat pun dikirim. Dia kemudian mengambil kuda atas ijin ketua dan pergi menuju ibukota.
"Dengan begini akhirnya sedikit sentuhan akhir..."
Sang ketua yang meregangkan tubuhnya kemudian meminum teh panas yang berada di sebelah tumpukan dokumen.
Continue....
__ADS_1