Re [Life] : Incarnation

Re [Life] : Incarnation
Perjalanan Kembali dan guild yang kacau


__ADS_3

Setelah mencoba sihir itu, tanpa disadari matahari telah hampir muncul. Aku segera melepaskan kelinci bertanduk itu dan segera membereskan kerikil yang berceceran.


"Uahm..... Pagi Luke..."


Zena mendekatiku sambil menguap. Rambutnya berantakan, dia duduk di sebelahku lalu kepalanya menyandar pada bahuku.


"Ah, pagi, ada apa?"


"Aku masih mengantuk... Ijinkan aku tidur di bahu mu..."


Dia mengucapkannya dengan nada yang malas. Dia kemudian memeluk tangan kiri ku sambil mengusap-usapkan Kepalanya sendiri.


"....."


Aku hanya diam saat melihat tingkahnya. Yah, lucu dan imut sih.


"Uhm... Zena, kita sedang tidak di rumah, jadi bisakah kamu berhenti?"


"Ah!"


Dia kemudian sedikit menjauh. Matanya telah terbuka lebar dan kini dia sedikit malu.


"Aku lupa kita sedang di perjalanan...."


"Tidak perlu sedih, silahkan lanjutkan di rumah, oke?"


Aku terpaksa memberikan janji karena dia sudah sedih.


"Kalau begitu, aku akan buat sarapan..."


Dia kemudian mengambil sebuah kantung dari kereta. Sebuah panci yang lumayan besar dan sebuah pengaduk.


"Hm? Apa itu yang berada di kantung itu?"


"Oh, ini sayuran yang diambil oleh paman Kai. Aku sangat berterima kasih padanya..."


Dia kemudian dengan senang hati meletakkan panci itu dan mengisinya dengan air. Dia lalu mengambil beberapa kayu bakar dari kereta dan menaruhnya di bekas api unggun. Dia menghidupkan apinya dengan sihir api, lalu menaruh panci di atas api unggun dengan kayu di atasnya sebagai penggantung.


Dia mulai memasak dengan baik layaknya ibu rumah tangga. Beberapa bumbu juga telah di siapkan seperti garam dan gula. Zena mencampurkannya dnegan baik sehingga bau wangi masakan tercium. Bakat memasaknya sangat hebat.


"Oh! Baunya sangat wangi..."


"Ahaha... Begitulah. Mau mencobanya?"


"Baiklah, aku akan menjadi yang pertama."


Aku mencicipi sup itu dengan hati-hati. Meniupnya dengan perlahan lalu memasukkannya ke mulutku.


"Hm!! Ini enak!"


Sambil mengacungkan ibu jariku.


"Senangnya..."


Dia tersenyum melihat reaksiku.


"Uahm..."


Seseorang menguap lalu turun dari tempat kusir.


"Oh, kalian berdua sudah bangun ya?"


Sambungnya yang selesai menguap.


"Ya, Kami berdua sedang mencicipi sarapan kali ini."


"Wah, Sup kah?"

__ADS_1


Sambil berkata begitu, dia mengambil sebuah mangkuk lalu menuangkannya ke dalamnya. Karena masih panas, asap putih terlihat keluar dari sup. Dia lalu segera memakannya lalu meminum kuahnya.


*Slurpppp.


Suara yang menyegarkan terdengar dari suara itu. Sudah kuduga ini pasti disukai oleh paman, ucapku dalam hati.


Tidak lama setelah itu, Meli terbangun lalu juga ikut memakannya. Nafsu makan paman Kai meningkat hingga menghabiskan 5 kali makan. Kami pun akhirnya berencana kembali ke kota Yuma untuk melaporkan kejadian itu. Jaraknya tidak jauh karena ini berada di tengah tengah perjalanan antara desa itu dengan kota Yuma.


Dalam perjalanan tidak terlihat seorang pun bandit mencegat. Sepertinya mereka tidak ingin mendekat karena mengetahui naga menyerang daerah sekitar desa itu.


...****************...


Oh, sudah terlihat gerbangnya. Terlihat besar seperti biasa. Dinding batu yang besar menghadang kontak mata untuk melihat dalam kota.


"Akhirnya sampai juga... Aku sudah lelah..."


Aku kemudian melemaskan bahuku yang membuat tubuhku membungkuk.


"Papa, Uhm... Meli ingin pulang ke rumah."


Dia mengucapkannya sambil duduk di pangkuan Zena.


"Ah, nanti kita akan pulang kok."


Zena menjawabnya menggantikan aku sambil mengelus kepalanya.


"Yey!! Mama, nanti ketika kita sampai di rumah, bisakah mama dan Meli membuat Kue?"


"Bisa kok, tapi kenapa?"


"Dulu itu, ibu suka membuat kue saat ayah pulang dari kerjanya."


Ah, ingatan masa lalu.


"Kalau begitu kita buat yang enak juga buat papa."


"Ah, paman, bisakah turunkan kami di luar gerbang?"


"Aku sih tidak masalah tapi, tidak apa-apa kah jika membayar sendiri?"


"Tidak masalah, lagipula aku juga memiliki sisa sedikit."


"Baiklah."


Paman Kai menghentikan kudanya dan menurunkan kami. Dia segera bergegas ke dalam kota.


"Kalau begitu, hati-hati ya, Meli, papa pergi dulu ya, nanti sore papa kembali."


Ucapku kepada Mereka berdua.


"Meli aku serahkan kepadamu. Jaga dia oke?"


"Serahkan kepadaku. Ah, juga.... Salam perpisahan..."


Dia mengucapkannya dengan malu.


hm?


"Nanti di rumah saja, di sini banyak orang loh."


"Huft... Baiklah, kalau begitu aku akan pulang, ayo Meli."


Dia kemudian menggenggam tangan Meli dan berjalan menuju arah Belakang kota.


"Mereka ini..."


Aku menghela nafasku lalu berbalik menuju gerbang.

__ADS_1


Sebenarnya uang ku sebagian aku berikan kepada petualang itu sebagai hadiah quest. Walaupun mereka bilang tidak memerlukannya aku memaksanya untuk menerimanya. Karena itu uangku hanya tersisa untuk masuk ke dalam kota dan untuk makan 1 hari. Karena itu aku melaporkan naga itu, dan menyelesaikan questnya.


*Kring.. *Kring... *Kring...


Bel berbunyi ketika terbuka. Guild lebih ramai dari biasanya. Mereka juga lengkap dengan senjata mereka. Ada yang menggunakan kapak, tombak, pedang, pedang besar, pedang yang mirip milik Zena, panah, dan tongkat sihir. Ada juga beberapa yang membawa palu dan tameng.


Mereka semua tampak sedang membicarakan sesuatu dalam masing-masing party. Aku menghiraukannya dan menuju ke resepsionis.


"Ah, selamat datang kembali. Bagaimana questnya?"


"Ah, ini bukti aku telah membunuh naga itu."


Aku menyerahkan Sebuah batu sihir yang aku ambil sebelumnya dari dalam dada naga itu. Warnanya ungu gelap, batu sihir ini tidak tembus pandang dan berbentuk seperti kristal yang sudah dipoles sedemikian rupa.


"Eh!? Tidak mungkin...."


Sang resepsionis terkejut saat mengecek batu sihir itu.


"Ah, ada apa? apakah ada yang salah?"


"Tidak mungkin.... Kamu... Kamu mengalahkan Naga jahat sendirian!?"


Naga jahat? Naga angkuh itu? Apa memang segawat itu? Tapi sepertinya dia dikalahkan dengan mudah oleh petualang itu.


"Ah!"


Aku menyadari sesuatu. Mungkinkah mereka salah paham?


"Tidak, aku tidak sendirian... Aku juga dibantu beberapa petualang S-rank. Mereka sangat hebat."


Dengan canggung aku mengucapkannya.


"Eh!? S-rank!? Tidak ada S-rank yang memiliki kekuatan sebesar ini!"


Eh!? Jadi mereka itu siapa!? Kenapa semakin aneh!?


"Eh!? Tapi mereka mengaku sebagai petualang!?"


"Eh.... Ah... Apakah mereka memperlihatkan kartu guild mereka?"


"Eh? Ah... Tidak..."


"Sudah kuduga! dimana mereka sekarang!? Darimana kekuatan mereka!? Dan juga Kenapa mereka berada di hutan itu!? Itu berbahay—!?"


Seseorang membekapnya.


"Ah, mungkin akan aku beritahu detailnya."


Karena ucapan nona itu, aku mengangguk. Dia lalu menggeret nona yang dia bekap lalu mendudukkannya di kursi. Jika aku lihat mereka seperti sedang berbicara. Dia lalu kembali ke meja menggantikan nona satunya.


"Sebenarnya, pagi ini kami diberi berita oleh pasukan kota bahwa pasukan monster akan menyerang."


"Eh!? Pagi ini!?"


"Ya, diperkirakan akan sampai pada malam nanti. Itulah sebabnya kami berusaha mengumpulkan petualang di sini."


"Oh... Lalu?"


"Tentang orang yang anda temukan, bisakah jelaskan secara rinci?"


Karena nona itu pemasaran aku menceritakan semuanya. Tentang liburan mereka, nama mereka, dan rank mereka.


"Uhm... Aku tidak pernah mendengar nama itu... Biasanya akan ada kabar jika petualang itu di dekat sini..."


mereka menyimpulkan bahwa, guild antar kerajaan dan kota itu memiliki sebuah alat komunikasi yang cepat. Namanya adalah "Holy Book". Buku ini dimiliki oleh masing-masing guild master di tiap kota. Informasi yang diberikan hanyalah bantuan saat terdesak dan pemberitahuan jika seorang petualang berlibur di dekat kota lain.


Singkatnya buku itu tidak memberikan sinyal bahwa mereka benar benar petualang.

__ADS_1


Continue....


__ADS_2